“Generasi millenial lahir pada saat teknologi berkembang”. Begitulah pernyataan pembuka pemantik diskusi, Asep Saepul Rohman (Asep SR) mahasiswa Tanri Abeng University sekaligus Staff Departemen Pusat Studi Pemberdayaan Potensi Masyarakat Pelajar bagian dari Bidang PMP (Pembinaan Masyarakat Pelajar) PB PII. ” Orang tua generasi millenial adalah imigran teknologi. Sedangkan generasi millenial adalah pribuminya.” Lanjutnya, Pada diskusi 22 November 2018 yang bertempat di Kantor PB PII, Jl. Menteng Raya 58 peserta forum berbicara tentang “PII Sahabat Generasi Millenial”.

Asep SR menjelaskan bahwa ada lima karakteristik generasi millenial yaitu, mengutamakan efektifitas, selalu ingin eksis, cenderung ingin tampil beda, penuh perhitungan (efisiensi), dan memiliki semangat kolaborasi. Pertama, mengutamakan efektifitas maksudnya bahwa generasi millenial bukan generasi pemalas tetapi generasi kreatif yang selalu berusaha memberikan inovasi agar segala sesuatu dapat dikerjakan menjadi lebih efektif. Kedua, selalu ingin eksis maksudnya bawa generasi ini memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi.

Ketiga, generasi millenial cenderung ingin tampil beda berarti bahwa ia harus kreatif dan berinovasi tinggi dalam hal berkarya. Keempat, generasi ini adalah generasi yang penuh perhitungan. Ia akan berusaha sebisa mungkin agar tidak menghabiskan waktu dengan sia-sia. Terakhir, generasi millenial memiliki semangat kolaborasi. Pada dasarnya generasi millenial ingin berkarya tetapi ia sadar akan keterbatasan diri sehingga semangat kolaborasi menjadi upaya agar dapat tetap berkarya. Selain karena jenuh terhadap semangat kompetisi, semangat kolaborasi lahir ketika seseorang tidak memiliki kemampuan yang dimiliki orang lain namun tetap ingin bisa berkarya.

Dasar dari kelima karakteristik tersebut diliustrasikan dengan tuntutan kehidupan yang serba cepat tetapi tidak didukung dengan kelancaran transportasi. Maka untuk menyelesaikan tugasnya, perlu strategi alternatif. Dari sinilah munculnya konsep coworking, home schooling, bisnis dan transaksi online, dan lain-lain.

Tantangan dan Strategi PII Menghadapi Generasi Millenial

Diskusi menjadi lebih menarik ketika sesi dialog dibuka. Eko Bambang F, salah satu peserta diskusiI mengatakan bahwa apapun nama generasinya dalam konsepsi Islam titik awal perubahan manusia  adalah akil baligh yang menurut syariat, ia harus mandiri baik scara finansial maupun mental. Problemnya adalah bahwa sistem pendidikan Indonesia sistem yang tidak mendukung pendewasaan pelajar. Tidak punya skill dan mentalitas strugle, Karena direduksi oleh sistem pendidikan yang ada. Padahal dalam Al-Qur’an dikatankan “janganlah kalian meninggalkan generasi yang lemah dibelakang mu”.

Ahmad Saupi, yang juga salah satu peserta diskusi berpendapat bahwa generasi millenial itu adalah fenomena zaman. Oleh karena itu, perlu generalisasi dari zaman yang ada saat ini. Yang biasa diwarisi oleh orang tua kepada anaknya adalah tradisi zaman orang tua, bukan zaman anaknya. Sehingga ada jurang yang cukup lebar ketika menilai dan menyikapi kehidupan yang dihadapinya.

PII perlu membaca zaman. Ia harus mengenal baik zaman seperti apa yang sedang dihadapi dan generasi seperti apa yang hidup di dalamnya. PII telah ketinggalan terhadap perubahan dunia dan tidak hadir atau terlibat dalam perubahan zaman.

Selain itu, PII perlu mengenal tema-tema generasi millenial, yaitu seni, olahraga, teknologi digital, dan lain-lain. Kita menghadapi dilema, satu sisi bosan dengan formalitas, disisi lain belum punya rumusan baru.PII juga perlu mensinergiskan gerakan dengan berbagai elemen untuk mengawal generasi yang padat karya ini. Dan yang lebih penting, PII perlu menjadi sahabat yang baik bagi generasi millenial.