Oleh : Anja Hawari Pasya

“Journey to Mecca’’ begitulah judul film yang hingga sekarang masih terngiang dibenak saya. Film yang menceritakan seorang pelancong muda asal Maroko bernama Ibnu Batutah bertekad kuat pergi menuju kota Mekkah untuk melaksanakan haji dan mencari pengalaman.

Mengingat hal ini, setidaknya kita memahami perkataan beliau sendiri yang berbicara ‘’Berpergian itu membuat anda terdiam lalu mengubah anda menjadi pendongeng.’’

Kata-kata ini ada benarnya, berpergian itu kadang membuat kita terdiam,melihat,mengobservasi lingkungan setempat yang kita kunjungi setelahnya kita akan bercerita semua yang kita lihat kepada sanak keluarga,teman dekat bahkan kekasih sekalipun.

Melihat senarai sejarah masyarakat Yunani di dalam buku karangan Andrea Wilson Nigthtingale dalam bukunya Spectales of Truth Classical Greek Philosophy. Orang-orang Yunani sering mengadakan perjalanan jauh meninggalkan kota asal untuk mengunjungi tempat suci atau menyaksikan kegiatan keagamaan, orang yang demikian akan menceritakan ulang apa yang dilihat seketika pulang ke kota asal. Menimbang hal ini, sebetulnya kita bukan hanya bercerita atau mendongengkan pengalaman semata dengan lisan. Tetapi  alangkah lebih bermanfaat kita menuliskan kembali pengalaman yang pernah kita tempuh dari suatu kota. Karena biasanya perkembangan pengetahuan itu menjadi nyata karena adanya catatan.

Seorang Tan Malaka terbang nun jauh meninggalkan ibu pertiwi menuju negara keju berkelana di benua Eroupa. Mengamati,melakukan analisis lingkungan disana hingga ia tulis dalam bukunya Dari Penjara ke Penjara. Ia banyak bercerita pahit getirnya hidup di masa pelarian dari negeri ke negeri,jeruji ke jeruji.

Seorang Mochtar Lubis pergi meninggalkan tanah tercinta menuju negeri paman Sam sepulang dari sana menerbitkan buku Perlawatan ke Amerika, beliau memberikan gambaran objetif tentang Amerika dan manusia yang hidup disana. Ada baiknya juga kita melihat keuletan Soe Hok Gie menulis setiap perjalanan yang ia tempuh, ia banyak bercerita setiap kali hendak pergi menuju gunung Gede Pangrango maupun kota lainnya. Catatan perjalanan pribadi itu ia tulis selama 11 tahun hingga menjadi buku yang hingga kini masih utuh bisa dibaca.

Dari sini pula kita menyadari bahwa menjadi travel writting atau sastra perjalanan itu setidaknya mampu memberikan ilmu yang bermanfaat karena utuh bisa dibaca.

Di negri Prancis hidup seorang bernama Honre De Balzac, ia menulis sebuah buku My Journey from Paris to Java. Perjalanan dari Paris menuju Jawa, ia banyak bercerita lika-liku kehidupan dan berbagai pengalaman bersama kawan-kawannya ketika pergi menuju Paris ke Jawa.

Sebagian kita mungkin beraktivitas sebagai aktivis organisasi. Ini merupakan kesempatan emas untuk banyak bercerita lewat menulis. Rutinitas sebagian dari kita banyak dihabiskan berkelana dari kota ke kota terlepas dari agenda rapat besar maupun turba.

Tidak ada salahnya jika kita mencoba bercerita melalui tulisan agar menjadi catatan yang kelak dikenang atau penggiat literasi melalui sastra perjalanan. Menulis tidak harus dimulai dari hal-hal yang besar dan bahasa yang ruwet dicerna, setiap kejadian yang kita alami bisa dijadikan seuntai kalimat yang mampu memberikan informasi selebihnya ilmu pengetahuan.

Sekian dan semoga