Oleh:

Hafidzotun Nisa
(Mahasiswa UIN Syarifhidayatullah Jakarta)

Antara hati, indra dan akal, mereka bersahutan saling adu pemahaman tentang Rasa, Asa dan Cinta. Saat rekahan bunga mawar tak lagi dan tak harus bisa dicium harum dan semerbak harum oleh lingkungannya. Bunga yang kini hanya mengikuti metamorfosis biologis bunga itu sendiri.

Hati mengatakan kau tak bisa rasai oleh sekitarmu, agar kelak menjadi bunga yang harum dan indah.  Asa mulai lelah, akal masih saja ego dengan keinginannya. Senja kita tak seindah dahulu. Kala ku menutup hariku. Ku menantikan sinar matahari pagi esok yang malu-malu menantikan indahnya pancaran sinarnya.

Yang kujalani adalah hal yang tak biasa. hal yang tak bisa dipahami masyarakat secara umum saat ini. Ini adalah proses pemujaanku pada Allah swt. rabbku yang tak pernah luput dan tak lekang dimakan oleh waktu.

Proses ini sungguh pahit Ya Allah. tapi kau beri amanah untuk melanjutkan tarikan nafas ini dengan hari demi hari, bifurkasie yang membuatku semakin dan semakin ku bersyukur.

bolehkah tak ada makhluk di dunia ini yang menggangu ibadahku kepada-Mu ya Rabb?

Ciputat, 1 November 2017.