Syarif Hidayatullah.Z

18204011007@uin-suka.ac.id

Dept Training

Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia

 

 

Pada tanggal 02 Mei 2020 diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional, namun pada tahun ini tidak seramai tahun-tahun sebelumnya. Hal itu disebabkan suatu wabah yang dikenal dengan Covid-19 telah menyebabkan lumpuhnya berbagai sektor baik ekonomi hingga pendidikan. Para peserta didik sekarang dirumahkan demi menjaga keselamatan diri dan masa depan. Pasalnya, wabah tersebut menjangkit tidak mengenal tempat maupun usia, sebagai manusia hanya dapat waspada terhadap penyakit mikrobiotik tersebut.

 

Keputusan pemerintah untuk “merumahkan” para pelajar dipandang tepat, jika tidak, sekolah akan menjadi lokasi penyebaran virus besar-besaran. Ketika di rumah, para pendidik masih tetap memantau perkembangan pengetahuan peserta didik melalui media digital. Peranan media digital dalam mengawal pendidikan di rumah cukup masif, meski terdapat beberapa kendala menyertainya.

 

Peran media digital tidak terasa sebanding dengan pendidikan yang diberlangsungkan sekolah, banyak sendi yang luput dalam peran media digita terutama sendi penanaman nilai atau yang biasa dikenal dengan Afeksi. Maka, nilai-nilai yang seharusnya turut serta dalam proses pendidikan kini mulai terkikis dan luntur. Kondisi demikian terjadi dalam lingkup global terutama di Indonesia, apalagi peserta didik yang berada di area 3T (Terdalam, Terluar, Tertinggal) untuk akses media digital sulit apalagi transformasi nilai oleh pendidik. Pendidikan Indonesia butuh inovasi, bukan dari kurikulum melainkan pengembangan manusia (Development Human) yang bertalian dengan proses pendidikan, diantaranya yaitu Keluarga dan Masyarakat. Pada cerita ini, akan disajikan pendidikan keluarga yang mudah diterapkan tanpa bingung memahami teorinya. Meski begitu, tetap tidak terlepas dari landasan teoritis agar pola pendidikan adalah benar dapat diterapkan. Landasan teori yang digunakan adalah Social Learning dari Albert Bandura.

 

Cerita Hidup Albert Bandura

            Pada umumnya, setiap tulisan ilmiah yang akan membahas suatu pemikiran tokoh tertentu pertama kali yang dilakukan penulis ialah menggali kepribadian latar hidup si tokoh. Pada tulisan ini, penulis sebenarnya hanya ingin bercerita, dalam sebuah cerita tidak mungkin pembaca/ penonton tidak mengetahui latar hidup si tokoh. Maka, pertama kali disajikan lah latar hidup Albert Bandura.

 

Albert Bandura dari keluarga petani lahir pada tanggal 4 Desember 1925 di Canada. Setelah menyelesaikan pendidikan jenjang menengah kemudian melanjutkan pendidikan di University of British Columbia di Vancouver meraih gelar B.A. pada tahun 1949. Setelah menyelesaikan studi di University of British, Albert Bandura melanjutkan pendidikan ke University of Lowa mengambil jurusan Psikologi meraih gelar M.A. dan Ph.D pada tahun 1952. Selama setahun praktek klinis di Wichita Kansas Guidance pada tahun 1953, Albert di terima bekerja di Stanfort University. Selama bekerja di Stanfort University, Albert banyak mengembangkan pendekatan Social Learning dalam memahami kepribadian manusia.

 

Adapun karya buku Bandura seperti Adolescent Aggressio (1959), Social Learning and Personality Development (1963), Principles of Behavior Modification (1969), Aggression: A Social Learning Analysis (1973), dan Social Learning Theory (1977). Adapun penghargaan yang pernah diterima atas pengembangan Social Learning yaitu “The Distinguished Scientist”, penghargaan dari American Psychological Association pada tahun 1972, dan The Distinguished Scientific Achievement Award dari California Psychological Association pada tahun 1973.

 

 

Cerita Teori Belajar Albert Bandura

Pada tataran teori penulis tidak memuat secara utuh sehingga memusingkan para pembaca yang budiman, melainkan mengutip bagian penting dari Body of Knowledge (Struktur Pengetahuan) yang telah disusun oleh Albert Bandura.

Ada 2 prinsip teori Social Learning Bandura, yaitu: 1) tentang Tingkah Laku Manusia dan 2) Modifikasi Perilaku. Pertama, manusia dapat dipahami melalui proses interaksi timbal balik antara perilaku (B=Behavior), kognitif (P=Personal), dan lingkungan (E=Environment) saling menentukan satu sama lain. Pada dasarnya manusia mempunyai format kemampuan berpikir (Kognisi) dan mengatur/ mengarahkan diri (Regulasi Diri/ Self Directed), melalui format dasar itu manusia mampu mengontrol lingkungan -logika terbalik: lingkungan dapat mengontrol/mempengaruhi manusia. Sehingga, antara Kognisi, Pengarahan Diri dan Lingkungan berinteraksi satu sama lain, saling mempengaruhi dan dipengaruhi. Kedua, interaksi yang terjadi pada prinsip pertama dilakukan seseorang melalui pengamatan terhadap hal lain (dapat berupa benda hidup atau benda mati). Ketika objek pengamatan (observasi) nya adalah individu (benda hidup), maka hal ini dinamakan dengan peneladanan (model). Penaladanan sebagai suatu proses peniruan (imitasi) terhadap individu yang diteladani.

 

Proses pengamatan seseorang merupakan bagian dari pembelajaran yang dinamakan “Belajar dengan Pengamatan (Observational Learning)”. Ada empat proses pengamatan dalam belajar, yaitu: 1) Proses Atensi, 2) Proses Retensi, 3) Proses Memproduksi Gerak, 4) Proses Motivasi. Pertama, proses atensi yaitu peminatan peserta didik terhadap suatu hal (yang dipelajari). Pada proses ini mengedepankan jalan untuk menarik perhatian peserta didik terhadap proses belajar yang akan dialami peserta didik. Menarik perhatian dapat digunakan beragam cara, setidaknya ada 2 bahasa menarik minat peserta didik, yaitu : (1) Bahasa Langsung, (2) Bahasa Tidak Langsung/ Isyarat. Kedua, Proses Retensi yaitu proses peserta didik melakukan pengolahan informasi yang didapatnya dari berlangsungnya proses atensi. Proses Retensi cenderung menggunakan cara pandang empirik (pengamatan langsung/ pengamatan tidak langsung, hal konkrit ataupun imajinatif). Peserta didik yang tengah mengamati suatu objek kemudian melakukan proses retensi yaitu penyimpanan dan pengolahan informasi ke dalam ingatan. Ketiga, memproduksi perilaku yaitu hasil dari pengolahan informasi yang dilakukan pada tahap “kedua” lalu menghasilkan suatu produk perilaku. Produk perilaku tersebut dapat berupa perilaku peniruan atau perilaku pembangkangan (perilaku diluar ekspektasi pendidik). Keempat, Proses Motivasi yaitu penguatan positif (Positive Reinforcment) terhadap peserta didik agar perilaku yang ditampilkan sesuai dengan harapan mewujudnya “Peneladanan”. Penguatan Positif pada umumnya berkaitan dengan 2 hal, yaitu: Hadiah atau Hukuman. Jika ini mulai rumit, mohon bersabar saudara-saudara, barangkali penulis tertular “Jika dapat diperumit, kenapa harus dipermudah”. Sedikit lagi yakk kita perkuat teori agar tidak gagal paham dan menghindari jebakan persepsi “peserta didik adalah objek”.

 

Ketika memahami peserta didik, perlu juga meninjau pandangan Albert Bandura tentang peserta didik (subjek belajar). Albert Bandura mengemukakan struktur kepribadian (peserta didik) yang terdiri dari empat aspek, yaitu: 1) Sistem diri (Self System), 2) Regulasi Diri (Self Regulated), 3) Efikasi Diri (Self Efficacy), dan 4) Efikasi Kolektif (Colective Efficacy). Pertama, sistem diri merupakan struktur kognitif yang memberi pedoman kegunaan dalam mekanisme persepsi (cara pandang), evaluasi dan pengaturan tingkah laku. Hal ini senada dengan prinsip pertama (Tingkah laku manusia) yang telah diutarakan diatas. Sistem diri tersebut bagian dari interaksi antara lingkungan, perilaku dan peserta didik. Kedua, regulasi diri sederhananya merupakan pengaturan diri atas diri sendiri maupun terhadap lingkungan sekitarnya. Albert Bandura yakin bahwa manusia mempunyai kapasitas untuk memotivasi dirinya sendiri serta menentukan tujuan personal, merancang strategi atas dasar evaluasi dan memodifikasi perilaku dalam keadaan tertentu. Ketiga, efikasi diri merupakan keyakinan atas usaha yang dilakukan individu akan berbuah hasil ketika tujuan tercapai. Keyakinan di sini dapat bermaksud percaya diri bahwa usaha yang dilakukan dapat berjalan lancar tanpa kendala berarti. Keempat, efikasi kolektif yaitu keyakinan suatu masyarakat bahwa hal yang diusahakan bersama akan menghasilkan suatu perubahan terentu. Fiuhh, disudahi dulu teorinya ya kakak, penulis pun mulai terjangkit rumit. Hee. Tapi kak teori tersebut tidak ada contohnya ? Sengaja, biar di contohkan dalam praktik nyata pada bagian selanjutnya. Hee..

 

Cerita Cermin Keteladanan

Akhirnya tibalah pada poin yang ditunggu tunggu yaa, kita akan mengeksplorasi teori tersebut dengan sesuatu yang penulis timbang mudah untuk dipahami dan di lakukan di rumah masing-masing. Mempermudah bagi pembaca sejujurnya sulit bagi penulis, mari hargai dengan membaca dengan baik. Penulis angkat tema “Hidup Berharga, Saling Memenuhi Kebutuhan” , tema tersebut akan diturunkan melalui teori Albert Bandura. kuy!!!

 

Pertama, pendidik harus menentukan 3 hal dalam ruang pendidikan #dirumahaja, yaitu 1) Siapa subjek peserta didik ? 2) Apa saja perilaku yang akan diteladani ? 3) Bagaimana pengkondisian lingkungan ?. Tenang, penulis tidak hanya melempar pertanyaan tapi akan menjawabnya juga kok sebagai jalan mempermudah. Misal:

Penentuan Komponen Social Learning Albert Bandura
Peserta Didik Tentukan: Saudara/ Orang Tua/ Tetangga

 

*Boleh satu orang maupun banyak orang sbg peserta didik. Kamu tidak perlu memberitahukan mereka bahwa mereka sebagai subjek belajar.

Perilaku Buat list Perilaku yang akan dipelajari peserta didik:

1) Memelihara benda hidup atau benda mati

2) Menjaga dan merawat benda hidup atau mati

3) Memenuhi kebutuhan benda hidup

 

*Benda hidup dapat berupa: Tanaman, Hewan (air /darat/udara)

**Benda mati dapat berupa peralatan rumah tangga

Pengkondisian Lingkungan Tentukan benda mana yang dijadikan alat peraga, contoh:

1) Tanaman dalam rumah/ruangan, seperti : Bunga Peace Lily, Lidah Mertua (Ini nama tanaman guys, bukan lidah beneran yang ditanam) juga boleh

 

2) Tanaman komoditas, seperti: Cabai, Bawang, Selidri

 

3) Hewan, seperti : kucing (darat), ikan Koi/ lele (air), burung merpati/ perkutut/ burung pipit (udara)

 

*Pastikan pengkondisian lingkungan memperhatikan kesukaan/ ketertarikan peserta didik terhadap “alat peraga”. Jangan beli kucing, jika peserta didik benci. Nanti sulit untuk melakukan proses pembelajaran kedepan.

 

 

Setelah menentukan 3 hal tersebut, kemudian kita siap untuk masuk ke proses belajar (Social Learning al Albert bandura), yaitu melalui empat tahapan: 1) Proses Atensi, 2) Proses Retensi, 3) Proses memproduksi gerak, 4) Proses motivasi. Masih berkaitan dengan ulasan sebelumnya, kita sajikan dalam sederhana dalam bentuk tabulasi berikut.

Proses Pembelajaran Social Learning Albert Bandura
Proses Atensi Tarik minat peserta didik dengan memamerkan suatu hal baru yang merupakan kesukaan peserta didik. Misal:

 

Jika peserta didik suka kucing, buatlah kucing tetangga “seolah-olah” datang ke rumah untuk minta makan. Konsistenlah hingga muncul ketertarikan dari peserta didik.

Bukti ketertarikan dapat berupa: 1) melihat apa yang Anda lakukan, 2) mendekati Anda ketika melakukan sesuatu 3) bertanya tentang apa yang telah Anda lakukan (ketika selesai memberi makan kucing).

 

*Ketika satu diantara bukti ketertarikan muncul, maka kita lanjut ke langkah berikutnya. Akan tetapi, jika ketertarikan tidak muncul, pertimbangkan kembali “alat peraga” yang Anda gunakan.

Proses Retensi Proses ini sangat penting dalam pembangunan ulang (rekonstruksi) pola pikir peserta didik. Melalui pengamatan saja telah terjadi proses retensi, lebih jauh jika terjadi dialog antara Anda (pendidik) dengan peserta didik. Misal:

Ketika Anda memelihara kucing (kesukaan peserta didik) padahal sedari dulu Anda terkenal dengan orang yang sangat tidak suka kucing. Tetiba, Anda memberi makan kucing setiap harinya dirumah dan diamati secara serius oleh peserta didik.

 

Maka, pada saat itu terjadi proses retensi yang harus Anda sikapi dengan cepat. Penyikapanya dapat berupa bertanya dari pendidik ke peserta didik, maupun menunggu peserta didik bertanya ke Anda sbg pendidik. Contoh pertanyaan:

1) Taukah kucing ini begitu hebat dalam hidup ?

2) Taukah binatang ini ternyata ada yang benci ?

3) Mau taukah kenapa saya (pendidik, yang dulu tidak suka kucing) memberi makan kucing ini ?

Atau pertanyaan serupa yang memancing “rasa penasaran peserta didik”

 

*Proses retensi diharapkan mencapai alam bawah sadar peserta didik, pada umumnya ada 2 kondisi yaitu “Bangun tidur” dan “menjelang tidur (ngantuk)”

**Pastikan pertanyaan yang dibuat turunan dari tema yang Anda angkat.

Proses Memproduksi Gerak Produksi gerak merupakan outcome (hasil tunai) dari proses Retensi. Hal tersebut dapat diamati pada TKP (Tempat Kejadian Perkara) saat retensi atau setelah prosesi Retensi berlangsung.

 

Bukti proses memproduksi secara langsung saat prosesi retensi, secara sederhana peserta didik menunjukkan perilaku : 1) Mengangguk, 2) Sering mengatakan ya (setidaknya hingga 8 kali ucapan “ya”).

 

Bukti keberhasilan proses memproduksi secara tidak langsung/ setelah selesai nya prosesi retensi, yaitu: 1) peserta didik melakukan hal serupa; memberi makan kucing/ sejenisnya, 2) peserta didik bersikap lebih hormat kepada pendidik, 3) peserta didik cenderung lebih mendengarkan pendapat Anda

 

*Kejadian perkara di lapangan belum tentu sama, pertimbangkan Tema yang Anda angkat dalam melakukan improvisasi (tindakan memutuskan sesuatu dengan tepat berdasar perubahan cepat lingkungan)

Proses Motivasi Proses ini merupakan stimulus agar peserta didik melakukan tindakan yang Anda harapkan. Diantara jalanya, yaitu: memberikan fasilitas kepada peserta didik untuk melakukan tindakan yang Anda harapkan. Seperti: memberikan pakan kucing tambahan, mengizinkan pemeliharaan kucing dirumah (dengan syarat tertentu).

 

*Penguatan proses motivasi penulis bagi 2, yaitu : ancaman dan harapan. Apabila peserta didik meremehkan, beri ancaman. Apabila peserta didik tertari, beri harapan.

**Proses ini bagian dari pelengkap untuk pencapaian tema yang Anda angkat.

 

Ketika proses pembelajaran Social Learning berhasil maka Anda (pendidik) diposisikan diri sebagai “tauladan” oleh peserta didik. Berhati-hatilah dalam bersikap, karena setiap detik kemudian adalah penanaman nilai (nilai terbagi 2: nilai baik dan nilai buruk). Tingkah laku Anda akan sangat diperhatikan oleh peserta didik, pada tataran ini diri Anda sebagai “Cermin Keteladanan” oleh peserta didik. Ketika cermin baik, maka hal yang dipantulkanya juga baik. Sebaliknya, jika cermin buruk, sebagus apapun benda maka hal yang dipantulkanya adalah buruk.

 

Kita telah sampai pada awal cerita wan kawan, kok awal kak? Soalnya penulis lebih ingin mendengar cerita dari wan kawan yang mengaplikasikan Teori Sosial Learning Albert Bandura. Tiada yang menarik dari teori, melainkan pengalaman yang menyenangkan. Semangat mencoba!!!

 

 

 

 

 

 

Rujukan Bacaan:

Bandura, Albert. “Social Learning Theory”, (Amerika: Prenctice Hall, 1977)

Tarsono, ‘Implikasi Teori Belajar Sosial (Social Learning Theory) Dari Albert Bandura       Dalam Bimbingan Dan Konseling’, Psympathic: Jurnal Ilmiah Psikologi, Vol. III,   No. I (2010), pp. 29-36

Suwartini, Sri.  ‘Teori Kepribadian Social Cognitive: Kajian Pemikiran Albert Bandura        Personality Theory Social Cognitive: Albert Bandura’, At-Tazkiah, Vol. 5, No. 1          (2016), pp. 37-46