Oleh : E. Huzaematul Badriah

  • Sejarah Singkat Kesusasteraan Perempuan dan Eksistensinya

Bagi sebagian kalangan, berbicara sastra dan perempuan adalah sesuatu hal yang tidak begitu ramah di telinga masyarakat. Pasalnya, rekaman sejarah perempuan dan kesusasteraan menjadi sesuatu yang seolah tertutup dalam dunia literasi luas, dan hanya diketahui oleh lingkungan terbatas. Meski sebetulnya beberapa kritikus sastra sudah banyak menemukan dan mencoba merumuskan sebab-sebab eksklusifitas kesusastraan perempuan.

Harus diakui bahwa pada awal perkembangan karya sastra , sastrawan perempuan tidak banyak diperhitungkan di kalangan masyarakat. Padahal banyak sekali sastrawan-sastrawan perempuan yang sudah lahir bersamaan dengan munculnya sastrawan laki-laki pada tahun sebelum 1950-an- seperti misalnya Hamidah dengan karyanya yang berjudul Kehilangan Mestika, Selasih dengan karyanya Kalau Tak Untung , dan Suwarsih Djojopuspito degan cerpen-cerpennya, juga kemudian pada dekade 1950-an NH Din menyemarkan suara Indonesia dengan karya-karyanya yang sangat bermutu dan bernilai bagus²

Menjadi pertanyaan besar sebetulnya mengapa karya perempuan tidak banyak diperhitungkan oleh masyarakat? Atau mengapa perempuan tidak banyak terjun di dunia literasi? Baik sastra, aktifitas tulis menulis lain, dsb. Beberapa kritikus menyimpulkan hal ini terjadi memang sebab doktrin dan dogma yang kemudian melahirkan paradigma masyarakat mengenai citra perempuan yang dianggap “rendah” oleh masyarakat, sehingga sebelum lahir karya perempuan, justru telah lahir underestimate terhadap perempuan itu sendiri. Akhirnya perempuan pun semakin terdiskriminasi. Persoalan lain mengenai keterlibatan perempuan dalam dunia tulis menulis sebetulnya memang terhalang oleh ruang aktifitas perempuan pada saat itu hanya terbatas[ada  ruang-ruang domestik. Sehingga pembacaan perempuan terhadap ruang publik baik itu sosial maupun yang lainnya, sangat minim sekali.

Menurut penelitian terhadap 15 cerpen yang ditulis dalam kumpulan cerpen berjudul Dunia Perempuan pada tahun 1941, 14 cerpen diantaranya menggambarkan dunia domestik yang digeluti perempuan dan hanya satu cerpen yang sepenuhnya menggambarkan dunia publik.³ Penggambaran tersebut membuktikan bahwa dunia perempuan saat itu memang lebih banyak beraktualisasi pada ranah-ranah yang sifatnya domestik. Sedangkan kesusastraan yang dianggap hebat pada waktu itu ialah yang sangat menampilkan ruang publik, masalah-masalah umum dan sosial. Jadi, pengalaman hidup perempuan sendiri sangat terbatas pada ruang domestik. Maka, kalau perempuan menulis, mungkin yang diceritakan adalah hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan mereka sehari-hari. Akibatnya, ketika pengalaman ini dituliskan dalam kesusastraan, menjadi dianggap remeh, kecil, dan kurang bernilai tinggi.?

Kondisi tulah yang justru mampu mendorong beberapa sastrawan perempuan yang lahir pasca reformasi, kita kenal ada Ayu Utami, Dewi Dee Lestari, Linda Cristanty, Djenar Mesya Ayu, dll.yang kemudian terkenal dengan sebutan sastra wangi. Seketika itu kelompok sastrawangi seolah tiba-tiba menjadi etalase kesusasteraan perempuan.

Mereka hadir seolah melakukan “perlawanan” terhadap kondisi sosial yang dianggap tidak berpihak pada perempuan. Mereka menuangkan keberaniannya berbicara dan menembus ruang-ruang publik yang dialami oleh perempuan, menuangkan idenya dan menghancurkan sekat-sekat ruang privasi perempuan, yang dibungkus dengan gaya berfikir yang liar tentang perlawanannya terhadap sistem, budaya-budaya yang membentuk konstruk berfikir masyarakat, dan yang terpenting adalah mereka menjadi corong ide-ide feminisme yang disematkan dalam dunia sastra. Tema-tema seksualitas yang dianggap tabu kemudian menjadi pembicaraan yang sangat jelas tak beresekat.

Tokoh-tokoh sastrawangi ini berupaya untuk melakukan semacam dekonstruksi terhadap maskulinitas yang selama ini menjadi pegangan kaum feminis, dan akhirnya mendorong untuk membuat semacam morfologi feminim, sejenis ungkapan seksualitas tubuh perempuan.?

Harus disadari bahwa sastrawan-sastrawan perempuan lahir bersamaan dengan ide-ide besar feminisme yang disuarakan, dan menyuarakan eksistensi manusia. Maka semangat yang lahir pun adalah semangat perlawanan dengan berdasar kebencian terhadap laki-laki, permusuhan laten di kalangan feminis, dan dendam yang akan berujung kehancuran, jika suara-suara itu berhasil mengkonstuksi sampai ke sel-sel kehidupan masyarakat.

Memasuki era 2000-an, ada beberapa sastrawan perempuan yang muncul seolah menjadi antitesis dari sastrawan perempuan-perempuan sebelumnya. Mereka adalah seperti Asma Nadia, Helvy Tiana Rosa, Abidah El Khaliqi, hadir dengan genre yang berbeda dan layak diperhitungkan dalam dunia kesusasteraan perempuan, sebab tokoh-tokoh ini yang menghadirkan agama menjadi ruh dalam setiap karyanya. Sehingga tidak melulu berbicara tentang tubuh, seks, dan segala urusa gender seperti yang menjadi gerakan karya sastra sebelumnya.

  • Kritik terhadap Gerakan Sastra Perempuan

Ada dua hal yang dapat coba disoroti dalam perkembangan sastra dan perempuan hingga hari ini.

Pertama, adalah persoalan bentuk perlawanan sastrawan feminis terhadap kondisi perempuan yang selalu dijadikan objek melalui karya-karya sastra laki-laki justru akan melahirkan kekuatan-kekuatan baru bagi laki-laki yang seolah mengkonfirmasi bahwa apa yang digambarkan oleh laki-laki merupakan kebenaran yang juga dtegaskan oleh gambaran kalangan perempuan (red : sastrawan feminis). Padahal yang mulanya kelahiran mereka itu adalah upaya untuk mendobrak laki-laki, justru karya-karya mereka malah membuat perempuan terperangkap dalam eksploitasi. Tokoh-tokoh generasi sastra wangi justru membuat perempuan smakin dieksploitasi. Definisi dan deskripsi perempuan semakin sempit saat hanya dideksripsikan pada ruang-ruang keindahan tubuh semata. Maka, vulgarisme yang dibangun oleh penulis perempuan ini dapat memperkukuh krisis multidimensi dan meracuni tunas-tunas bangsa. Dengan kata lain, feminisme yang dibangun justru menjadi perangkap bagi kaum perempuan untuk bertelanjang di hadapan kaum Adam.?

Kedua, baik penulis laki-laki maupun penulis perempuan yang menggambarkan citra perempuan di dalam karya sastra baik yang menyuarakan emansipasi maupun tidak ternyata tidak pernah terlepas dari Citra Ideal yang bertolak ukur pada pendeskripsian perempuan dalam keindahan fisiknya semata. Maka yang kemudian lahir adalah penggambaran perempuan yang mempunyai segala hal yang bisa dibanggakan, seperti tubuh bagus, wajah cantik, putih, intelektual bagus, dsb.? sehingga hal tersebut telah berhasil membangun standar mitos kecantikan ideal di kalangan masyarakat. Definisi yang kemudian lahir adalah perempuan cantik itu adalah yang berkulit putih, berbadan tinggi, dan segala definisi keindahan fisik lainnya.  Akhirnya perempuan hari ini semakin berlomba untuk memenuhi standar mitos keindahan dan kecantikan tersebut.

Tercium benih-benih misi kaum kapitalis dalam fenomena itu sebetulnya, sebab pembangunan citra tersebut menggiring masyarakat pada keindahan perempuan yang layak dinikmati oleh setiap kalangan, para kapitalis memang sofistikatif dalam mengeksploitasi unsur-unsur biologis yang indah pada diri kaum perempuan untuk kepentingan promosi barang mereka, perempuan direkayasa dengan proses kreatif dunia periklanan sehingga melahirkan dan menciptakan kesan dan daya tarik tertentu untuk suatu barang yang ditawarkan.? Dengan demikian posisi perempuan bukan saja tersubordinasi, tetapi juga makin tertindas dan rentan terhadap proses eksploitasi, komoditisasi.? Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa perempuan dengan segala keindahan biologisnya amat bermanfaat untuk menciptakan kesan dan daya tarik terhadap suatu produk, dan kemudian disambut oleh konsumen dalam masyarakat.¹? sehingga hal ini yang menyebabkan perempuan menjadi komoditas.

  • Rekonstruksi Fitrah Perempuan

Potret kepahitan begitu terrekam dalam sejarah dan perjalanan kesusasteraan perempuan berdasar gambaran yang coba diurai di atas, diskriminasi terhadap perempuan dari masa ke masa melahirkan doktrin-doktrin feminisme dalam dunia sastra. Yang sayangnya, semangat kebangkitan perempuan untuk berkarya kebanyakan berdasar kemarahan dan kebencian terhadap laki-laki yang dianggap tidak adil saat selalu menjadikan perempuan sebagai objek dalam karyanya, sehingga yang terjadi adalah upaya balas dendam dan perang gender yang hanya akan berujung pada kehancuran, sebab manusia modern bahkan kaum feminis kehilangan standar dalam memandang perempuan seutuhnya.

Sejatinya, sangat sempit jika dalam pembicaraan karya sastra tentang perempuan hanya berkutat mengenai seks, tubuh, dan gender semata, apalagi dengan ideologi kebebasan universal. Nilai-nilai estetika dalam sebuah karya, harusnya bukan berdasar pada kebebasan yang menjadi pijakan dalam menghasilkan sebuah karya, apalagi menelanjangi sisi paling privat dari manusia seperti tubuh dan seksualitas sehingga menjadi konsumsi publik. Banyak sekali ruang-ruang filosofis hingga praktis yang akan sangat mampu menggambarkan perempuan hingga mengembalikannya pada derajat yang mulia sebagai manusia.

Maka yang perlu dimulai dan terus dihadirkan adalah menghadirkan karya sastra yang menggambarkan tentang perempuan mengenai hakikatnya sebagai manusia seutuhnya yang tidak bisa dilepaskan dari fitrahnya sebagai makhluk sosial, dengan kejernihan jiwa dan kecerdasan akalnya.

Catatan Kaki :

² Hayati, Yenni. 2012. “Dunia Perempuan dalam Karya Sastra Perempuan Indonesia (Kajian Feminisme)” dalam Humanus Vol. XI No. 1, 2012. Padang: Universitas Negeri Padang.  Hlm. 86

³ ibid., hlm 88.

? http://www.jurnalperempuan.org/tokoh/melani-budianta-merekam-perempuan-penulis-dalam-sejarah-kesusastraan

? Prakoso, Teguh. dan Venus Khanasah. 2009. dalam makalah “Karya Sastra Perempuan : Analisis Awal Tentang Perang Gender.” Jakara : Universitas Negeri Terbuka. Hlm. 79

? ibid., hlm. 78

? Hayati, Yenni. 2012. “Dunia Perempuan dalam Karya Sastra Perempuan Indonesia (Kajian Feminisme)” dalam Humanus Vol. XI No. 1, 2012. Padang: Universitas Negeri Padang.  Hlm. 91

? Haqani, Lukman. 2004. “Aku Bukan Muslimah”. Bandung: Pustaka Ulumuddin

? Wendra, Wayan I. Tt. “Citra Perempuan dalam Sastra Modern (Sebuah Pandangan Feministik pada Dua Pengarang Laki-Laki)” Fak. Bahasa dan Seni, Undiksha Singaraja. ISSN 1829-5282

¹? Jurnal Perempuan no. 28 “Perempuan dan Media”