Oleh: Hendra Januar

Setiap yang datang, pastilah ia akan pergi. Daun-daun yang semula datang sebagai pucuk, pada waktunya mereka akan mengering dan gugur. Buah-buahan yang menggantung di pohon, ada masanya mereka dipetik atau membusuk dan jatuh ke tanah, menjadi santapan cacing atau hewan lainnya yang juga kelak tiada.

Memanglah kedatangan itu selalu disusul kepergian. Orang-orang yang semula tidak ada dalam kisah hidup kita, kemudian mereka tiba-tiba datang. Dan pada waktunya nanti, mereka tiba-tiba juga akan pergi. Ketika mereka tiada, kita hidup dalam kerinduan, berharap mereka kembali.

Barang-barang kita miliki saat ini, yang pada awalnya tidak kita miliki, pelan-pelan akan rusak dan tak terpakai lagi, atau kita jual ke toko loak. Padahal ketika barang-barang itu pertama kali kita miliki, kita merawatnya, membersihkannya, mengusap-usapnya, untuk harapan semoga baik-baik saja.

Hidup adalah tempat berkumpulnya yang tidak abadi. Hujan pasti ada redanya. Luka pasti ada akhirnya. Bahagia pasti ada saat dimana ia pergi dan tergantikan derita. Apa yang kita tangisi bukan karena kepergian, tapi kita menolak ketidakabadian. Kita ingin abadi, ingin hidup lebih lama, mengingat dunia ini sangat menyenangkan, atau karena banyak hal yang belum terselesaikan.

Pernahkah Anda berkata, “Padahal semalam dia masih teleponan sama aku, aku gak menyangka hari ini dia tiba-tiba pergi”? Dari kejadian itu, apakah kita sepenuhnya sadar bahwa kenyataan di depan adalah medan yang tidak bisa ditebak, gelap dan misterius. Memang kita punya rencana-rencana, target-target, tapi..apa artinya jika kita tiba-tiba tiada? Maka kita sadar, rencana adalah rencana, dan kita tahu itu bukan sesuatu yang mendorong kita untuk lupa akan masa habis di dunia.

Dalam al-Quran, Tuhan bertanya kepada kita, fa-aina tadzhabun? Kemana engkau akan pergi, setelah lama berjalan di dunia dengan segala ketertarikan yang melupakan kita pada makna ada di dunia?