Oleh: SADAM HARDI, S. Pd
Sekretaris Umum Pengurus Wilayah
Pelajar Islam Indonesia (PII)
Maluku Utara

Namaku Sadam Hardi. Aku berasal dari desa terpencil, jauh dari perkotaan. Aku sekolah SD dan SMP di desa, jauh dari keramaian. Aku tak kenal kota. Hingga pada suatu masa, tahun 2006, orang tuaku membawaku di kota setelah tamat SMP. 2006 merupakan awal-mulanya aku hidup di kota Ternate untuk melanjutkan pendidikan Sekolah Menengah Atas, tepatnya di (SMA) N 3 Kota Ternate Maluku Utara tepat pada tahun 2006.

Memasuki lingkungan baru, aku sangat kaku dalam bergaul, bertingkah sehari-hari sesama teman sangatlah kaku, baik itu dalam bertutur kata sesama teman, rasanya sangat tidak percaya diri. Bisa dibilang sangat kampungan gitu. Oleh karena memang mungkin aku berasal dari kampung.

Setelah mengikuti MOS, aku pun duduk di bangku sekolah SMA kelas 1. Sejujurnya aku sangat kaku dalam pergaulan. Namun, mau tidak mau, harus tetap bergaul dengan teman-teman yang ada, meski aku adalah seorang siswa yang sangat tidak terkenal dan terbelakang dan sangat tidak percaya diri, mental sangat keropos.

Pada suatu hari, bell jam istirahat pun berbunyi, teman-teman pun keluar dari kelas, terlihat mereka berbondong-bondong ke kantin untuk makan. Aku berdiri di depan pintu kelas 10, tiba-tiba datang seorang kakak kelas 11, datang menghampiriku sambil memberiku sebuah kertas bertuliskan formulir LBT. Aku kebingungan, sambil berkata “apa ini kak”?. Beliau kemudian menjelaskan padaku bahwa yang aku pegang adalah formulir LBT organisasi PII. Beliau mengajakku untuk mengikuti LBT PII nanti beberapa hari kemudian.

Sejujurnya pada masa itu aku bingun dengan apa yang ditawarkan padaku, aku tak memahami sedikit pun apa itu folmulir, apa itu LBT, apalagi apa itu PII.

Dengan kebingungan dan tak memahami sedikitpun, aku pun masuk ke dalam kelas dan mengisi formulir tersebut sambil dipandu oleh kakak kelas tadi. Dua hari kemudian aku pun hadir mengikuti acara tersebut dengan sangat cemas dan kaku. Setelah pembukaan, kami pun diarahkan pada suatu ruang belajar. Saat itu aku sangat takut, khawatir disuru berbicara.

Suatu peristiwa yang bersejarah dalam kehidupan saya berproses di Pelajar Islam Indonesia, tragedi itu terjadi pada tahun 2006, ketika tiba-tiba aku ditunjuk untuk berdiri dan memperkenalkan nama di depan teman-teman peserta, aku sangat takut, gugup, suaraku bergetar ketika memberikan salam, keringat dingin pun membasahi bajuku. Wah, sangat kaku dan takut. Aku tak tau mau mengawali bicara dari mana. Tidak ada yang terfikirkan dalam benakku, hanya rasa takut yang menghantui.

Melihat kondisiku seperti itu, kakak PII atau instruktur menyuruhku kembali duduk dan memerintah teman-teman memberikan tepuk tangan padaku. Aku mulai kehilangan ketakutan. Setelah itu aku selalu disuruh berbicara meski pembicaraanku sangat tidak berkualitas dan masi terasa sangat kaku.

Waktu berlanjut. Hingga aku pun telah mengikuti LBT hingga selesai. Dan aku pun mulai aktif di Komisariat, mengurus kegiatan-kegiatan PII. Pernah jadi Sekretaris Komisariat PII, setelah tamat SMA, Diamanhkan menjadi Koordinator Komisariat, setelah itu masuk ke Daerah, tahun 2014 lalu diamanahkan sebagai Ketua Umum Pengurus Daerah PII Kota, dan sekarang sebagai Sekretaris Umum Pengurus Wilayah PII Maluku Utara mendampingi saudaraku Wahyu Talib selaku Ketua Umum Pengurus Wilayah PII Maluku Utara.

Dalam perjalanan itulah, aku mulai mengenal PII, dan PII mulai mendarah daging dalam diriku. Aku mulai megenal Pelajar Islam Indonesia atau PII adalah suatu organisasi kader yang telah banyak memberikan kontribusi kepada bangsa dan negara ini.

Ketika aku membaca sejarah, PELAJAR ISLAM INDONESIA atau disingkat PII merupakan suatu organisasi yang didirikan di kota Yogyakarta pada tanggal 4 Mei 1947. Para pendirinya adalah Yoesdi Ghozali, Anton Timur Djaelani, Amien Syahri dan Ibrahim Zarkasji.

Salah satu faktor pendorong terbentuknya PII adalah dualisme sistem pendidikan di kalangan umat Islam Indonesia yang merupakan warisan kolonialisme Belanda, yakni pondok pesantren dan sekolah umum. Masing-masing dinilai memiliki orientasi yang berbeda. Pondok pesantren berorientasi ke akhirat sementara sekolah umum berorientasi ke dunia. Akibatnya pelajar Islam juga terbelah menjadi dua kekuatan yang satu sama lain saling menjatuhkan.

Dalam pembacaan sejarah, santri pondok pesantren menganggap sekolah umum merupakan sistem pendidikan orang kafir karena produk kolonial Belanda. Hal ini membuat para santri menjuluki pelajar sekolah umum dengan “pelajar kafir”. Sementara pelajar sekolah umum menilai santri pondok pesantren kolot dan tradisional; mereka menjulukinya dengan sebutan “santri kolot” atau santri ‚Äúteklekan”.

Olehnya itu, kegelisahan mengepung jiwa Kandaku Almarhum Joesdi Ghozali, kemudian ia beritikaf di masjid lalu kemudian diberikan petunjuk oleh Allah SWT dan didirikanlah ORGANISASI YANG BERNAMA PELAJAR ISLAM INDONESIA (PII)

Wahai kader-kader PII se-tanah air, mari kita lanjutkan perjuangan Kanda Joesdi Ghozali dan kawan-kawan kembali, dan berupaya keras, dengan sabar, ikhlas untuk mecapaikan cita-cita PII, “Kesempurnaan Pendidikan Dan Kebudayaan Yang Sesuai Dengan Islam Bagi Segenap Bangsa Indonesia Dan Umat Manusia.

AKU BANGGA MENJADI KADER PII
KITA BANGGA MENJADI KADER PII

SELAMAT MENYAMBUT HARI BANGKIT PELAJAR ISLAM INDONESIA (PII) YANG KE -71 TAHUN

4 MEI 1947 SAMPAI KINI TEGAK BERDIRI 4 MEI 2018…

Peringatan Hari Bangkit PII ke -71

PENGURUS WILAYAH PII MALUKU UTARA

Tanggal 05 Mei 2018. (Malam)

Tempat Terbuka
Land Mark Kota Ternate Maluku Utara

BANGKITLAH PII, UMAT ISLAM MENANTIMU
BANGSA SELALU MERINDUKANMU