Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia (PB PII) menyuarakan ketidaksetujuannya atas wacana penghapusan pasal penodaan agama. Sebab, pasal tersebut sangat penting untuk menjaga kerukunan antar umat beragama di Indonesia.

“Pasal penodaan agama itu adalah untuk menjaga kebhinekaan dalam beragama di indonesia,” kata Musyaddad Zaen Ketua Bidang 1 PB PII 2017-2020 kepasda rilis.id, Kamis (18/5/2017).

Menurutnya, bagaimanapun juga bangsa Indonesia dikuatkan dengan sila yang pertama. sehingga memunculkan rasa aman dalam menjalankan aktivitas keagamaan di indonesia. Ia menjelaskan contoh kasus penodaan agama yang terjadi terhadap Ahok.

“Biasanya hal ini karena ucapannya jelas merugikan, misalnya dibohongi pakai Al-Maidah,” katanya.

Menurut pria yang akrab disama Musa ini, penjelasan atas penggunaan bahasa tersebut merujuk kepada tiga hal yaitu, kita suci Al-Quran, Ulama, dan Tokoh atau Dai yang menyampaikan ayat tersebut.

“Pada dasarnya ketiga kemungkinan tersebut merujuk pada penodaan agama,” katanya.

Senada dengan itu Ketua PB PII periode 2017-2020, Husain Tasrik Makrup menegaskan bahwa pasal tersebut harus dipertahankan. Karena melalui pasal itu, salam ini menjadi payung hukum antar umat beragama di Indonesia.

“Pasal ini justru bisa mencegah konflik sosial antar umat beragama, bukan hanya untuk saat ini, tapi generasi ke depannya,” ujarnya.

Dalam beberapa pekan belakangan, wacana pencabutan pasal penodaan agama yakni 156a terus bergulir. Terakhir, Kesatuan Aksi Keluarga Besar Universitas Indonesia (KA-KBUI) juga dikabarkan mengeluarkan petisi yang menolak adanya pasal penodaan agama.