Oleh : kelompok diskusi LIT Kudus 2017

Pada siang yang terik itu tepat di hari Senin, 10 Juli 2017. Kami salah satu dari delegasi kelompok peserta Leadership Intermediet Training (LIT) Pelajar Islam Indonesia (PII) yang diselenggarakan di Kudus, Jawa Tengah. berkesempatan untuk mengadakan kegiatan wawancara terhadap Pak Deni. Pak Deni ini adalah salah satu pengurus Yayasan di Masjid Al-Aqsa atau yang biasa disebut dengan Masjid Menara Kudus yang berada pada komplek pasar yang tepatnya berada di Jalan Menara, Kauman, Kudus.

Kami berjalan menuju lokasi sekitar pukul 12.30 siang hari. Perjalanan dari lokasi training kami menuju Masjid Menara Kudus memakan waktu yang singkat, hanya sekitar 15 menit saja.

Sesampainya disana kami disambut oleh kawasan pasar yang menjajakan aneka barang dan makanan khas daerah maupun sekedar makan ringan. Masjid tersebut memiliki taman yang cukup luas, namun taman tersebut tidak ditujukan untuk diinjak maupun bersantai diatasnya.

Kondisi pasar saat itu ramai, walaupun tidak seramai pasar pada pagi hari. Banyak orang yang datang menggunakan minibus maupun kendaraan pribadi. Jalan pada sekitar Masjid Menara dapat diakses dua arah walaupun bersempitan dan berdempetan dengan pasar. Kami pergi ke lokasi dengan berjalan kaki mengaku tidak memasalahkan terhadap kondisi jalanan, Karena jalanan itu sendiri tidak terlihat rusak apalagi berlubang. Namun pada saat itu cuaca panas dan kendaraan bermotor terkadang mengganggu ketenangan dan udara sekitar.

Sesampainya di sana, kami dipersilakan untuk masuk di ruang administrasi Masjid Al-Aqsa. Kami disambut oleh Pak Deni dengan sangat baik dan juga ramah. Pak Deni menjelaskan bahwa Sunan Kudus menyebarkan Islam tidak menggunakan cara kekerasan. Sunan Kudus menarik masyarakat untuk masuk ke agama Islam dengan cara yang unik. Sunan Kudus menggunakan Masjid dengan arsitektur lokal, bangunannya menyambung, atapnya berbentuk limas, dan bersusun.  Dapat kita lihat bahwa kalau kita menggambar sebuah gunung, kebanyakan dari kita menggambar dengan bentuk segitiga. Oleh Karena itu atap masjid tersebut dibuat dengan bentuk segitiga. Masjid tersebut banyak menggunakan bahan dasar dari batu- batuan besit dan kayu- kayu dan mengurangi pengunaan material dan besi yang lain.
Pada masjid tersebut terdapat Menara. Fungsinya adalah sebagai tempat mengumandangkan adzan, menaruh bedug serta kentongannya, memberikan pengumuman kepada masyarakat dan untuk berdzikir pada malam hari. Bedug tersebut dipasang di atas Menara agar dapat terdengar jauh, bahkan sampai sekarang. Masjid tersebut didirikan pada tanggal 19 Radjab1956 H atau tanggal 23 Agustus 1549 M. informasi tersebut dapat diketahui dari batu prasasti. Dalam batu tersebut terdapat 4 poin, yaitu antara lain pemberian nama Masjid, pemberian nama tempat, pemberian tanggal pendirian, dan pemberian nama yang membangun. Sedangkan pendiri dari Masjid Al- Aqsa tersebut adalah Raden Ja’far Shodiq atau yang kita kenal dengan Sunan Kudus. Kalau sekarang kayu- kayu yang digunakan untuk membangun masjid tersebut sudah direnovasi. Sedangkan untuk peninggalan ada yang kasat mata maupun yang tak kasat mata. Contoh yang kasat mata ialah masjid, tembok, dan sebagainya. Sedangkan yang tidak kasat mata ialah ajaran- ajarannya. Beliau (Ja’far Shodiq) mendirikan lokasi di tengah- tengah atau pusat keramaian masyarakat untuk mensosialisasikan atau menyebarkan ajarannya. Dahulu, batas masjid yang saat pertama kali dibangun oleh beliau batasnya ialah dari mihrab sampai gapura pintu masuk.

Jadi, Ja’far Shodiq mengenalkan dengan cara pendekatan budaya. Setelah kurang lebih dalam satu abad, Islam sudah mulai tersebar di seluruh Pulau Jawa. Patutnya kita bersyukur dan banyak mendoakan para sunan penyebar agama islam di Indonesia, Karena merekalah wali yang ditakdirkan oleh Allah SWT menyebarkan agama kebenaran ini di tanah Indonesia.