Pelajar Islam Indonesia semenjak kebangkitanya pada 4 mei 1947, 2 tahun pasca kemerdekaan, organisasi pelajar tertua itu kini telah berusia 73 tahun. Banyak onak dan duri yang telah dilewati oleh Pelajar Islam Indonesia atau biasa kita sebut PII. Tidak salah jenderal sudirman mewanti akan jalan terjal yang dihadapi oleh organisasi PII. Baik agresi militer hingga agresi intel telah dilewati dengan berbagai rasa dan asa.

 

Kini, pada tahun 2020 –di tengah wabah pandemik Covid 19 PII menghadapi hari bangkit tangga 02 mei 2020. Suatu hari yang cukup sulit untuk diceritakan kepada anak cucu kelak, karena kelam lebih mewarnai dibanding cerianya para pelajar. Disisi lain, wabah tersebut menstimulus kader PII menghasilkan respon “Gerakan Digital”. Sederhananya, gerakan digital merupakan suatu gerakan rekrutmen/ pra batra yang dikemas melalui media maya dengan keumuman basis media Video Konferens seperti Zoom dan G-Meet. Gerakan tersebut juga dijadikan sebagai media upgrade keilmuan ke PII an seperti pengadaan kegiatan kajian konstitusi PII. Ada juga gerakan untuk menyelamatkan pelajar yang mengalami krisis multidimensi akibat berbagai hal –diantaranya dipicu oleh wabah Covid-19 yaitu dipelopori oleh Brigade Pelajar Islam Indonesia tingkat Pusat sehingga gerakan tersebut bersifat strategis-taktis. Ada juga gerakan yang digagas oleh badan yang dinaungi Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia yaitu alterschool.id    yang menggagas Layar Koneksi ditengah wabah Covid-19 sebagai gerakan yang menyentuh grass root. Serta banyak program dan kebijakan insedentil berupa respon pandemi Covid 19.

 

Diantara inovasi yang begitu luar biasa terjadi akibat “peran alam” atau “nature effect” memaksa kader PII untuk sadar dan bergerak dalam “ruang dan waktu yang berubah”. Hal itu menjadi cambuk yang menyakitkan ketika tetap menjadi “budaya” di lingkungan PII. Setiap perubahan tidak mesti dari paksaan luar (eksternal) tetapi dari pikiran yang merdeka dan kejujuran ide. Diantara sebab terjadinya hal tersebut karena menjadikan Khittah Perjuangan PII sebagai pagar yang dianggap sudah ada dan hanya perlu dilewati insendentil, seperti tatkala ada even baru menalaah kembali KP PII. Penulis menkiaskan KP PII sebagai “pagar” (koridor) yang mengawal ummat pada umumnya dan PII pada khususnya.

 

Bentuk Lapuknya KP PII

 

Penulis meyakini bahwa Khittah Perjuangan PII tidak akan hilang dalam kurun waktu, namun kurun waktu mampu melapukkan sesuatu, termasuk Khittah Perjuangan PII. Lapuknya KP PII itu bukan halnya benda padat sehingga kepadatanya berubah menjadi lunak, bukan. Lapuknya suatu benda karena sebab “terbiarkan”. Misal, besi dalam kurun waktu lapuk dengan karat yang menggerogoti kepadatan besi sehingga mudah patah besi tersebut. Kayu dalam kurun waktu terbiarkan bermandikan antara panas dan hujan, menjadilah kayu tersebut lemah, mudah patah dan lapuk.

 

Khittah Perjuangan PII menjadi lapuk tatkala penggerak PII “membiarkan” KP PII apa adanya, lapuklah ia. KP PII bukan tanaman yang di biarkan mungkin berkembang mungkin mati dan tidak mempengaruhi tanaman lain. Melainkan, KP PII seperti pagar yang membentengi ummat dan kader PII dari berbagai macam invasi.

 

Pagar (KP PII) jangan berpikir ada dengan sendirinya dan tetap awet/ abadi, ketahuilah bahwa suatu pagar (misal: pagar rumah) ada dibuat oleh penghuni rumah (baca: kader PII aktif) yang di ikhtiarkan menjadi pertahanan paling ulung menangkal invasi serta sebagai tatanan rumah (baca: ummat dan kader PII) yang nyaman dan aman. Lebih jauh, rumah tetangga melihatnya saja begitu menyejukkan, mendamaikan dan mensejahterakan apalagi bagi penghuni rumahnya.

 

Namun, KP PII yang dianggap oleh sebagian kader PII sebagai “barang jadi” membuatnya tidak terawat secara generasi dan regenerasi. Padahal, KP PII bagian dari sesuatu yang bentuknya berubah dengan zaman dan beradaptasi dengan ruang. Jika tidak, melapuklah KP PII itu oleh zaman dan ruang.

 

Melapuknya KP PII disebabkan karena kader PII tersebut tidak naik level dalam menata pagarnya, jika menggunakan sudut pandang Anderson dalam tataran kognitif masih didominasi oleh “Memahami”. Memahami pagar (baca: KP PII) berupa istilah-istilah maupun konsepsi. Jika naik level dari sudut pandang Anderson, kader PII harus naik tingkat ke jenjang berikutnya yaitu level Mengaplikasikan, Menganalisis, Mengevalusi dan level tertinggi Mencipta.

 

Ketika KP PII tetap dibiarkan dalam tataran memahami, sebagai kader PII hanya akan mengamati pagar yang telah ada –entah mengagumi atau menganggap biasa. Padahal, lebih jauh KP PII sebagai koridor tatanan kader Ideal dalam ruang dan waktu, tatanan kejayaan ummat Islam yang senantiasa didengungkan oleh kader PII dengan sebutan “Izzul Islam wal Muslimin”.

 

Sudah hampir 73 tahun bangkitnya PII dan lebih kurang 50 tahun hadirnya Khittah Perjuangan PII (KP PII), akankah pada kebangkitan PII ke 73 KP PII semakin lapuk karena stagnan pada level “memahami” ataukah naik jenjang dengan kesadaran hingga level “mencipta” ?

 

Lapuknya KP PII sulit untuk diraba, ia bukan objek materiil melainkan objek immateril. Memahaminya tidak cukup dengan akal namun dibalut dengan hati dan ketulusan. Setulus cinta kader PII terhadap Pelajar Islam Indonesia!