Oleh: Sunano*

Dalam revolusi Desember 1945 yang terkenal dengan peristiwa Cumbok, GAPIDA (Gabungan Pelajar Islam Daerah Aceh) sebagai bagian dari kesatuan pemuda pelajar, yang merasa terpanggil dan bertanggung jawab terhadap keselamatan negara, bersama-sama rakyat berada di barisan depan menyerbu untuk menghancurkan penghianat bangsa. Pelajar Islam tidak diam saja, melihat kitab suci Al-Qur’an dirobek-robek, Ulama, dan rakyat yang ingin merdeka dianiaya. Para pelajar Islam berjuang mati-matian mempertahankan haknya sebagai bangsa yang merdeka dan bebas dari penjajahan.

Setelah pembasmian penghianat Cumbok selesai, pada tahun 1946, keadaan tanah rencong kembali tenang, para pelajar kembali bisa bersekolah, walaupun sebagian dari anggota GAPIDA ada yang masih melanjutkan perjuangan. Pada bulan Januari 1946 diadakan konferensi GAPIDA yang pertama, salah satu keputusan yang dihasilkan adalah mengubah GAPIDA menjadi PERPIINDO (Persatuan Pelajar Islam Indonesia).

Melihat kemungkinan, bahwa semakin hari, kondisi bangsa Indonesia semakin meruncing pertikaian dengan Belanda, maka PERPIINDO menganjurkan kepada segenap anggotanya supaya disamping sekolah, juga berlatih menggunakan senjata berat dan ringan sebagai persiapan, bila Belanda menyerang kembali Indonesia. Segala perjuangan PERPIINDO diurus langsung oleh Dewan Perjuangan PERPIINDO dengan mempertimbangkan segala suasana yang terjadi di tanah air Indonesia. Untuk itu perlu dengan tegas disusun suatu tenaga perjuangan yang benar-benar pejuang yang tangkas. Dalam sidang PERPIINDO pada tanggal 14 Maret 1947, lahirlah laskar PERPIINDO yang di pimpin oleh A.K jacouby .

Diputuskan juga bahwa semua anggota yang berumur di atas 15 tahun, diwajibkan berlatih dalam laskar PERPIINDO. Dengan kerjasama dengan TNI, maka pelatihan laskar PERPIINDO berlangsung dengan memuaskan. Anggota yang sudah terlatih secara militer dikirim ke desa-desa dan kampung-kampung untuk turut serta melatih rakyat menggunakan senjata. Tidak kecuali para puteri PERPIINDO berlatih palang merah (hilal ahmar) yang dibantu oleh perawat rumah sakit pemerintah.

Mengingat jumlah pelajar Aceh yang terbatas, maka dalam salah satu rapat PERPIINDO, laskar PERPIINDO menetapkan bahwa hanya ada satu resimen, yaitu resimen TPI (Tentara Pelajar Aceh). Dalam waktu singat anggota TPI berjumlah lebih kurang 10.000 jiwa. Kemudian dengan penetapan resimen compi TPI Aceh dibagi menjadi 6 bataliyon.

Pada bulan Maret 1948 dengan bantuan divisi X Teungku Cik Di Tiro (mujahidin), laskar PERPIINDO mengadakan latihan kader sebanyak 50 orang di asrama Kuta Alam Kutaraja. Dalam salah satu rapat saat pelatihan nama TPI diresmikan. Walaupun sebelum diresmikan nama TPI sudah sering kali digunakan untuk menyebut laskar PERPIINDO. Bukan hanya staf Resimen saja yang berlatih, namun di tiap-tiap Balatiyon juga mengadakan latihan kader yang dibantu divisi X Teungku Cik Di Tiro.

Dalam konferensi PERPIINDO yang kedua pada bulan April 1948 di kota Sigli, semua rencana PERPIINDO disahkan secara aklamasi. Dalam konferensi ini juga disahkan uniform TPI lencana dan bendera. Lencana berbentuk bulat telur, dasar merah dan di tengah-tengahnya bulan sabit dan bintang. Bendera berbentuk segi empat, dengan dasar merah di tengahnya tercantum lencana tadi dengan warna putih.

Biarpun tanah rencong tidak kembali dimasuki Belanda pada agresi pertama, barangkali Belanda trauma dengan perjuangan rakyat Aceh yang tidak kenal putus asa dan pantang menyerah, namun TPI selalu siap mengahadapi segala macam kemungkinan. Setiap saat anggota TPI dikirim ke daerah-daerah untuk menyusun tenaga raksasa dalam perang semesta (totaliter). Juga setiap saat siap membantu TNI dalam menyelesaikan berbagai pemberontakan di daerah. Seperti keuletan TPI Bataliyon V Susoh yang menghancurkan partai Raja Tampok (barisan liar) di perbatasan Aceh Barat dan Aceh Selatan, dan berhasil dengan sangat memuaskan.

Saat meletus agresi Belanda kedua pada tanggal 19 Desember 1948 tenaga pejuang TPI bergabung dengan TNI untuk membantu perjuangan di segala lapangan. Di antaranya ditugaskan di ALRI sebagai penjaga pantai, barisan bumi hangus, membuat lubang perlindungan dan pertahanan, membantu KMK pengawal kota, dan peninjau udara. Satu compi TPI bersama-sama dengan kepala staff umum TNI divisi X Tjek Mat Rahmany berangkat ke front medan area dan bertempur disamping TNI.

Sesudah statement Roem-Royen ditandatangani maka pada bulan April 1949 seluruh anggota TPI dikerahkan kembali ke bangku sekolah. Di waktu KMB TPI senantiasa siap siaga dan juga tetap di bangku sekolah. Hal ini disebabkan janji Belanda memang sejak dulu sukar sekali dipegang.

Setelah perjanjian KMB disepakati kedua belah pihak, antara Indonesia dan Belanda maka semua laskar kerakyatan dan juga pemuda pelajar dibubarkan dan bagi yang hendak bergabung dengan TNI dipersilahkan. Pembubaran laskar pelajar lewat UU Pemerintah No. 32 tahun 1949.

Bergabung dengan PII
Komunikasi dan hubungan dengan PII, dan khususnya dengan Brigade PII di Yogyakarta sudah ada sejak awal berdirinya Brigade PII. Kedekatan ini juga disebabkan karena banyak ulama Aceh yang tergabung dalam Masyumi. Sebagai salah satu anak kandung Masyumi, PII jelas menyebar seiring semakin meluasnya pengaruh Masyumi di seluruh Indonesia. Setiap ada Masyumi di daerah tertentu, juga akan diikuti dengan berdirinya cabang PII dan GPII. Hal ini juga disebabkan sebagai sesama laskar bentukan pelajar, sehingga memiliki kedekatan emosional antara laskar PERPIINDO – TPI dan Brigade PII.

Di Aceh, komunikasi Masyumi dijalin lewat hubungan antara Muhammad Daud Beureu’eh (1899-1987) sebagai pimpinan PUSA dengan Muhammad Natsir dan para pimpinan Masyumi di Yogyakarta. Selama tokoh-tokoh Masyumi yang memegang peranan penting di pemerintahan, rakyat Aceh tidak melakukan sikap apapun, namun tetap mengamati peta politik tanah air. Lewat hubungan yang baik inilah PII juga menjalin hubungan yang baik dengan para pelajar di Aceh yang tergabung dalam PERPIINDO.

Dalam Kongres PII ke III yang berlangsung di Bandung, disamping PERPIINDO berfusi dengan PII, utusan TPI dapat bertemu langsung dengan pimpinan pusat Brigade PII, sehingga dapat menentukan langkah selanjutnya kedepan dengan tegas dan hasil permufakatan bersama. Fusi yang dilakukan bukan melebur sepenuhnya kepengurusan PERPIINDO kedalam tubuh PII, namun masih memiliki otonomi dalam menentukan kebijakan dan program pemberdayaan pelajar di Aceh. Dan pada tahun 1951 ketika diselenggarakan Konggres Muslimin Indonesia (KMI) di Jakarta dan melahirkan Front Pemuda Islam Indonesia (FPII), antara PII dan PERPIINDO masih duduk satu meja sejajar, sebagai salah satu perwakilan pelajar Aceh.

Patut juga diketahui, selama TPI berjuang bersama-sama TNI tidak pernah mendapat gaji apalagi pangkat. Memang bukanlah itu tujuan TPI dalam perjuangannya, namun semata-mata demi tanah air dan harga diri bangsa. Dan pada intinya perjuangan mereka adalah panggilan jihad sebagai wujud nyata keimanan mereka. Semangat Islam yang menyala-nyala yang tidak pernah padam inilah yang menyebabkan TPI tampil kedepan memenuhi panggilan ibu pertiwi.

Bagi PII (Pelajar Islam Indonesia), perjuangan PERPIINDO dan khususnya TPI Aceh tidak mudah dilupakan (seharusnya). Karena, justeru perjuangan tersebut adalah lukisan yang indah dan permai yang ternukil dalam lembaran sejarah panjang Pelajar Islam Indonesia (PII) pada khususnya dan sejarah pelajar Indonesia pada umumnya. Dan sepantasnyalah patut dicatat dengan tinta emas sebagai kenang-kenangan sejarah PII di masa yang akan datang.

*Peminat masalah sejarah. Penulis buku “Muslim Tionghoa di Yogyakarta“, terbitan Matabangsa.