Saya adalah seorang mahasiswa Universitas Al Azhar, Mesir. Ini adalah pengalam pribadi saya tentang bagaimana saya kembali mencintai Rasulullah setelah sekian lama alpa dan kehilangan rasa dengan Rasulullah karena kesibukan aktivitas sebagai mahasiswa yang bertali-tali. Ditambah dengan jurusan saya Hukum Islam (Syariah) yang hanya bergelur dengan ayat-ayat dan hadits-hadits hukum hingga akal semakin tajam dan hati agak keras. Sebab kami sering menggunakan rasional sebagai alat untuk menetapkan hukum apalagi jika telah masuk ke ranah Ushul Fiqih, semakin rasional cara kami berpikir. Begitulah orang fiqih, kadang pandangannya agak hitam putih dan to the point, halaNl atau haram nih? Hehe

Tulisan ini saya tulis di hari ketiga Ramadhan, di pagi yang sepi saat orang-orang masih berada pada rumah masing-masing, bertadarus Al Qur’an dan mengerjakan ibadah-ibadah sunnah lainnya, saya duduk menikmati sebuah buku terjemahan Al Azhar berjudul, Nabi Islam dalam Kacamata Pemikiran Barat, oleh Dr. Izzuddin Farag orang Mesir. Buku yang sudah lama saya beli saat Cairo International Book Fair februari lalu. Ketika membuka daftar isi buku ini saya langsung tertarik dengan nama Mahatma Gandhi. Buku ini adalah tentang prespektif orang Barat terhadap Rasulullah namun dengan kacamata objektif.

Betapa terkejutnya saya ketika baru mengetahui bahwa Gandhi sang pahlawan India sangat mengagumi Rasulullah. Ia menceritakan pertama kali ia berkenalan dengan Rasulullah adalah saat di penjara Afrika Selatan dengan membaca buku yang ditulis oleh sahabatnya Ahmad Khan. Gandhi mengatakan, “karena hubungan saya yang kuat dengan kaum muslimin, saya merasakan memiliki ketertarikan untuk mempelajari kehidupan Rasul yang mulia SAW., sayapun memulainya di Afrika Selatan, hanya saja saat itu saya belum menguasai bahasa Urdu dengan baik. Masa penahanan saya yang berturut-turut itu telah memberi saya peluang untuk membaca buku-buku sejarah tentang Nabi yang mulia ini dan apa yang dituliskan oleh sahabat  yang bijak, Ahmad Khan, buku-buku itu yang saya minta dan bawa ke penjara. Saya juga membaca kisah-kisah sahabat Rasul yang diterjemahkan ke dalam  bahasa Inggris. Studi yang saya lakukan ini sampai pada keyakinan bahwa Al Qur’an dan Taurat merupakan dua Kitab Suci, saya pribadi menyucikan keduanya, sebagai menyucikan dua kitab suci Weda dan Bhagavad Gita”.

“Muhammad adalah Nabi yang agung, demikian juga Isa Al Masih, dan saya meyakini bahwa keduanya tidak menyeru kecuali kepada kebenaran, saya tidak menemukan sesuatu yang baru dari apa yang saya katakan ini, dan keduanya takut kepada Allah… namun saya hanya mengatakan apa yang bergemul pada pikiran saya. Muhammad banyak mengalami penindasan, akan tetapi ia sangat pemeberani, dan tidak takut kecuali kepada Allah, serta tidak gentar terhadap manusia manapun”.

Nabi agung Muhammad adalah seorang yang fakir dan zuhud terhadap kenikamatan dunia, padahal saat di mana ia mampu untuk menjadi orang yang kaya-raya jika berkenan. Saya telah menitikkan air mata saat membaca sejarah hidupnya. Bagaimana mungkin seorang pencari kebenaran seperti saya tidak menundukkan kepala di hadapan tokoh ini, yang mana ia tidak berbuat kecuali untuk kemaslahatan umat manusia.”

Ini adalah pidato Mahatma Gandhi saat menghadiri perayaan kelahiran Rasulullah. Sampai disini hati saya terenyuh merenungi kata-kata Gandhi di atas. Seakan wajah saya ditampar oleh kecintaan Gandhi yang dalam pada sosok Rasulullah. Kekaguman dan rasa hormatnya Gandhi pada Rasulullah membuat ia meneteskan air mata. Sungguh rasa cinta dan begitu dalam pada seorang manusia yang bernama Muhammad. “kapan saya pernah menangis untuk Rasulullah?”, tanya saya pada diri. Rasanya saya telah dikalahkan oleh Gandhi yang bukan seorang Muslim. Saat itu saya kembali diinsyafkan dengan pandangan Gandhi tentang keelokan, keagungan dan sempurnanya sosok Rasulullah. Cinta saya pada Rasulullah kembali berdenyut, seolah jantung kembali mengalirkan darah keseluruh tubuh, membawa oksigen dan cinta pada sosok mulia, Rasulullah.

Masih banyak lagi pemikir Barat yang memiliki pandangan yang sama dengan Gandhi, bahkan ada yang secara emosi berang kepada tokoh agama Kristen dan para filosof Barat terdahulu yang menggambarkan sosok Nabi Muhammad sebagai pembohong, pembawa ajaran sesat dan sifat-sifat buruk lainnya. Semoga dilain tulisan kita bahas masalah ini.

Dan malamnya saat hendak sholat Isya di Masjid Al Azhar, ketika saya sampai di bagian dalam masjid Zillah Utsmani bagian terdepan masjid Al Azhar senyum saya tersunggung secara otomatis ketika menyaksikan guru saya syekh Fathi Abdurrahamn Al Hijazi, guru kami di Al Azhar dan dosen Ilmu Balaghah  saat semester kemarin. Wajah tenang nan karismatik membuat setiap yang memandangnya menjadi adem. Decak kagum apa yang akan beliau sampaikan saat ceramah tarawih nanti. Penasaran!

Bacaan sang imam syekh Muhammad Al Azhari menambah kesyahduhan sholat Isya dan taawih kami. Di Mesjid Al Azhar kami biasa sholat tarawihnya 23 rakaat. Setelah Isya biasanya kami akan langsung sholat tarawih 8 rakaat istirahat sejenak mendengarkan siraman rohani dari para guru di Azhar baru setelah itu sisanya tarawih dan witir. Dan malam ini bintangnya adalah syekh Fathi. Usai salam para jamaah langsung bergerak ketengah mendekat dengan syekh Fathi. Beliau memulai dengan suara datar hingga sampai beliau menyebut nama Rasulullah. Sontak suara beliau agak meninggi, “sudahkah kalian bersholawat pada Nabi?!” kamipun langsung bersholawar, “shollallahu ‘alaihi wassallam…”, karena saking fokusnya mendengar setiap tutur kata yang keluar dari lisan beliau hingga kami lupa untuk bersholawat. Detik itu kami malu dan sekaligus decak iman kami tergugah dengan sikap beliau tadi.

Sambung beliau, “orang yang bakhil (pelit) itu bukan orang yang bakhil harta, tapi apabila disebut nama Rasulullah ia tidak bersholawat, itulah orang bakhit.” Lalu beliau membacakan hadits yang senada dengan perkataannya itu.

Ceramah beliau begitu teduh dan memberikan harapan. Berapa manusia ini acap melakukan kesalahan dan suka berlarut dalam penyesalan. Lalu beliau menuturkan kisah tentang seorang yang datang mengadu pada Rasulullah bahwa ia telah melakukan dosa besar.

Ditanya oleh Rasulullah, “dosa apa yang kamu kerjakan?”

“dosa yang besar wahai Rasulullah”

“minta ampunlah pada Allah”

“dosaku terlalu besar untuk diampuni Allah, wahai Rasulullah”

“apakah dosamu lebih besar dari pada bumi?”

“benar Rasulullah, lebih besar dar bumi”

“apakah dosamu lebih besar dari langit?”

“benar Rasulullah, lebih besar dari langit?”

“apakah dosamu lebih besar dari luasnya langit dan bumi?”

“benar Rasulullah, lebih luas dari langit dan bumi”

“apakah dosamu lebih besar dari “ ’arsy “ Allah?”

Orang ini sepertinya tidak mengetahu berapa besarnya ‘Arsy Allah sambung syekh Fathi

“benar Rasulullah, lebih besar dari ’arsy Allah”

“apakah dosamu lebih Azim (dalam bahasa arab artinya Besar berkali lipat) dari pada Allah?”

Sampai disini orang itu berkata “tidak Ya Rasullah…”

“laa yaghfirul ‘azim illal ‘azim” (tidak ada yang bisa mengampuni dosa yang besar kecuali Yang Maha Besar, Allah), sambung syekh Fathi.

Intinya adalah seberapa besar dosa kita tidak akan sebesar kebesaran Allah, maka dari itu mohon ampunlah kepada Allah yang Maha Besar. Sampai disini semua jamaah menundukkan kepala, merenungi dosa mereka dan hampir air mata kami meleleh, dada begitu sesak.

 

Hari ini 3 Ramadhan, begitu luar biasa iman saya digugah. Kecintaan pada Rasulullah kembali dihidupkan, walau saya seorang pelajar agama namun tak mengecualikan akan cinta saya juga sempat kering pada Rasulullah. Di pagi hari cinta saya pada Rasulullah kembali didenyutkan lewat pikiran-pikiran orang Barat dan bukan Islam. Cara mereka melihat Islam dari luar kotak dan objektif, serta kagum kepada Rasulullah telah mengajarkan kembali pada saya bagaimana mencintai sosok pribadi beliau. Dan saat malam mulai gulita iman saya pada Rasulullah dipupuk subur oleh syekh Al Azhar, guru saya. Simpul saya sebelum saya mencintai Sang Khaliq, Allah, saya harus mencintai makhluknya. Dan sebelum saya mencintai Allah saya harus mencintai Rasulnya terlebih dahulu.

Begitulah Barat dan Timur menumbuhkan rasa kagum saya pada Rasulullah.