Perspektif Radikalisme

oleh Muhammad Naza SMAN Cimanggung, Kabupaten Sumedang Provinsi Jawa Barat

Radikalisme tak jarang pada awalnya bersumber dari pemahaman agama yang skriptularis, tekstualis, dan sempit. Dalam hal ini sebagian orang menganggap bahwa radikalisme cenderung berkaitan dengan agama islam, padahal dalam islam tidak ada perintah yang berkaitan denganr adikalisme. Anggapan tersebut disebabkan orang – orang yang tidak bertanggungjawab serta mengaku bahwa mereka berbuat radikal atas nama agama Islam. Memang, agama menjadi ideology dominan dalam beberapa gerakan radikal yang ada. Namun, hal itu tidaklah cukup menggerakan seseorang untuk melakukakan aksi kekerasan. Berbagai kepentingan pribadi, kelompok dan politik lainnya telah melibatkan umat dalam tindakan kekerasan.

Muhammad bin abdul wahab lahir 1115 H/1701 M di Najd, Arab Saudi. Dibesarkan dari keluarga terpelajar yang menghasilkan seseorang yang mengabdi selama 46 tahun sebagai menteri penerangan arab Saudi. Kemudian abdul wahab pindah ke madinah untuk melanjutkan pendidikannya. Selama di madinah Ia sangat prihatin menyaksikan banyaknya kemusyrikan yang di perbuat oleh umat Islam. Oleh karena itu, timbul di benak pikiran Muhammad bin Abdul Wahab yang sangat dipengaruhi Ibnu Taimiyah. Bedanya, jika Ibnu Taimiyah lebih persuasive dalam menerapkan misi – misinya, sedangkan Muhammad bin Abdul Wahab mengambil jalan kekerasan, karena sikap persuasive dan lunak tidak efektif lagi dalam mengembalikan kejayaan umat Islam. Begitulah titik awal terjadinya radikalisme yang dipelopori oleh Muhammad bin Abdul Wahab serta muncul dari kekecewaan Muhammad bin Abdul Wahab. Terutama, sejak munculnya kolonialisme barat di dunia Islam, perlawanan dan kekerasan identik dengan upaya mempertahankan diri dan identitas Islam. Sehingga munculah berbagai organisasi/harakah Islamiyah yang menjalankan kekerasan untuk mencapai tujuan. Fenomena ini berlanjut hingga sekarang, sehingga hegemoni dunia barat dilawan dengan aksi – aksi kekerasan dan terror.

Pakar Psikologi UI, Prof. Dr Hamdi Muluk megatakan bahwa “komitmen dan indoktrinisasi yang dikuatkan oleh para pemimpinnya akan membawakan proses radikalisme kepada ideology guna mencapai tujuan individu/kelompok”. Pada hakikatnya bukan berarti radikalisme di dunia Islam adalah Islam yang mengajarkan radikalisme akan tetapi sebagian orang yang menganggap bahwa islam mengajarkan radikalisme. Dalam hal ini, berarti radikalisme tidak ada di dunia Islam yang ada hanyalah anggapan – anggapan bahwa radikalisme adalah ajaran islam.

Radikalisme tak pernah mati. Dia lahir dan berkembang seiring dengan sejarah hidup manusia dan pertumbuhan peradaban. Radikalis memuncul dalam bentuk pemikran, perilaku dan aksi, baik perseorang maupun perkelompok. Radikalisme hadir sejalan dari kekecewaan seseorang atau kelompok kepada suatu agama, ideologi ataupun pemerintahan. Radikalisme juga sulit di basmi dengan cara kekerasan apapun. Tindakan kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan dalam bentuk lain. Oleh karena itu, radikalisme harus ditaklukan dengan kekuatan yang ada dalam masyarakat dengan berbagai tindakan persuasive lainnya.

Dalam hal ini, Muhammad Natsir membuat analogi bagaimana menaklukkan berbagai bentuk kekerasan dan radikalisme. Dia membuat perumpamaan dalam membasmi alang-alang, yaitu tanaman yang merusak tanaman yang tumbuh tidak di tanam. Alang-alang tumbuh disamping tanaman yang diperuntukan untuk manusia seperti jagung, padi, kacang dan sebagainya. Alang-alang memiliki akar yang sangat dalam dan menyebar kemana-mana. Setiapakarnya yang terhujam ketanah berpotensi untuk hidup, sekalipun batangnya di pangkas. Karena itu, Natsir, dalam upaya menaklukkan alang-alang ini tidak memakai kekerasan, melainkan dengan menggunakan kekuatan alam itu sendiri dengan cara menumbuh suburkan tanaman lain, seperti tanaman pupuk atau pohon besar yang kuat, rindang, dan berbuah. Akhirnya, alang-alang akan hilang sendirinya. (adm.emha)