Oleh: Muhammad Yunan Setiawan

Mahasiswa Ilmu Hukum, Universitas Semarang (USM)

Santri di Rumah Kegiatan Singosari Sembilan (RKSS)

Pada 9 Maret 1968, koran Mahasiswa Indonesia edisi Jawa Barat menurunkan berita kecil berjudul ”Sanento Mendapat ‘Hamid Bouchouareb Award’”. Isi berita itu mengabarkan:”Suatu penghargaan bagi kerja komunikasi seni rupa jang terbaik tahun 1968, berupa ‘Hamid Bouchouarcb Award’ telah diberikan kepada Sanento Juliman untuk thesisnja [skripsinya] ,,Beberapa Masalah Dalam Kritik Seni Lukis di Indonesia’’, dengan demikian berhak mendapat hadiah sebesar $ 75.” Konon, di ITB pemberian penghargaan kepada mahasiswa yang memiliki karya penelitan atau kesenian baru terselenggara dua kali. Pada tahun yang kedua Sanento Juliman menjadi salah satu mahasiswa yang mendapat penghargaan tersebut.

Dari informasi ini kita tahu ototritas kampus menganggap skripsi adalah karya penting yang harus dihargai tinggi. Mahasiswa-mahasiswa yang menggarap skripsi dengan tema penelitian berbobot. Ia pantas naik ke panggung bergabung dengan mahasiswa-mahasiswa lain yang berprestasi. Barangkali ini peristiwa wajar. Menghargai jerih payah mahasiswa dengan harga yang pantas. Terkhusus karya skripsinya. Pasalnya, skripsi kerap dianggap formalitas mendapat gelar. Ia sekadar memenuhi syarat menjadi sarjana. Di antara narasi buruk tentang skripsi, baik proses pembuatan, pengujian, dan pemberdayaannya. Kita tahu, dulu, di tempat Sanento Juliman berkuliah skripsi mengantarkannya mendapat uang sebesar $ 75. Bukan pada perkara nominal hadiahnya yang penting, tetapi bagaimana otoritas kampus melakukan kerja penghormatan terhadap skripsi agar mahasiswa membuat skripsi dengan tema-tema yang tidak remeh.

Namun, apa yang dialami Sanento Juliman tidak terjadi pada mahasiswa lain. Mereka barangkali menanggung nasib sial berada di kampus yang tidak secuil pun memberikan perhatian pada skripsi. Kampus hanya memberi peran menyindangkan dan menyimpan (untuk sementara) skripsi mahasiwa di perpustakaan kampus. Sialnya, keadaan ini hampir terjadi di seluruh kampus di Indonesia. Skripsi-skripsi bagus luput diberi penghargaan dan penelitinya tak mendapat tepuk tangan. Tentu kita masih melihat kampus-kampus memberi penghargaan kepada mahasiswa berprestasi. Namun, pemberian penghargaan itu tak memasukkan pembuat karya-karya skripsi yang bagus. Sehingga skripsi yang berbobot sering tak terkabarkan.

Peran Penerbit

Merujuk keadaan ini, kita perlu angkat topi pada penerbit-penerbit yang berani rugi menerbitkan skripsi menjadi buku dengan jaminan tidak laris di pasar. Tentu tanpa peran penerbit nekat seperti itu kita sulit berjumpa dengan bacaan-bacaan dari hasil skripsi. Kenekatan penerbit mengambil alih ketiadaan peran kampus dalam mendistribusikan skripsi ke publik menjadi sindiran telak atas penerbit kampus. Ia kalah cepat, nekat, dan berani dengan penerbit di luar kampus yang mampu menerbitkan skripsi tanpa takut dibayangi-bayangi kerugian. Menerbitkan skripsi pun tak melulu memertimbangkan untung-rugi. Ada pamrih keilmuan yang diutamakan. Penerbit pun menjalankan tugasnya sebagai distributor produk intelektual kampus ke publik.

Dulu, penerbit Grafiti menjalankan peran ini. Ia menerbitkan skripsinya Arif Zulkifli menjadi buku berjudul ”PDI di Mata Golongan Menengan Indonesia” (1996). Di halaman pengantar Arif mengatakan bahwa penerbitan skripsi menjadi buku tidak hanya perubahan format dari kertas berlogo kampus ke buku. Tidak hanya perubahan format dari karya yang hanya bisa diakses kalangan terbtas ke bacaan yang bisa dibaca umum. ”Pengalih-bentukan itu bukan cuma merepresentasikan perubahan dalam arti fisik, melainkan juga perbuhan dalam arti tanggung jawab.”

Ketika skripsi menjadi buku, penulisnya tidak lagi berhadapan dengan tiga penguji yang pertanyaannya hanya itu-itu saja. Ia akan berhadapan dengan pembaca dari kalangan yang beragam. Bahkan bisa jadi bobot pertanyaan yang diajukan melebihi si penguji skripsi. Ini yang dimaksud Arif perubahan tanggung jawab penulis. Ia tidak lagi memertanggungjawabkan karyanya di hadapan tiga orang yang menentukan kelulusannya, tetapi sekian pembaca yang tak terhitung jumlahnya dan tak terkira pertanyannya.

Etos

Sangat sayang jika skripsi-skripsi yang bagus hanya berhenti sebagai koleksi perpustakaan kampus. Ia bisa memberikan kesempatan yang luas bagi dosen-dosen yang licik untuk melakukan plagiasi. Pasalnya, yang mengetahui karya skripsi bagus hanya penguji dan si mahasiswa. Publik tidak (akan) tahu karena skripsi tidak bisa diakses umum. Meskipun, dunia digital memungkinkan untuk mengakses. Kita masih belum bisa melacak keseluruhan karya skripsi yang dikoleksi perpustakaan kampus. Masih ada kesempatan para pelaku potensial plagiat untuk memplagiat karya-karya skripsi terdahulu yang belum terasip secara digital.

Pengalaman Sanento Juliman dan Arif Zukifli bisa kita jadikan rujukan bagaimana skripsi yang bagus itu diperlakukan. Cara itu juga sedikit-banyak akan mempersempit ruang para pelaku plagiasi mencari bahan untuk dijiplak. Sebab, di lingkungan yang mengembangkan keilmuan praktik plagiat harus diharamkan sejak dari niat. Atau pinjam perkataan sastrawan Chile Roberto Bolano dalam buku ”Panggilan Telepon” (2018:22) ,”tak seorang pun boleh menjiplak, kecuali jika ingin digantung di sebuah alun-alun umum.” Saya menyepakati hukuman ini, kalau Anda bagaimana?