Oleh :

Bintang Mahakarya Sembahen | SMA 26 Jakarta Selatan

 

Di keramaian setiap sudut kota, tak henti-henti nya terdengar kata “Dilan”. Tentu Dilan yang dimaksud adalah tokoh utama dari film Dilan 1990-lah yang selalu menjadi perbincangan khalayak umum. Tak jarang pula bermunculan orang yang me-remake trailernya, mulai dari serius hingga menjadi bahan candaan. Hal ini dapat dilihat melalui media sosial Instagram, juga Youtube.

Film Dilan 1990 adalah sebuah film yang mengisahkan kehidupan romantisme kisah cinta anak SMA pada tahun 1990. Dilan merupakan tokoh utama dari sebuah film yang diangkat dari sebuah serial novel Dilan 1990 dan Dilan 1991. Kesan yang diangkat dari tokoh bernama Dilan ini adalah seorang anak yang bandel namun tergolong cerdas. Hal ini dibuktikan oleh dirinya yang selalu mendapat peringkat 1 di sekolahnya.

Jika kita membahas tentang romantisme, akan selalu ada pasangannya. Tokoh Dilan berpasangan dengan tokoh yang bernama Milea. Ia pindah sekolah dari DKI Jakarta ke Kota Bandung, Jawa Barat. Diceritakan disini alasan Milea pindah ke Bandung adalah semata-mata merupakan tuntutan pekerjaan ayahnya yang merupakan bagian dari institusi TNI. Jadi, Dilan dan Milea-lah yang memvisualisasikan dengan apik apa yang dimaksud oleh sang sutradara, juga seseorang yang bernama Pidi Baiq.

Pidi Baiq adalah seorang penulis dari novel Dilan 1990 yang juga merupakan personel dari band indie The Panasdalam. Pria yang akrab dengan sapaan “ayah” ini merupakan alumnus ITB. Berbekal hasil studi yang dilanjutkannya, ia terjun ke dalam dunia sastra novel. Yang ia juga telah menghasilkan beberapa karya-karya novel, yaitu Drunken Monster, Drunken Molen, Drunken Mama, Drunken Marmut, Al-Asbun Manfaatulngawur, hingga Dilan.

Dari beberapa novel yang dihasilkan, Novel Dilan memberikan dampak yang cukup berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari di Indonesia. Terutama maraknya penjual Jaket Jeans dan Batch di lengan kanannya yang merupakan ciri khas dari karakter Dilan itu sendiri. Ternyata banyak penonton yang menilik dari pembawaan serta aksesoris tokoh utamanya, sehingga penonton, terutama pelajar, terjebak akan menganggap diri sendiri sebagai Dilan yang sesungguhnya di dunia nyata.

“Cemburu itu buat orang yang tidak percaya diri. Dan sekarang aku sedang tidak percaya diri.” sudah tidak asing lagi di telinga kita. Dalam kehidupan sehari-hari, pelajar sekolah juga banyak memakai kata-kata gombalan ala Dilan yang dikeluarkan di film. Mereka meniru dan juga membuat bahan candaannya di media sosial.

Tidak hanya di kalangan pelajar, netizen pada umumnya telah menuding satu organisasi politik yang memanfaatkan situasi dengan menamai karakter ikoniknya sebagai Dilan. Hal ini tentu memicu keributan di dunia maya. Namun pada akhirnya, orpol ini mengklarifikasi bahwa nama ikon ini telah terlebih dahulu dimunculkan sebelum peredaran novel Dilan ini merebak.

Novel Dilan muncul di tahun 2015. Tidak lama setelah terbitnya novel ini, kata “Dilan” meledak di pasaran pembaca. Bagi mereka yang sudah membaca, tentunya sudah terdapat gambaran alur cerita yang akan disajikan. Berbeda halnya dengan yang belum membaca, mereka menonton filmnya didasarkan karena beberapa alasan. Diantaranya yakni; oleh pemeran, atau genre romance yang ditawarkan.

Namun hal yang sangat disayangkan terjadi. Banyak dari penikmat novel dan film Dilan dari kalangan pelajar yang salah tangkap dari substansi kisah Dilan ini. Pada umumnya, mereka menyontoh hal-hal yang bersifat materiil seperti jaket hingga motor CB yang menjadi identitas Dilan. Mereka melupakan bahwa Dilan bisa seperti itu karena budaya literasi yang ia lakukan. Bahkan kata-kata yang digunakan Dilan kepada Milea merupakan kalimat baku yang mencerminkan ia banyak membaca buku sehingga memengaruhi penggunaan bahasa sehari-hari menjadi suatu kaidah kebahasaan yang sistematis. (adm.Emha)