Oleh: Teuku Muhammad Riszi Aulia Rahmad *

Sejarah telah memberikan pelajaran yang sangat berharga kepada kita. Berawal dari semangat para tokoh organisasi dalam kebangkitan organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII), sudah barang tentu tantangan dan rintangan selalu saja menghampiri organanisasi. Bahkan, tercatat ketika umur belum genap 1 (satu) tahun, PII harus berhadapan dengan peluru-peluru kolonialisme Belanda – Agresi Militer ke-II Belanda. Pada saat itu hanya ada 2 pilihan, antara hidup dan mati demi mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari kekejaman penjajah.

Atas perjuangannya tersebut juga terselenggaranya peringatan Hari Bangkit (Harba) ke-I PII yang berpusat di Yogyakarta, dengan dihadiri Panglima Besar Jenderal Soedirman Panglima Tentara Rakyat Indonesia. Dalam kesempatan tersebut, beliau menyampaikan amanat sebagai berikut:

“Negara kita adalah negara baru, didalamnya penuh onak dan duri, kesukaran dan rintangan banyak kita hadapi. Negara membutuhkan pengorbanan pemuda dan segenap bangsa Indonesia”.

PII juga pernah tercatat “melawan” kebijakan negara, Ketika pada tahun 1982 yang kerap disebut tragedi “Asas Tunggal”, Pemerintah mengajukan 5 (lima) paket rancangan kebijakan politik, diantaranya Rancangan Undang-Undang (RUU) organisasi kemasyarakatan (RUU Keormasan). RUU tersebut substansinya adalah rencana penerapan Pancasila sebagai satu-satunya azas bagi setiap organisasi kemasyarakatan. RUU keormasan disahkan menjadi undang-undang (UUK No.8/1985).

Konsekuensinya, semua ormas, tanpa kecuali diharuskan menyesuaikan dengan UUK tersebut, dengan batas toleransi sampai tanggal 17 Juni 1987. Imbasnya, pada Juni 1987, PII menyelenggarakan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) untuk mengkristalisasi keputusan Islam sebagai satu-satunya azas PII. Rapimnas tersebut menghasilkan kebulatan tekad dari segenap anggota dan pimpinan PII se-tanah air untuk tetap menjadikan Islam sebagai landasan perjuangan PII, dan peristiwa ini dikenal dengan “Deklarasi Cisarua” – Cisarua nama tempat di sekitar Bogor Jawa Barat tempat dislenggarakannya Rapimnas.

Dalam rangka memperingati Hari Bangkit Pelajar Islam Indonesia ke-70, sudah semestinya segenap kader dan institusi untuk menyusun ide, gagasan serta realisasi aksi di tengah-tengah masyarakat dan pelajar, sehingga tujuan dan cita organisasi mampu direalisasikan dengan sebaik-baiknya.

Tentunya tantangan dan kendala kerap sekali dirasakan dalam menjalankan tugas, namun menjadi tanggung jawab bagi kader dan institusi untuk menjamin tercapainya harapan organisasi seperti yang telah dijalankan oleh para perintis organisasi. Hal ini menjadi bahan renungan kita bersama, betapa semangat membangun organisasi merupakan suatu hal yang harus menjadi pilihan kita bersama. Mengambil peran di dalam organisasi untuk melanjutkan estafet organisasi.

*Ketua Bidang (Kabid) Kaderisasi Pengurus Wilayah Pelajar Islam Indonesia (PII) Aceh.