Oleh. Trias Setiawati

lahir karena 3 alasan fundamental. Pertama, alasan kebutuhan eksistensi organisasi yakni situasi politik yang tidak kondusif bagi organisasi Islam. GPII baru saja dibubarkan maka keberadaan PII Wati dapat mengamankan situasi jika PII dibubarkan.

Kedua alasan kebutuhan kodrati kader perempuan yang memiliki perbedaan dengan kader laki-laki “berbeda tetapi tidak untuk dibeda-bedakan.” Piiwati perlu memberikan Pendidikan khusus agar para kader Putri dapat menemukan jati dirinya sehingga urusan kodratinya yakni haidh, mengandung, melahirkan Dan menyusui dapat dijalani dengan baik Dan berkualitas untuk kepentingan umat Islam jangka pendek maupun jangka panjang.

Ketiga yakni alasan kebutuhan ummat atau kebutuhan sosial karena bagaimanapun kejayaan ummat memerlukan adanya peran pemimpin perempuan. Pemimpin yang tidak hanya menjadi “hiasan di etalase,” atau “sekedar mengurus konsumsi” saja namun menjadi pemimpin perempuan yang dapat memberikan pencerahan, kemanfaatan dan kemaslahatan bagi kejayaan Islam dan ummat Islam.

Piiwati memiliki prinsip tandang ke gelanggang walau seorang serta memiliki tujuan yang mulia yakni menjadikan setiap kadernya menjadi Putri Islam yang kpribadiannya sesuai dengan prinsip-prinsip Islam.

Tiga alasan tersebut tetap dan terus akan relevan dan dibutuhkan hingga akhir zaman.
Namun mengundang pertanyaan reflektif adalah mengapa PIIWATI lolos tetap hidup dan eksis pada tahun 1965, namun justru vakum atau dimatikan sendiri oleh pimpinan PII Dan PII wati sendiri pada tahun 1998 sampai 2018. Hal tersebut merupakan keniscayaan sejarah yang telah terjadi. Boleh jadi pemikiran bahwa menjadi badan otonom merupakan kemunduran karena pada posisi yang di subordinat. Namun sebenarnya Hal tersebut secara manajerial adalah sekadar masalah struktur organisasi Bukan masalah ideologis maupun filosofis. Barangkali Hal tersebut yang dipegang teguh oleh para pimpinan PII dan Pii wati pada Waktu itu.

Kini Piiwati telah eksis kembali Dan memperingati Hari Bangkit (HARBA) nya ke 54 dari 31 Juli 1964 hingga 31 Juli 2018. Moga perayaan kebangkitan kali ini merupakan kebangkitan yang fundamental eksistensial dan esensial. Tak hanya Bangkit organisasi ya namun juga akan lahir konsep- konsep Jenial menghadapi zaman milenial. Aamiin. Insya Allah.

Yogyakarta, 13 Agustus 2018
Penulis Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia
Juga mantan Ketua kordinator Wilayah Pii wati Yogyakarta Besar Periode 1986-1988.