RILIS.ID, Jakarta— Kepala Divisi Pembina Kader Tunas Koordinator Pusat Korps Pelajar Islam Indonesia Wati 2017-2020 Huzaematul Harfiah mengatakan sangat bagi orang dewasa mulai melibatkan anak-anak sebagai wujud dari penerapan hak partisipasi anak dalam kehidupan sosialnya. Karena terdapat hak-hak partisipasi yang perlu didapatkan oleh anak di dalam kehidupannya.

“Oang dewasa harus mau mengurangi keistimewaannya sebagai orang yang merasa lebih tahu dibanding anak. Kemudian perlu adanya kesediaan berbagi dengan anak-anak di dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya kepada rilis.id, Senin (24/7/2017).

Hal sederhana yang bisa dilakukan sebagai langkah partisipatorik, menurutnya dengan mulai lebih banyak mendengarkan anak, menjadikan mereka sebagai subjek pendidikan, melibatkan mereka dalam menentukan sebuah pilihan. Caranya memberikan ruang mereka berpendapat, melibatkan mereka untuk merumuskan apa yang terbaik untuknya, menyelaraskan antara logika mereka dengan kebenaran yang harus dirasionalisasikan sehingga mereka mengetahui mengapa mereka harus melakukan apa yang akan diajarkan.

Tentu kita masih ingat pula kasus Afi Nihaya Faradisa, lanjutnya, siswi SMA yang begitu tegas dan berani mengungkapkan gagasannya di ranah publik, tiba-tiba mendapat bombardir hujatan dari semua kalangan karena dianggap telah melakukan plagiasi atas tulisan-tulisannya.

Mirisnya, lanjut Harfiah, justru yang merespons dengan segala macam bentuk hujatan itu adalah orang dewasa. Hal ini justru membuktikan betapa tidak bijaknya orang dewasa dalam bersikap terhadap anak.

“Saya yakin, hujatan-hujatan seperti itu bisa jadi lahir karena ada dominasi ego dalam diri orang dewasa yang mengganggap bahwa anak-anak tidak mungkin bisa lebih tahu dari kita selaku orang dewasa yang dianggapnya sudah lebih banyak mengalami hal-hal yang belum pernah dialami oleh anak,” katanya.

Selain itu, lanjut Harfiah, publik sempat dihebohkan dengan aksi beberapa siswa kelas 7 SMP di Jakarta yang melakukan kekerasan terhadap teman sekolahnya, anak SD yang mempraktikan hubungan suami istri dengan temanya, serta beberapa kasus dari banyak kasus yang tidak diketahui sampai detik ini.

“Ini permasalahan laten yang masih perlu untuk menjadi perhatian,” imbuhnya.

Secara psikologis, kata Harfiah, usia anak-anak adalah usia yang sangat baik dalam mengembangkan segala macam pondasi yang kuat dalam dirinya, pondasi pembentukan mental maupun spiritual.

“Sebab pembentukan karakter yang paling efektif itu tidak cukup dengan doktrinasi, tapi digali,” jelasnya.

Menurutnya, orang dewasa harus bisa mendorong kemampuan anak-anak sampai terbangun dan munculnya kesadaran dalam diri untuk melakukan sesuatu yang bukan berdasarkan paksaan belaka, namun berdasar kesadaran dan keyakinan apa yang dia lakukan adalah yang harus dan akan dia pertanggung jawabkan kelak.