oleh : Elva Eka Ernawati

Setiap manusia selalu ingin terlihat sempurna dimata manusia lainnya. Berharap setiap mata yang memandang terkagum-kagum dengan kecantikan yang dimilikinya. Kecantikan adalah sesuatu yang tidak akan pernah lepas dari perempuan. Fitrah memang, ketika perempuan ingin terlihat cantik di hadapan laki-laki.

Setiap orang dimuka bumi rela melakukan apa saja untuk membuat dirinya sempurna secara fisik, menarik dan sedap ketika di pandang. Banyak yang rela merasa sakit demi penampilan yang terbaik, melakukan berbagai macam cara untuk merubah dirinya agar terlihat sempurna.

Dalam sejarah duniapun tidak sedikit yang mengabadikan kisah perempuan-perempuan yang memiliki kecantikan dan kerupawanan yang sangat luar biasa. Nefertiti dan Cleopatra adalah dua sosok perempuan yang kisahnya sangat legendaris karena kecantikan dan kecerdikannya, sehingga banyak menaklukan hati para lelaki di zamannya. Meskipun sesungguhnya Nefertiti dan Cleopatra yang digambarkan sebagai perempuan tercantik di zamannyapun masih sulit diraba oleh manusia saat ini bagaimana bentuk dan wujudnya.

Manusia berlomba-lomba untuk membuat dirinya sempurna, berlomba-lomba membuat standar kecantikan yang bisa diikuti banyak manusia lainya. Setiap tahun mengadakan kontes kecantikan, mengumpulkan seluruh manusia untuk dilombakan dan di pertontonkan, untuk mencari sosok Nefertiti dan Cleopatra selanjutnya, demi memperebutkan sebuah mahkota yang akan melabeli dirinya sebagai perempuan tercantik sedunia.

Standar dam persyaratanpun berubah setiap tahunnya, sehingga banyak orang yang bertanya-tanya bagaimana sebenarnya parameter cantik itu? Apakah cantik adalah milik mereka yang memiliki kulit putih ,mulus, hidung mancung dan tinggi semampai?

Tentu akan terlalu sempit jika ukuran ccantik secara fisik hanya sebatas kulit putih dan mulus, padahal beragam bentuk dan warna kulit sangat beragam didunia ini. Padahal, terdapat dalam sebuah Hadist bahwa manusia seperti apapun kualitas kecantikan dan kerupawanannya tidak akan pernah mengalahkan kecantikan ibunda Hawa dan Sarah, manusia yang di nobatkan langsung oleh AllahTa’ala sebagai manusia paling rupawan bentuknya. “Allah Azza wa Jalla membagi kecantikan (ketampanan) dalam sepuluh bagian. Tiga bagian untuk Hawa, tiga bagian untuk Sarah, tiga bagian untuk Yusuf a.s., dan satu bagian untuk seluruh umat manusia.” (diriwayatkan oleh Ibnu Abbas r.a)

Maka jika seluruh penduduk di muka bumi ini dikumpulkanpun tidak dapat menandingi kecantikan Hawa dan sarah. Jika seluruh manusia di muka bumi ini hanya memperebutkan predikat tercantik hanya sebatas fisik, maka Hawa dan Sarah adalah perempuan yang tidak hanya memiliki wajah yang cantik dan rupawan, namun juga memiliki keluhuran dan kemuliaan budi yang membuat kecantikan yang sesungguhnya tidak pernah luntur dan pudar dimakan usia.

Sarah adalah perempuan yang sangat menjaga kehormatan dan kesucian dirinya, perempuan yang taat beribadah kepada Rabbnya, perempuan yang memiliki kesabaran yang luar biasa, perempuan yang teguh dengan pendiriannya. Perempuan yang tidak sedikitpun silau dengan gemerlapnya dunia. Sarah adalah satu-satunya perempuan yang berani menolak ajakan dan rayuan Fir’aun. Padahal yang kita tahu, Fir’aun dengan kekayaan dan kekuasaannya tidak ada seorangpun yang mampu menolak permintaannya. Perempuan-perempuan biasa tentu akan terpesona dengan kemegahan istana, perhiasan yang menjutai, pakaian yang disulam dengan emas, kehidupan yang bergelimangan harta. Namun. dihadapan perempuan bernama Sarah Fir’aun berlekuk lutut tidak perdaya dan tidak ada apa-apanya.

Begitulah seharusnya perempuan zaman sekarang, mencontoh keluhuran dan keteguhan jiwa sarah yang mampu menjaga kehormatan dan kesucian dirinya. Tidak hanya berlomba-lomba dalam memperubatkan predikat cantik secara fisik, seseorang yang hanya rela melakukan apa saja untuk membuat tampilan menarik, yang pada hakikatnya akan sirna dalam sekejap. Namun juga orang yang semestinya juga rela berbuat apa saja untuk membuat tampilan hati dan jiwanya tidak kalah menarik dan cantik, bahkan yang akan membuat kecantikannya abadi sepanjang masa, meskipun jasadnya sudah melebur dengan tanah yang menguburnya.

Klaten, 1 Muharam 1440 H