Pelajar, golongan intelektual yang berada di masyarakat. Menjadi golongan terdidik dan serat dengan ilmu pengetahun. Aktivitasnya selalu berkutat dengan ilmu, guru dan buku. Harapan besar terpaut pada bahu mereka, mencerdaskan kehidupan masyarakat. Setiap golongan muda dituntut untuk menjadi golongan intelektual ini, dididik dan dibina pada lembaga pendidikan. Difokuskan masa mudanya untuk memerawang berbagai wacana dan alam, berbagai pikiran dan bidang ilmu, serta etika dan estetika. Dengan harapan lagi, muncul pujangga sejarah yang mewarnai kehidupan bangsa.

Dari sana pahamlah kita akan esensi dari seorang pelajar. Sederhananya ia adalah golongan yang fokus dengan aktivitas belajar demi mencerdaskan kehidupan masyarakatnya.

‘Belajar’, mari kita sedikit fokus pada kata belajar ini. Hari ini kebanyakan kita mendefinisikan belajar dengan ‘sekolah.’ Belajar sama dengan sekolah, dan sekolah adalah belajar. Sekolah itu adalah belajar, dan belajar itu pasti di sekolah. Jika tidak sekolah pasti tidak belajar. Begitulah kita secara tidak sadar memahami kata ‘belajar’.

Dalam petatah Minangkabau, mari kita berefleksi tentang pemahaman kata ‘belajar’, “alam takambang jadi guru.” Luas dan terbentangnya alam raya ini adalah sebagai tempat manusia belajar dan berguru. Dalam ilmu Aqidah, alam didefinisikan sebagai segala sesuatu selain Allah (pencipta). Maka selain Allah adalah alam. Tumbuhan, hewan, bintang, bulan, lautan dan manusia sendiri adalah alam. Dari semua itulah manusia bisa belajar dan mendapatkan ilmu, layaknya Qabil yang terilhami untuk menguburkan jenazah saudaranya Habil dari gagak yang berkelahi lalu mati salah satunya, dan digalilah lubang untuk menguburkan gagak yang mati. Satu contoh lagi, dari padi juga kita belajar tentang sifat tawaduk, semakin berisi semakin menunduk. Begitulah hendaknya manusia, kala dirinya berisi dengan ilmu dan potensi tak menjadikannya sombong dan tinggi melainkan rendah hati dan tawaduk, dari sanalah nampak pancaran ilmu, dan dari sanalah ketinggian ilmu terasa. Oleh sebab itu  seorang pelajar dilarang merasa sombong dan lebih tinggi daripada masyarakat yang tak belajar dan sekolah. Ini senada dengan perkataan Tan Malaka, “Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tak diberikan sama sekali.”  Tan Malaka memahami betul tugas dan sikap seorang pelajar di masyarakat, pelajar adalah orang yang pernah belajar, dan tugasnya adalah mengajarkan, jika ia merasa tinggi hati untuk turun mengajarkan ilmunya pada masyarakat maka tak ada guna kehadirannya bagi masyarakat, dan tak ada gunanya juga ia belajar, toh ia tetap tak berarti walaupun telah berilmu tinggi. Disanalah konsep padi tadi berfungsi, merunduk dan tidak congkak, masyarakatpun menikmati hasilnya.

Kembali kita kepada pemahaman tentang kata ‘belajar’, maknanya amatlah luas sekali, tak terbatas pada ruang kelas yang petak. Ia melingkupi segala sesuatu diluar diri manusia dan termasuk manusia itu sendiri. Belajar adalah aktivitas dimanapun dan kapanpun. Di ruang kelas dan di alam terbuka. Saat masih kanak-kanak hingga dewasa dan tua sekalipun. Sebelum wisuda baik setelah wisuda. Selagi nafas masih berhembus selama itulah manusia akan terus belajar.

Kini mari kita membuka lembaran sejarah, menikmati keunikan dan sekaligus merefleksikan diri pada para intelektual kita yang menjadi pujangga pada zamannya sekaligus berhasil mewanai kehidupuan masyarakat oleh dirinya, yang oleh mereka terjadi peningkatan intelektual pada tubuh masyarakat. Mereka bukanlah manusia yang belajar lalu mengutuk kebobrokan masyarakat yang awam. Mereka bukanlah manusia yang belajar lalu minder hidup dengan masyarakat karena merasa lebih tinggi derajatnya, dan mereka bukan juga manusia yang belajar lalu hanya bekumpul dengan sesama mereka dan alergi dengan masyarakat yang bodoh. Tidak, mereka adalah masyarakat intelektual yang hidup ditengah-tengah masyarakat, menyelesaikan berbagai problem kehidupan masyarakat, memimpin setiap keputusan masyarakat, dan mendidik masyarakat untuk lebih cerdas dan terlibat dalam kemajuan negeri. Mereka itu adalah orang-orang yang ikhlas dan peduli dengan kehidupan masyarakat. Mereka cerdas tapi mereka tak menuntut dibayar dari ilmu yang mereka miliki. Berbuat secara sukarela, hidup dengan kemiskinan, dan jauh dari kenyamanan. Kadang nyawa mereka menjadi taruhan dari membela kebenaran dan hak masyarakat. Posisi mereka yang tak digaji ini sangat berarti di hati masyarakat, kecerdasan dan ilmu yang dimiliki mereka sangat membantu,  tanpa mereka hak masyarakatakan ditindas oleh penguasa atau penjajah. Tanpa perlu mengangkat senjata mereka ini golongan pelajar dan intelektual sanggup menggetarkan penjajah hanya dengan akal kecerdasan yang mereka miliki. Merekalah Ir. Soekarno, Bung Hatta, Agus Salim, Syekh Hasyim Asy’ari, K.H. Ahmad Dahlan, Tuanku Imam Bonjol, Buya Hamka dan lainnya para tokoh bangsa yang telah hadir ditengah masyarakat, memprovokasi akal masyarakat, dan maju bersama-sama menegakkan kebenaran dan keadilan.

Masing-masing tokoh sejarah memiliki cara masing-masing dalam memprovokasi masyarakat. Ada Ir. Soekarno dengan suara baringtonnya menggetarkan jiwa-jiwa masyarakat yang tertindas, menjadi bangkit dan melawan penjajah. Bung Hatta dengan penanya ia mendidik masyarakat. Buya Hamka pun demikian lewat penanya ia menyadarkan masyarakat yang acap khilaf, dan lewat sikapnya yang keras ia mengajarkan kita tentang kebenaran. Dari Agus Salim kita belajar tentang kecerdikan dan akalnya yang panjang, menjadi diplomat dan utusan ke negara-negara Barat. Mereka semua berintegritas sebelum saatnya, mereka telah duduk sama rata dengan para penjajah, mereka tegak sama tinggi di forum internasional, bahkan tak jarang mendominasi dan mengejutkan forum internasional.  

Begitulah hendaknya tugas seorang pelajar di tengah masyarakat, ia adalah oase di tengah sahara yang tandus, pelipur dari kegalauan masyarakat, dan ujung tombak dari kondisi genting.  Maka sudah sadarkah kita dengan tugas kita sebagai pelajar?      

Dan marilah kita kembali merenung tentang ‘diri kita’ hari ini. Tentang pelajar-pelajar kita hari ini. Tentang anak-anak muda kita hari ini. Tentang para sarjana-sarjana kita hari ini. Dan tentang masyarakat kita hari ini. Tugas generasi baru adalah lebih bijak dari generasi pendahulunya, ia lebih bijak sebab hidup belakangan, menyaksikan masa lalu dan mempelajarinya. Maka seharusnya kita lebih baik daripada pendahulu kita. Kita pasti meridukan tokoh-tokoh diatas, rindu menyaksikan orang-orang yang ikhlas membela masyarakat tanpa pamrih, pemimpin cerdas yang memiliki gengsi di forum internasional. Saatnya kita menulis sejarah kita, menjadi bintang di zaman kita, dan mencapai apa yang belum pernah dicapai pendahulu.

“Mempelajari sejarah itu seperti melihat kaca spion mobil, kita perlu melihat kebelakang dulu untuk bisa maju kedepan.” Kata Adian Husaini