Inilah kisahku tentang perjalananku menjadi seorang guru. Perjalanan yang bermula seusai menamatkan pendidikan formal sarjana. Kira-kira satu bulan setelah aku tamat aku langsung diminta untuk menjadi guru di berbagai sekolah. Tawaran itu begitu cepat datangnya kepadaku dan tanpa basa-basi aku menerimanya, sebab aku takut menjadi orang yang sombong karena banyak diantara temanku yang usai mendapat gelar sarjana tak langsung memiliki pekerjaan, menganggur. Ada  yang mendapatkan pekerjaan hanya berseling beberapa bulan saja sebab sistem hari ini menggunakan kontrak kerja, wal hasil setelah kontraknya habis iapun menganggur. Ada juga yang sudah mendapat pekerjaan namun tak sesuai dengan lingkungannya. Kebanyakan bermasalah dengan bosnya. Dan aku bersyukur mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidangku, guru.

Kebutuhan akan guru agama di berbagai sekolah kian meningkat. Kesadaran masyarkat kita untuk menyekolahkan anak-anaknya ke sekoah agama semakin tinggi. Hingga membuat sekolah harus mampung banyak siswa sekaligus membutuhkan banyak guru pendidik.

Dalam pandanganku, tugasku sebagai guru bukanlah sebagai tenaga pengajar, tapi tugas guru bagiku adalah mendidik, sekali lagi ‘mendidik’. Mengajar hanya terbatas pada tindakan transfer ilmu sedangkan mendidik lebih dari itu, perubahan sikap dan mental serta cara pikir. Tentu untuk menghadapi masa depan dibutuhkan sesuatu yang bukan sekedar informasi tapi juga kecakapan seorang pribadi.

Menjadi guru pada hari ini terasa amat melelahkan. Bukan karena mendidik murid-murid yang banyak tapi kerena tuntutan menjadi guru itu amatlah banyak. Tuntutan itu adalah datang dari luar kelas, seperti membuat Rancangan Proses Pembelajaran (RPP), target tahunan, target bulanan, mingguan dan lainnya. Yang jika ini dikumpulkan sama tebalnya dengan desertasi doktor. Tentu ini akan menjadi beban tambahan bagi seorang guru, disamping ia harus menyiapkan bahan yang akan diajar ia dituntut banyak untuk membuat bahan-bahan lainnya. Fokus guru apan pecah efeknya banyak guru yang melampiaskan stress tugas di atas kepada muridnya, sehingga tak tercapainya maksud pendidikan tersebut.

Kini masuklah kita ke dalam kelas. Murid adalah peserta didik. Aku masih belum bisa menjawab pertanyaan apakah murid itu objek pendidikan atau subjek pendidikan. Hari ini aku berpikir bahwa murid adalah objek pendidikan. Dikarenakan ia menjadi sasaran pendidikan. Ilmu dan segala macam instrumen untuk menjelaskan ilmu diarahkan agar murid bisa menerima ilmu yang diterangkan. Lalu siapakah subjek pendidikan?

Murid adalah sesuatu yang unik. Sebab ia beragam dan memiliki cara dan gaya masing-masing untuk menghadapinya. Murid yang satu dengan yang lainnya amatlah berbeda sehingga  kita sebagai guru harus bijak kapan harus berbicara lambat dan kapan harus berbicara cepat. Aku diuntungkan dengan kondisi. Aku mengajar di dua sekolah yang berbeda dan di kelas yang berbeda juga. Aku mengajar di kelas Tsanawiyah dan Aliyah. Setiap lokal aku harus menyesuaikan gayaku berbicara, pendekatan memulai kelas, pancingan agar mereka tertarik serta konten yang dibahas. Ada kelas yang aku harus memberikan banyak materi pada mereka, ada kelas yang aku harus tegas pada mereka, dan ada kelas dimana aku menggunakan pendekatan humoris selama proses belajar. Seperti dokter yang mendiagnosa penyakit pasiennya, harus perlahan dan setiap pasien itu memiliki kondisi yang berbeda serta penangan yang berbeda-beda pula. Disanalah kreativitas seorang guru akan ditanya. Pengalamanku di organisasi dulu (PII) begitu berguna hari ini. Beruntung sekali dulu saat tertatih-tatih dalam mengajar di organisasi aku tetap bertahan hingga manfaatnya begitu terasa hari ini. Kesulitan yang kurasakan saat mengelola lokal saat di organisasi dulu kini bisa ku hadapi dengan tenang. Walau ini masih awal tapi aku merasa ada bekal yang telah ku persiapkan, yaitu pengalaman menjadi guru saat di organisasi dulu.

Mungkin ini maksud dari perkataan Anies Baswedan saat ia memberikan  sambutan kepada para mahasiswa baru, “carilah pengalaman di luar lokal (kuliah), karena belajar itu tak hanya di dalam lokal kelas.” Dan aku sangat merasakan manfaat akibat tak hanya memuaskan diri dalam lokal kelas. Rasanya aku selangkah lebih maju daripada yang lain.