Oleh: Roro Syariati Sani*

Dalam sebuah sarasehan mahasiswa, Prof. Brian Yuliarto guru besar di Fakultas Teknik Industri ITB mengungkapkan bahwa Industri Indonesia problem riset di Indonesia bukan terletak pada produktifitas yang lemah tapi karena industri Indonesia tidak cukup siap untuk menggunakan dan mengembangkan hasil-hasil penelitian lembaga pendidikan tinggi (universitas).

Pendapat ini cukup menarik disaat Indonesia sedang berupaya menggenjot produktivitas riset. Menurut data ristekdikti pada tahun 2018 jumlah publikasi ilmiah bersertifikasi nasional yang dimiliki indonesia sejumlah 16.528 menjadi yang terbanyak kedua setelah malaysia. Merupakan prestasi pertumbuhan yang tinggi yaitu sebanyak 263,27% dibanding tahun 2015. Hal tersebut dipengaruhi oleh regulasi pemerintah yang mendukung. Diantaranya dengan keluarnya UU Sisnas Iptek (Undang-undang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang menjamin alokasi dana abadi riset sebesar 5 triliun rupiah di tahun 2020. Menteri Riset dan Pendidikan Tinggi (Ristekdikti) pada saat berpidato dalam rangkaian acara Hari Kebangkitan Teknologi Nasional di Bali 26 Agustus 2019 lalu mengungkapkan harapannya untuk mengalokasikan dana abadi riset sejumlah 30 triliun rupiah.

Alokasi dana untuk riset yang begitu besar seolah menjawab kegelisahan peneliti dan pengembang yang diwakili oleh ungkapan Ahmad Zaky, CEO Bukalapak di Twitternya April lalu yang menggunakan data GERD (Gross Expenditure on Research and Development) Indonesia di tahun 2016.

Namun penelitian tidak bisa hanya berhenti dipublikasi. Peningkatan anggaran cukup berhasil menggenjot jumlah penelitian dan publikasi ilmiah. Meskipun secara penganggaran dana riset masih banyak dibiayai oleh pemerintah dan sedikit partisipasi dari swasta. Universitas sebagai lembaga yang paling berperan dalam menghasilkan riset sering dikambing hitamkan karena dianggap hasil risetnya tidak bisa memenuhi atau tidak nyambung dengan kebutuhan industri. Padahal produk penelitian yang dihasilkan sudah cukup banyak dan berguna bagi industri, tapi perusahaan lebih mengandalkan impor dari luar.

Data BPS tahun 2016 terdapat sejumlah 26,71 juta perusahaan diluar sektor pertanian. Perusahaan tersebut didominasi oleh sektor perdagangan dan pengolahan. Dari jumlah yang besar itu hanya sedikit yang memiliki Divisi Research & Development (RnD), seperti kimia farma dan unilever contohnya. Masyarakat Indonesia terutama pelaku industri dirasa kurang melek dengan kebutuhan akan riset. Berdasarkan paper yang ditulis oleh Dian Prihayanti dkk berjudul “R & D dan Inovasi di Perusahaan Sektor Manufaktur Indonesia” disebutkan bahwa keberadaan  R & D di perusahaan Indonesia pun tidak selalu bisa menghasilkan inovasi yang digunakan oleh perusahaan. Padahal kalau misal hanya mengandalkan dua sektor paling potensial di Indonesia yaitu pertanian dan perikanan ada banyak sekali peluang inovasi yang bisa dihasilkan dan belum tergarap.

Fakta tersebut cukup mengaminkan pendapat Profesor Brian. Alumni Tokyo University ini pernah bekerja di lembaga pengkajian dan pengembangan di jepang dan juga bekerja sama dengan lembaga penelitian milik sebuah perusahaan mobil terkemuka di dunia. Beliau menjelaskan di negara-negara maju pemerintah berperan besar dalam menjembatani akademisi dengan industri. Sehingga produk riset bisa dimanfaatkan dengan baik.

Sementara itu dalam menghadapi era industri 4.0 yang disambut gagap gempita oleh semua elemen masyarakat, pemerintah dalam hal ini Kementrian Perindustrian membuat sebuah langkah strategis berupa revitalisasi kegiatan penelitian dan pengembangan serta berupaya membangun pusat inovasi. Kegiatan litbang akan difokuskan pada lima sektor prioritas industri 4.0 yaitu industri makanan dan minumna, kimia, tekstil, elektronik dan otomotif. Selain itu Indonesia yang saat ini merupakan pasar e-commerce terbesar di Asia Tenggara  semakin rajin dalam mengembangkan dan menumbuhkan start up berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Menurut riset firma McKinsey & Company pada Agustus 2018, pada bidang ini saja industri di proyeksikan akan tumbuh sekitar 8 kali lipat di tahun 2022.

Uraian diatas masih hanya mengupas riset yang berkaitan dengan industri, belum lagi riset sosial yang bisa mempengaruhi kebijakan pemerintah maupun lembaga sosial dan juga riset untuk ilmu pengetahuan itu sendiri. Nyatanya masyarakat masih memandang sebelah mata dengan dunia penelitian. Peneliti tidak cukup seksi untuk menjadi tujuan karir mahasiswa dibanding PNS misalnya. Karya ilmiah yang menjadi syarat kelulusan mahasiswa di setiap jenjang pendidikan tinggi kerapkali hanya menjadi tumpukan sampah yang tidak berguna. Angka publikasi ilmiah yang besar pun dirasa tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kemajuan negara Indonesia. Padahal jika dilihat dari sisi positif upaya yang dilakukan pemerintah dalam membudayakan masyarakat ilmiah sudah cukup baik. Hanya saja perlu disokong oleh kemampuan dan kesiapan ilmiah masyarakat industri itu sendiri.

Masih akan ada lagi kah pertanyaan bernada sindiran yang mengukur kebermanfaatan riset dari aplikasi konkret bagi masyarakat luas. 30 triliun angka yang fantastis bukan?

_______________

*) Penulis adalah Kadiv Kajian Isu Strategis dan Komunikasi Eksternal Korpus BO Korps PII Wati 2017-2020