Oleh:
Muhammad Musyaddad Zaen
*Kabid Kaderisasi PB PII

Aku memahami dalam ilmu fisika bahwa perpindahan adalah perubahan kedudukan atau posisi dalam selang waktu tertentu. Ada dua hal yang mempengaruhi suatu perpindahan, yaitu perubahan posisi (jarak) dan selang waktu. Perubahan posisi terjadi jika suatu benda bergerak dari suatu tempat ke tempat yang lain. Sedangkan proses perubahan posisi membutuhkan waktu didalamnya.

Perpindahan dalam ilmu fisika contohnya seperti, berpindahnya seseorang dari pasar menuju ke rumah atau batu yang dipegang kemudian dilempar ke depan. Rasulullah dan Para Sahabat pun pernah melakukan proses perpindahan dari Mekah menuju Madinah. Dalam kasus lain juga, Nabi Ibrahim pernah pindah dari Negeri Palestine menuju ke Mesir (lihat QS. Al Ankabut ayat 26). Nabi Musa juga pernah pindah dari Mesir ke Negeri Madyan (lihat QS. Al Qashas: 21). Namun apakah mereka hanya pindah semata?
Konon, kisah-kisah diatas lebih dikenal dengan “hijrah” daripada pindah.

Hijrah adalah berpindahnya dari suatu tempat ke tempat yang lain. Arti Hijrah yang lain adalah melepaskan diri dari keburukan menuju kebaikan. Sehingga hijrah menjadi suatu hal yang lebih kompleks dari sebatas melakukan suatu perpindahan dalam ilmu fisika. Begitu menariknya Peristiwa Hijrah pada Masa Rasulullah dan Para Sahabat, akhirnya pada masa Khalifah Umar bin Khatab diabadikan dengan adanya kalender Hijriah. Khalifah Umar bin Khatab menganggap bahwa peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang sangat monumental dalam sejarah perkembangan dakwah umat Islam. Kenapa demikian?

Dalam peristiwa hijrah muncul satu hadits yang sangat populer, yang dijadikan rujukan oleh berbagai kitab fiqih para Ulama. Dari Umar bin khatab, bahwa Rasulullah bersabda,”Amal itu tergantung pada niatnya, dan seseorang hanya akan mendapatkan sesuai apa yang diniatkannya. Barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai kemana ia hijrah.” (HR. Bukhari Muslim)

Hadits diatas dikenal dengan hadits “niat”. Proses berhijrah didahului dengan niat sehingga aktivitas perpindahannya bernilai ilahiyah. Inilah yang menjadikan hijrah bukan semata melakukan suatu perpindahan. Peristiwa hijrah pada waktu itu adalah untuk menguatkan niat orang-orang yang telah mendapat petunjuk sehingga terhindar dari godaan yang ada pada waktu itu. Misalnya seperti kisahnya Nabi Ibrahim pada QS. Al Ankabut ayat 26, dalam riwayatnya disebutkan bahwa hijrahnya Nabi Ibrahim dan pengikutnya menuju ke Mesir adalah untuk menjaga niat pengikutnya dari gangguan orang-orang yang tidak mau taat dengan perintah Allah SWT. Karena hal tersebut akan menghambat proses penyampaian wahyu kepada pengikutnya.

Nabi Musa dalam kisahnya yang dijelaskan pada QS. Al Qashas ayat 21 juga melakukan proses perpindahan dalam suatu komunitas, karena adanya peristiwa yang pada saat itu kebenaran akan sulit untuk diterima, disebabkan massifnya hegemoni penindasan terhadap kaum yang lemah. Peristiwa hijrahnya Rasul dan Para Sahabat ke Madinah juga merupakan salah satu upaya penjagaan niat dari gangguan kaum kafir Quraisy. Maka dalam hadits niat yang disabdakan oleh Rasulullah mengandung muatan bahwa “hijrah” bermakna tentang penjagaan hati terhadap hal-hal yang akan ditinggalkan untuk hal-hal yang akan dituju (Allah dan Rasul-Nya).

Ketika anda meninggalkan sesuatu, pasti anda akan merasakan kehilangan. Begitu pun dalam berhijrah, seseorang akan kehilangan sesuatu yang harus ditinggalkan. Inilah yang menjadikan bahwa berhijrah itu berat. Karena seseorang akan dihadapkan pada suatu kondisi yang berbeda dari biasanya, sehingga dibutuhkan proses adaptasi yang baru. Misalnya, siswa yang naik di kelas VII SMP, dia harus meninggalkan kelas sebelumnya, beberapa temannya, guru, dsb. Sehingga dia harus beradaptasi dengan kondisi teman-temannya yang baru. Nah itulah salah satu contoh hijrah. Namun hijrahnya siswa tersebut baru sebatas pindah (naik kelas).

Ketika kita benar-benar mau untuk berhijrah, maka perlu dibarengi dengan tiga hal, yaitu; Keyakinan (niat), pemikiran, dan tingkah laku. Keyakinan merupakan kemantapan hati dalam memandang suatu kebenaran yang akan dijadikan sebagai rujukan disetiap pijakan berfikir. Keyakinan merupakan modal awal seseorang untuk memandang yang benar dan yang salah. Dengan keyakinan, seseorang akan paham makna kemerdekaan seorang manusia. Kemerdekaan adalah kesadaran manusia untuk memenuhi kebutuhannya, sehingga dia semakin mantap dalam menjalani hidupnya. Kemerdekaan seorang manusia ditandai dengan semakin mantapnya dia beribadah kepada Rabbnya. Karena manusia telah sampai kepada keyakinan tentang kebenaran mutlak (QS. Al Baqarah : 147). Maka untuk memantapkan keyakinan seseorang adalah dengan memahami Al Qur’an dan Sunnah. Karena dua hal tersebut bersumber dari Sang Maha Benar.

Pemikiran merupakan hasil dari apa yang diyakini oleh seseorang. Seseorang yang yakin akan kebenaran mutlak hanya dari Allah SWT maka akan berpengaruh terhadap pemikirannya. Maka sangatlah penting seseorang untuk memahami hakekat kebenaran terlebih dahulu. Dan selanjutnya tentang tingkah laku, dalam islam ini lebih dikenal dengan Akhlak.

Perilaku merupakan implementasi dari keyakinan dan pemikiran, maka perilaku yang negative merupakan gambaran dari keyakinan dan pemikiran yang belum selesai dalam memahami kebenaran mutlak. Karena ketika memahami kebenaran mutlak maka seseorang akan mengimplementasikan seutuhnya yang terdapat didalamnya. Sehingga tidak adanya toleransi yang terlalu berlebihan terhadap kepribadiannya. Misalnya dulu dia orang yang malas dalam melakukan sesuatu. Maka ini perlu menjadi koreksi diri, sejauh mana kebenaran mutlak merasuk kedalam keyakinan dan pemikiran kita. Karena malas pun banyak diterangkan dalam nash bahwa hal tersebut merupakan kerugian bagi seseorang.

Nah sekarang, apakah anda siap untuk berhijrah? Atau sekedar pindah? Ini pertanyaan yang perlu direnungkan untuk kita semuanya. Hijrah memang berat, namun bukan berarti sulit. Karena hijrah itu bukan hanya untuk dipikirkan namun dijalani prosesnya. Semua orang pasti pernah melakukan kesalahan dan kekhilafan, maka berhijrah merupakan solusi untuk menjadi manusia yang lebih bermakna. Karena tidak ada hal lain yang kita kejar di dunia ini kecuali menjadi insan yang bertaqwa kepada Allah SWT. Jadikan hijrah kita adalah momentum perubahan menjadi insan kamil. Dan nikmatilah setiap proses berhijrah, sehingga anda menemukan ketenangan dan ketentraman dalam menjalaninya.