Indonesia secara geografis merupakan daerah dengan potensi bencana alam yang tinggi, bahkan beberapa literatur menyebutnya sebagai miniatur bencana. Tengoklah sejarah tentang letusan gunung krakatau di tahun 1883 yang mengakibatkan bumi mengalami kegelapan selama dua setengah hari akibat tertutup debu vulkanik. Gempa dan Tsunami di Aceh pada tahun 2004 yang menewaskan ratusan ribu jiwa. Hingga bencana berturut-turut di satu tahun kebelakang mulai dari gempa Lombok, gempa dan tsunami Palu, tsunami Banten serta yang terbaru banjir bandang di Gowa. Belum lagi beberapa bencana alam yang tidak mendapatkan perhatian serius secara nasional seperti banjir Kebumen, longsor di Jawa Barat dll. Rentetan kejadian ini memunculkan gelombang respon yang beragam dari masyarakat. Mulai dari menjamurnya gerakan-gerakan sosial atas nama kemanusiaan sampai kekhawatiran berlebihan yang dirasakan masyarakat Indonesia terkhusus yang tinggal di daerah dengan potensi bencana. Benarkah bencana alam adalah benar suatu bencana? 

Ada banyak kacamata kepentingan dalam memandang bencana alam yang kemudian menjadi alasan manusia bertindak. Dalam kacamata media, bencana alam adalah peluang emas untuk mendapat slot pemberitaan yang laku. Paradigma ‘Bad news is a good news’  dan beberapa news value yang dianut oleh penggelut media akan memandang kejadian spektakuler sebagai sebuah opportunity. Dalam kacamata ilmuan, bencana alam akan menjadi objek penelitian yang secara positif mampu menjadi antisipasi dan solusi dari efek yang ditimbulkan oleh bencana alam. Lembaga sosial dan kemanusiaan akan memperoleh program kerja baru. Dan dalam kacamata naif saya (sebagai pengangguran saat itu), bencana alam adalah momen aktualisasi diri dengan menjadi seorang relawan. Tentunya ada banyak kacamata lain yang tidak akan diulas disini, misalnya sudut pandang agama dan pemerintah. Dan tidak ada sudut pandang yang bisa dijustifikasi sebagai sebuah kesalahan. Manusia yang terdampak bencana alam (korban) tentunya memiliki hak paling besar untuk memberikan sudut pandang. Begitu juga dengan alam, sebagai subyek.

Mari kita mulai dengan mendefinisikan bencana, menurut KBBI bencana adalah sesuatu yang menyebabkan kerusakan, kerugian dan penderitaan. Jutaan tahun yang lalu saat bumi masih dihuni oleh sedikit manusia bukan berarti tidak ada bencana alam. Bumi sudah bergejolak sebagai tanda kehidupan‘nya’. Letusan gunung berapi adalah alamiah yang menjaga keseimbangan bumi sebagai satu-satunya planet yang terdapat kehidupan banyak makhluk di dalamnya1. Dalam dogma religi bahkan pernah diberitakan tentang banjir bandang maha besar yang memusnahkan semua spesies dimuka bumi kecuali sepasang dari setiap jenisnya (kisah Nabi Nuh AS)2. Tsunami sebagai bencana yang paling ditakuti masyarakat Indonesia pun sebenarnya alamiah juga sebagai suatu efek dari pergerakan lempeng bumi didasar lautan, maupun pergerakan angin. Berturut-turut badai, angin tornado, puting beliung, longsor dan lainnya sebagai bagian dari gejala alam. Manusia sebagai penduduk bumi harusnya sudah sadar dan mampu mengenali karakteristik bumi sehingga mampu beradaptasi dan memandang berbagai efek pergerakan bumi sebagai sifat alamiah yang dimiliki bumi. 

Lantas mengapa hal itu kemudian dinarasikan sebagai bencana yang akhirnya memunculkan ketakutan pada manusia. Seperti yang didefinisikan diatas, suatu kejadian akan disebut bencana jika ia menimbulkan kerusakan, kerugian dll. Semakin besar efek dan dampaknya akan semakin dikenang sebagai bencana alam yang besar. Efek ini lebih spesifik lagi yang berimbas pada manusia. Banyaknya korban jiwa, kerugian materialistik, terhentinya berbagai rutinitas kehidupan manusia dianggap sebagai sebuah bencana. Padahal bagi alam (bisa jadi) itu bukan bencana. Analogikan saja seperti ini, buang angin bagi seseorang adalah kebutuhan, tapi bagi orang selain dia adalah bencana. Yang perlu manusia sadari adalah seluruh alam semesta ini tidak berpusat pada manusia (etnosentris). Dalam islam ditegaskan bahwa manusia diciptakan selain sebagai abdillah (hamba Allah) tapi juga khilafah (pemimpin). Makhluk yang diberi peran untuk mengelola alam semesta. Namun hal itu tidak bisa dimaknai sebagai eksploitasi alam untuk kepentingan manusia. Dalam bahasa politis ada istilah dari, oleh dan untuk. Alam hanya mendapat porsi ‘dari’ dan ‘oleh’, sedang pikiran manusia begitu piciknya untuk memikirkan porsi ‘untuk’ alam. Beberapa dekade kebelakang, dimotori oleh beberapa ilmuwan dan aktifis sosial mulai menggalakkan berbagai gerakan ‘peduli’ alam. Sebuah usaha terlambat untuk menambal eksploitasi besar-besaran sejak manusia tercipta, terlebih pasca revolusi industri.

Maka kemudian jika bencana alam adalah aktifitas alamiah bumi serta campuran dampak dari aktifitas manusia, pantaskah manusia menolak (atau dalam artian geram) terhadapnya. Beberapa teknologi hasil buah pikir manusia sudah banyak memberikan solusi baik berupa antisipasi maupun recovery. Bendungan untuk mencegah banjir, detektor gempa dan tsunami, bangunan anti gempa dan yang lainnya. Teknologi tersebut mampu meminimalisir dampak yang dihasilkan dari suatu bencana alam. Konsen para ilmuwan (sains) terhadap gejala alam (terutama bumi) yang kemudian dapat menghasilkan sebuah usaha yang solutif. Masalahnya di Indonesia sendiri perkara sains masih belum mendapat perhatian yang serius. Penelitian mengenai potensi bencana sampai ke simulasi dampaknya sudah banyak dilakukan oleh para ilmuwan dengan biaya yang tak sedikit. Namun pemerintah selaku pemangku kebijakan serta masyarakat umumnya kurang ‘aware’ sehingga tidak meresponnya dengan serius. Gejala alam memang tidak bisa ditolak, namun dampaknya bisa diantisipasi sehingga yang disebut sebagai bencana alam dapat diminimalisir.

Dalam hanya berfokus pada bumi saja sudah banyak hal yang perlu manusia ketahui, pahami dan siasati. Belum lagi bicara langit dengan segala rahasianya yang akan membutuhkan kajian yang lebih serius lagi. Manusia diberi otak untuk berfikir dan hati untuk berempati yang masing-masing bersisian erat. Empati tanpa solusi adalah kebodohan, solusi tanpa empati adalah kepicikan. Tanpa mengurangi empati kita kepada saudara yang tertimpa bencana alam, mari mulai menumbuhkan empati terhadap alam dengan lebih menjaganya, merawatnya dan memahaminya. 

 

Source:

1 nationalgeographic.grid.id

2 QS Hud: 38