Saat wawancara Mbak Nana bersama Presiden pada menit 11:45-12:26 di https://youtu.be/BC6F6Uxw1G0 terjadi percakapan berikut:

 

Mba Nana, “Apakah berarti ini memang keputusan melarang itu baru akan dikeluarkan melihat situasi, tapi faktanya sudah terjadi penyebaran orang di daerah, Bapak ?”.

 

Bapak Jokowi, “Kalo itu bukan mudik, itu namanya pulang kampung. Memang bekerja di Jabodetabek. Di sini sudah tidak ada pekerjaan, ya mereka pulang karena anak isterinya ada di kampung, ya mereka pulang”.

 

Mba Nana, “Apa bedanya Bapak, pulang kampung dan mudik?”.

 

Pak Jokowi, “Ya kalo mudik itu di hari lebarannya, beda, untuk merayakan Idul Fitri”.

 

Mba Nana, “Hanya perbedaan waktu, Bapak ?”.

 

Lanjut Pak Jokowi, “Kalo namanya pulang kampung itu, ya bekerja di Jakarta tetapi anak isterinya ada di kampung”.

 

Percakan tersebut berbuntut terhadap keresahan dan kebingungan masyarakat. Media sosial heboh dengan percakapan tersebut, bahwa mudik dan pulang kampung itu sama ? Benarkah demikian wankawan ?

 

Mari kita telaah dengan Teori mudah semiotik tentang tanda (sign) dari Ferdinand De Saussure untuk mengobjektivikasi hal tersebut. Menurut Saussure, Tanda (Sign) suatu hal bersifat arbitrer. Mudik dan Pulang Kampung merupakan Sign.

 

Rumus tanda Saussure:

Sign (Tanda)= Signifier (Penanda) + Signified (Pertanda)

 

Mudik (Sign)= diucapkan scr verbal “M-U-D-I-K” (Arbitrer dalam KBBI) + Konsep mudik yg ‘mafhum’ di tengah masyarakat ialah perjalanan pulang kampung menjelang lebaran atau biasa disebut “Mudik Lebaran” (Arbitrer Masy Indonesia). Biasanya, terjadinya Mudik seminggu hingga dua minggu menjelang lebaran.

 

Pulang Kampung (Sign) = diucapkan scr verbal “P-U-L-A-N-G K-A-M-P-U-N-G” + konsep pulang kampung masy Indonesia ialah suatu perjalanan ke kampung halaman. Pulang kampung biasa disebut “Pulkam”. Pulang kampung tidak berbatas waktu, baik direncanakan atau tidak. Baik saat menjelang lebaran ataupun tidak. Pulang Kampung juga memiliki arti pulang ke kampung halaman, baik rumahnya di Desa maupun di Kota.

 

Setelah kita urai, kita cari benang merahnya. Bahwa Mudik dapat berupa perjalanan ke kampung halaman. Mudik bagian dari Pulang Kampung namun waktu nya terkhusus.

Sedangkan pulang kampung merupakan perjalanan ke kampung halaman tanpa dibatasi waktu tertentu, baik terencana maupun tidak. Perjalanan ke kampung halaman yang rumahnya entah di Desa maupun Kota. Semua masih dalam lingkup “Kampung”.

Maka, dapat disimpulkan bahwa secara penyebutan 2 hal tersebut beda. Sedangkan secara makna tidak dapat dikatakan sama, hanya sebagian saja karena adanya pertalian makna.

 

Sebagai contoh tambahan, ketika awal tahun para mahasiswa yang telah menyelesaikan UAS bercengkrama sesama mahasiswa terkait hal yang di lakukanya kemudian. Sebagianya menjawab, “di hari … Ane pulkam”, “besok ane pulkam duluan”, “aku ada les tambahan jadi gak bisa pulkam semester ini”. Tidak ada satupun mahasiswa yang bilang, “setelah UAS nanti ane mudik, kamu mudik bareng aku ndak?”, Tidak ada, yang ada hanya Pulkam (Pulang Kampung).

Lalu, pada UAS berikutnya di bulan ramadhan. Secara umum, para mahasiswa bertanya “kapan mudik ?”, Atau menyampaikan rencana setelah UAS, “H-3 mungkin baru bisa mudik, UAS belum selesai bray”.

 

Sebagai masyarakat Indonesia yang katanya sudah hampir seluruhnya ‘melek huruf’, mari kita melangkah meningkat menjadi ‘mengobjektivikasi suatu hal’ sebelum memutuskan, baik pernyataan maupun tindakan. Semoga coretan singkat ini dapat dipahami dengan baik.