Karya: Sangkot Sirait
Artikel Publish di Jurnal Hermeneia\Vol-3-No-1-2004

Reviewer:

Syarif Hidayatullah.Z

Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia

Periode 2017-2020

 

Deskripsi
Pada bagian awal artikel  mengungkit tentang pendidikan sebagai usaha untuk menanamkan pengetahuan, keterampilan, apresiasi, sikap, minat, pemikiran kritis dan penyesuaian diri. Adapun paradigma pendidikan terkait sosial yaitu Positif Naturalistik yang dipelopori oleh Auguste Comte dan Humanis Kulturalistik yang dipelopori oleh Wilheim Dilthey. Adapun dasar logika positivisme, yaitu:

  1. Ilmu Pengetahuan Murni (orisinal), seperti ilmu-ilmu eksak (sains) atau logika matematis. Dikatakan bahwa semua klaim kebenaran maupun ilmu pengetahuan yang berasal dari ilmu-ilmu metafisik seperti teologi dipandang (positivistik) tidak lebih dari sebuah pernyataan (statement) tentang keyakinan dan tidakk bisa diuji atau diverifikasi dalam kenyataan (empiris).
  2. semua jenis ilmu sains berdasarkan atas metode yang jelas, melalui proses penelitian, generalisasi hubungan satu fakta dengan fakta lainnya, juga sebuah formula teori yang dapat menjelaskan generalisasi dan menguji coba (mencari keabsahan) generalisasi beserta teori yang digunakan secara empiris.

Menurut Auguste Comte, pengistilahan positif untuk menegasikan diferensi atas: Nyata (Reel) Vs Khayal (Chemerique), Pasti (Certitude) Vs Meragukan (Indelesion), Tepat (Precis) Vs Kabur (Vague), Berguna (Utile) Vs Sia-sia (Oiseoux), Shahih Relatif (Relative) Vs Shahih Mutlak (Absolute).
Menurutnya semua pengetahuan harus terbukti lewat rasa kepastian (sense of certainly), pengamatan yang sistematis, terjamin secara intersubjektif. Menurut positivistik, teori pendidikan yang orisinil mestinya mengikuti struktur logis teori-teori sains. Kata Charles D. Hardie, bahwa hakikat manusia terdiri dari karakteristik yang dapat diperbaiki (modifable) dan tidak dapat diperbaiki (unmodifiable). Hardie menekankan pentingnya teori arti (meaning) dari logika kaum positivistik yang hingga saat ini banyak peninggalan didunia pendidikan. Saran Hardie tidak begitu saja diterima ketika Hardie berupaya membuat penerimaan kebenaran teori “arti” yang berakibat pada keluarnya aspek “etik” dari filsafat pendidikan. Bagi kaum positivistik, etik hanyalah ekspresi perasaan personal (individu) dan bukan kepentingan yang dapat dipandang sebagai sebuah kebijakan. Penekanan logika bagi kaum positivistik cenderung mengesampingkan masalah etik karena aspek etik tidak bertalian kuat dengan logika melainkan kepada nilai mental yang dibangun individu maupun suatu masyarakat.

Sedangkan menurut D. J.O’Conner, kurikulum tidak lebih dari sebuah idealisme yang berwenang atas dasar pengalaman para guru dilapangan dan bukan berdasarkan sebuah penelitian yang sistematis terhadap kebutuhan peserta didik. Pengamatan Conner akan hal itu merupakan sebuah fakta lapangan bahwa kebanyakan guru/ pendidik membuat kurikulum berdasarkan olah pikir yang terbentuk menjadi sebuah konsepsi bukan berdasarkan suatu riset penelitian. Maka dapat dikatakan bahwa hasil olah pikir yang menjadi sebuah konsepsi pendidikan (kurikulum) dapat juga dikatakan sebuah idealisme oleh pemerhati pendidikan.

Adapun kebutuhan peserta didik yang dimaksud  Conner yaitu berdasarkan kebutuhan masyarakat bukan kebutuhan peserta didik yang karena itu peserta didik dapat berkreasi sesuai keinginannya tapi berkreasi sesuai tuntutan (kebutuhan) masyarakat. Pemenuhan kebutuhan tersebut cenderung menjadi sebuah tuntutan agar peserta didik dapat mencapai/ melewati kompetensi tertentu yang ditetapkan. Seperti kompetensi yang ditetapkan pemerintah terhadap peserta didik untuk mengisi peluang pekerjaan, tidak menuju kemandirian peserta didik atas kompetensi. Selain kurang tepatnya pemenuhan kebutuhan yang harus dipenuhi, isi artikel juga mengungkit tentang lemahnya upaya perbaikan tingkah laku peserta didik.

Ada 3 hal yang mendasar terkait pendidikan bagi positivistik untuk melakukan penelitian pendidikan, yaitu:
1) Asumsi positivistik bahwa fenomena pendidikan seperti hubungan guru dan murid, bisa dipahami oleh semua orang
2) Penganut positivist lain seperti behavioris cenderung mengabaikan kehidupan yang lebih dalam (Inner Life). Disisi lain, memang ada positivis yang mengakui eksistensi Inner Life tapi dipandang sebatas variable saja, seperti: ingatan, motivasi dan kesadaran.
3) Positivist melihat sekolah sebagai objek (out there) dan bukan semata melihatnya sebagai kelompok orang yang terlibat (kohesi) didalamnya.

Metode kaum positivis terhadap penerapan ilmu-ilmu alam dapat digunakan juga terhadap ilmu sosial. Setidaknya melalui runtutan metode distansi penuh, netralitas, manipulasi, hukum-hukum, bebas kepentingan, universal dan instrumental yang kesemua itu dapat diterapkan pula kepada penelitian sosial, hanya saja objek yang dituju ialah kenyataan sosial. Misal,
Pertama, seorang ahli fisika mengamati benda jatuh dilaboratorium maupun ditempat lain dengan sikap berjakarak (distance), menghadapi proses alamiah sebagai objek belaka. Kedua, menghadapi objek sebagai “fakta netral”, yaitu data yang bersih dari unsur-unsur subjektif, seperti: keinginan, mimpi, nafsu, moral, dan sebagainya. Ketiga, Objek dapat dimanipulasi melalui sebuah eksperimen menggunakan model “sebab-akibat” untuk menemukan sebuah pengetahuan darinya. Keempat, result/ hasil manipulasi yang telah dilakukan merupakan sebuah pengetahuan tentang hukum-hukum niscaya, seperti: Jika air dipanaskan sampai 100°C maka akan mendidih. Rumusan tersebut disebut rumusan deduktif-nomologis (Bila…, Maka….) dan merupakan bagian dari hukum alam. Kelima, teori yang dihasilkan (pengetahuan) bebas dari kepentingan, serta dapat diterapkan secara instrumental dan secara universal.

Gerakan yang menggunakan positivistik satu diantaranya yaitu Behaviorist. Pak Sangkot mengangkat tokoh Burrhus F. Skinner sebagai tokoh behavioris dengan pandangan bahwa Skinner merupakan seorang filosof bermazhab emperisme juga terkadang seorang materialis disisi lain. Sebagai seorang empiris berpandangan bahwa semua pengetahuan muncul begitu cepat (spontan) berdasarkan pengalaman. Sebagai seorang mekanis, berpandangan bahwa tingkah laku (behavior) disebabkan oleh faktor luar ketimbang inisiatif spontan. Tingkah laku dipandang hasil respon dari suatu stimulus ketimbang ekspresi atas pilihan tindakan (secara bebas memilih). Sebagai seorang determist, berpandangan bahwa semua jenis tingkah laku ditentukan oleh: 1) Ransangan dari luar, 2) Sejarah masa lampau, 3) Keadaan sekarang “organ” (Means of action/ Pemaknaan tindakan; Makna informasi yang disampaikan berasal dari sebuah opini) manusia.

Skinner membahas ilmu tentang kemanusiaan yang memiliki tujuan untuk memperhitungkan dan mengontrol tingkah laku manusia. Kontrol tidak dilakukan terhadap manusia melainkan terhadap lingkungan lingkup manusia itu hidup. Apabila terjadi perubahan lingkungan berimplikasi juga kepada perubahan perilaku lingkungan yang membentuk/mengontrol tingkah laku disebut dengan “operant conditioning” yang merupakan bagian dari hukum/ asas menurut Skinner. Adapun semua undang/asas menurut Skinner yaitu:
1) Pengetahuan tentang tingkah laku berubah menjadi lingkungan, lingkungan yang telah menghasilkan spesies dan keturunan lewat seleksi alam
2) Lingkungan yang membentuk serta memelihara/memantau individu lewat proses seleksi (operant conditioning).
Dua hal itu berkaitan juga dengan Respon yang tidak diusahakan dengan respon yang diusahakan (respon operant). Skinner menerapkan teori respon operant dalam dunia pendidikan bahwa pendidik bertugas mendesain lingkungan peserta didik untuk mendorong tingkah laku operanti belajar (kepentingan peserta didik).

Ada dua landasan terkait tugas guru tersebut, yaitu: 1) Dunia ibarat guru yang miskin, lingkungan fisiklah yang mengajarkan tingkah laku variatif sebagai “teks” sumber pengetahuan. Sedangkan lingkungan sosial dapat mengajarkan sifat agresif dan kompetitif seperti halnya kebaikan dan kooperatif. 2) Minat dan interest peserta didik sangat cepat perubahannya (cepat kusam/ kolot) yang dapat menyebabkan pendidik harus “menciptakan” suatu situasi dan kondisi peserta didik agar dapat belajar dan mengetahui kebutuhannya. Pengawasan menjadi sangat penting untuk diperhatikan agar tidak ada celah pembiaran (bebas lepas) terhadap peserta didik.

Skinner beranggapan bahwa sebagai pendidik (misal) seharusnya menyiapkan sesuatu (berupa produk/ hasil tertentu) yang dibutuhkan peserta didik sebagai suatu pelayanan dan dapat dinikmati. Meskipun tidak menanamkan nilai (pendidik) kepada peserta didik melainkan memilih satu perangkat/tools yang disiapkan khusus (sepamahaman/sepengetahuan pendidik) agar berguna bagi peserta didik dan lingkungannya.
Pada bagian lain membahas tentang ranah result yang dibagi atas dua metode, yaitu: 1) Contigency Management dan 2) Programmed Instruction.
– Contigency Manajemen adalah suatu penerapan atas metode positive reinforcement (penguatan, dorongan positif)/ reward (imbalan), sebagai lawan atas Aversive Control. Adapun tindakan aversif seperti: apatis, suka membolos dari sekolah, suka merusak. Bentuk hukuman fisik: penurunan nilai, catatan untuk orang tua. Namun yang perlu diperhatikan bahwa Positive Reinforcment merupakan respon positif atas kesuksesan atau pencapaian peserta didik, bukan membesar-besarkan kesalahanya. Misal, ketika peserta didik berbuat suatu kesalahan, posisi pendidik bukanlah menitik beratkan pada kesalahan melainkan menyampaikan hal yang sebaiknya dilakukan oleh peserta didik tersebut. Disamping itu, ketercapaian dalam sebuah karya dari peserta didik merupakan kepuasaan (satisfaction) bukan mengharap suatu imbalan yang dijanjikan.
– Programmed Instruction yaitu penyajian pelajaran lewat teks, teknik mesin, komputer dan sejenisnya. Proses belajar dibagi kepada langkah-langkah terinci serta memiliki relevansi antar langkah untuk memperbesar frekuensi penguatan (reinforcment) dan meminimalisir hal-hal yang belum pasti/ kesalahan. Suatu cara untuk meminimalisir kesalahan (misal: jawaban) oleh peserta didik menggunakan program “multiple choice”. Jadi, operant conditioning merupakan “perolehan” dan “motivasi” yang keberhasilanya ditandai melalui program prestatif.
Kondisi positif reinforcment dapat membentuk masyarakat yang fungsional dan bebas berdasarkan reinforcment meski bukan aspek/ faktor dari dalam (inner) diri seseorang.

Setelah mendapat kritik, kemudian logika positivistik dimodifikasi dari “logical positivist” menjadi “logical empirists”. Banyak diantaranya bergabung dengan ilmuan sosial dan pendidik bersama-sama merancang dan menggunakan metode Natural Science. Penganut logikal empiris memperlakukan logika positivist melalui 2 cara, yaitu:
1) Statement secara empiris punya arti apabila dapat “ditegaskan” dalam uji coba yang dilakukan berulang-ulang (falsifikasi) sebagai bentuk lawan dari “diverifikasi”.
2) Teori-teori sains mempunyai arti apabila menghasilkan prediksi yang dapat dijelaskan (confirmed)

Adapun yang menjadi dilematis berkait objek observasi yang terlihat berbeda secara essensial antara objek ilmu alam seperti manusia/ masyarakat sebagai makhluk historis. Sebagai makhluk historis, tindakan manusia tidak mudah dipredeksi sebagaimana objek alam lain yang memiliki kesamaan hukum (kausalitas). Maka penerapan positivisme dalam ilmu-ilmu sosial sebagai penerapan pengetahuan pengontrolan alam (lingkungan) pada masyarakat melalui pengetahuan reflektif-intersubjektif. Bagian yang perlu menjadi perhatian yaitu memposisikan diri agar tidak terjadi subjektivitas ketika melakukan penelitian menggunakan metode positivist terhadap dunia pendidikan.

Kelebihan
Artikel yang dibuat pak Sangkot sepengamatan saya memiliki beberapa kelebihan, yaitu:
1) Tulisan mengungkit dasar pemikiran sehingga kerangka berpikir jelas atas dasar dan pembentuknya
2) Tulisan memuat permisalan-permisalan untuk memudahkan pembaca

Kekurangan
Ada beberapa bagian artikel yang penulis amati perlu untuk diperjelas, dilengkapi, yaitu:
1) Pada pengutaraan suatu tokoh tertentu kurang memuat teori pemikiran secara utuh, maupun bagian penjelasan atas teori tokoh
2) Pada beberapa bagian ada keterangan yang cukup sulit untuk dipahami kecuali merujuk langsung ke kamus dictionary advance untuk mencari makna yang cocok seperti yang diinginkan penulis artikel
3) Pada bagian pengistilahan ilmiah perlu adanya analogi yang mudah didapati untuk mempermudah memahami makna yang tersurat

 

Keterangan:
Contigency, yaitu hal yang kebetulan/ keadaan yang masih diliputi ketidak pastian dan berada diluar jangkauan
Aversive, yaitu perasaan tidak setuju yang disertai dorongan untuk menarik diri/ menghindar

 

Sumber:

Sangkot Sirait, “Positivisme Dalam Pendidikan”, Hermeneia, Vol. 3, No. 1 (2004)

https://www.kompasiana.com/dasrimino/55546c636523bd40164aef2e/relasi-intersubjektif-dalam-terang-filsafat-eksistensialisme-gabriel-marcel-oleh-hendriko-dasrimino

https://id.wikipedia.org/wiki/August_Comte

https://id.wikipedia.org/wiki/Wilhelm_Dilthey

https://id.wikipedia.org/wiki/B.F._Skinner