Secara psikologi musik memiliki pengaruh terhadap tubuh dan kejiwaan manusia. Seorang pakar musik dan filosof muslim Alfarabi sangat meyakini hal tersebut. Sebab melodi dan ritme suara yang dihasilkan oleh alat musik mempunyai dampak positif bagi manusia. Dan Alfarabi adalah pakar musik pada zamannya yang bisa memainkan berbagai alat musik plus orang pertama yang merapikan melodi dan kunci-kunci pada alat musik.

Lagu adalah lantunan suara manusia yang kini sering dipadukan dengan alat musik. Selain memiliki energi, tak diragukan lagi lantunan syair dan sempuhan kata-kata indah sering berhasil mengena hati hingga menggenangkan air mata. Musisi modern seperti Kunto Aji berhasil membuktikan itu dengan membuat Najwa Shihab yang sangat rasional meneteskan air mata saat mendengarkan syair lagunya yang menyentuh pada sebuah acara Narasi. Sudah menjadi fitrahnya bahwa manusia memiliki sesuatu yang apabila itu disentuh maka ia akan menjadi milik seorang yang menyentuhnya, “sentuhlah ia tepat dihatinya, dia kan jadi milikmu selamanya” kata Ari Lasso. Ada juga yang mengatakan, “politik untuk merebut pikiran, dan seni untuk merebut hati”.

Dalam film kartun anime Shigatsu Wa Kimi No Uso genre musik, Kaori mengatakan,”musik bisa melampaui kata” dan “dengan musik kau bisa menggapai seseorang yang kau cintai.” Begitulah musik punya pengaruh khusus terhadap manusia, ia bukan hanya sebagai mainan hiburan tapi juga instrumen untuk membebaskan, melampaui kata-kata, dan bahasa lain dari isi hati. Lihatlah di film 3 Idiots Joy Lobo menumpahkan keputusasaannya pada gitarnya, begitu puas dan dalam.

Kini kita berhadapan dengan Pelajar Islam Indonesia (PII) yang telah memiliki sejarah panjang dalam hidupnya. Lika-liku dan nestapa perjuangan kadernya telah melahirkan bait-baik indah sebagai bahasa dari kecintaannya pada PII. Hymne PII, Tabah, Musfir Kelana adalah bahasa perasaan kadernya yang terdalam. Lagu-lagu yang diciptakan PII memiliki nuansa damai dan haru. Cobalah dengarkan dalam sepi maka akan timbul perasaan haru nan damai. Menggerakkan dan merenungkan. Setiap lagu memiliki arti dan ruh yang berbeda, Mars, Hymne, spirit dan sedih.

Namun sayangnya lagu-lagu ini masih menyimpan nuansa klasiknya. Tanpa bermaksud untuk merendahkan tapi sebagian kita mungkin sepakat agar ada penyegaran pada lagu-lagu PII. Tak diragukan lagi bahwa lagu-lagu PII memiliki arti yang dalam bagi masing-masing kader, dan kita sekarang memiliki keinginan agar lagu-lagu PII tak hanya dinyanyikan saat training atau kegiatan PII saja. Disaat sedang menunggu antrian, sedang jalan-jalan, disela-sela kesibukan, dan kegiatan santai lainnya kita menyandungkan lagu PII.

Perasaan cinta kita terhadap PII dipicu dengan hal yang berbeda-beda, sebagian besar kita cintanya tumbuh dari perjuangan yang berat di PII, pengaruh PII pada perubahan dirinya, dan lainnya. Namun sebenarnya ada satu lagi yang sangat berpengaruh menggenjot cinta kita ke PII, yang saat seorang kader mulai menua ia akan menitikkan air mata saat mengenang kisahnya bersama PII di masa lalu, yaitu pengaruh lagu PII.

Sudah saatnya lagu-lagu PII dilakukan penyegaran. Usaha ini telah dicoba dirintis oleh kader-kader PII yang kreatif. Seperti Cover lagu Hymne PII oleh PII Kabupaten Subang, cover lagu Musafir Kelana PII oleh Neo Amroni, dan pecipta lagu baru PII yang sangat menyentuh berjudul Ingat Catur Bakti PII oleh Rendi Ego Mahendra, yang dinyanyikan oleh Rendi Ego Mahendra dan Abelio Fajri dengan gitarnya, kader PII Sematera Selatan. Ini yang kita temukan di YouTube, kreativitas baru yang ditawarkan oleh kader PII untuk PII. Sudah lama kita menunggu penyegaran lagu-lagu PII, dan kini langkah mulia ini telah dirintis oleh teman-teman kita ini. Ini adalah prestasi besar yang mesti diapresiasi oleh setiap pihak. Kita harus selalu mensuport mereka agar selalu berinovasi dan berkreasi pada lagu-lagu PII. Dan tentu kita tak berpuas diri dengan hasil sementara ini. Lagu baru ciptaan  Rendi yang menggunakan gitar sebagai instrumen penggiring lagunya sangat memukau banyak orang, petikan gitar dari Abelio begitu dalam dan pas hingga menyentuh perasaan kita. Tidakkah kita terpantik oleh mereka ini?

Ayo kader PII dimanapun berada, mari kita ciptakan cover baru lagu PII dan ciptakan lagu-lagu baru PII. Tak ada yang membatasi kita untuk berkreativitas, sudah saatnya ada proses millenialisasi di PII dengan menghadirkan gairah baru pada diri PII. Penyegaran lagu-lagu PII adalah awal dari proses millenialisasi PII yang amat konvensional. Tentu ini adalah salah satu jalan untuk mencapai kesempurnaan kebudayaan oleh PII dengan berpartisipasi kadernya pada ranah seni dan literasi.  Saatnya kakek tua menyanyikan lagu  Armada. Dan saatnya lagu sholawat di cover oleh Nissa Sabyan. Siapakah next Nissa Sabyan PII?

Berani hadapi challange 72 PII?! Ciptakan cover dan lagu baru PII !