Oleh: Bambang Prayitno

Hari ini (3/5) saya mendampingi Bang Fahri Hamzah menerima kunjungan rombongan Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) dan Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia (PII). Didahului makan siang bersama, kami berbincang santai tentang masa depan gelombang kebangkitan Islam, gerakan pemuda Islam, Pancasila dan Indonesia.

Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) adalah organisasi pemuda Islam yang didirikan pada awal Oktober 1945 sebagai respon lanjutan atas keberhasilan tokoh umat Islam dalam memobilisasi rakyat untuk melakukan Rapat Raksasa di Lapangan Ikada pada 19 September 1945. Artinya, tokoh umat Islam hanya memerlukan waktu sekitar dua pekan kurang untuk merumuskan organ taktis umat Islam yang bisa menjadi tulang punggung dari kerja revolusioner umat.

GPII didirikan oleh tokoh-tokoh umat Islam dengan tiga tokoh utama Mohammad Natsir, KH. Wahid Hasyim, dan Anwar Tjokroaminoto. Ketiga tokoh ini mencirikan pergumulan Islam di Indonesia pada saat itu. Dimana aktivis Nahdliyin (tradisionalis), aktivis gerakan Islam yang terinspirasi dari gelombang Islam di Timur Tengah pada saat itu dan aktivis Islam yang modern dan ke tengah; dimana ketiganya bertemu di kutub yang sama.

Jika kita peras, maka perpaduan dari ketiga pemimpin umat pada saat itu, berputar pada tiga hal; pertama, situasi politik nasional yang menuntut mereka untuk membangun basis tulang punggung revolusi kemerdekaan; yang kedua, mengembangkan diri sebagai tempat menciptakan kader-kader muharrik (penggerak) dan pemimpin umat; dan yang ketiga, menjadi tempat untuk mengaktualisasikan nilai keislaman dalam bernegara.

Pelajar Islam Indonesia (PII) sendiri adalah organisasi pelajar yang didirikan oleh aktivis-aktivis GPII pada dua tahun setelah pendirian GPII. Berbeda GPII; jika GPII didirikan sebagai respon optimisme lanjutan tokoh setelah mampu menjadi penyokong utama kedaulatan bangsa dan kewibawaan pemerintah RI yang baru seumur jagung, maka organisasi PII didirikan justru sebagai respon antisipatif atas pengaruh pendidikan warisan kolonial yang menjadikan karakter pelajar, kaum terdidik dan rakyat Indonesia pada saat itu mewarisi mental sebagai warga negara kelas dua, minder, kurang percaya dan tak mau berkembang.

Dalam kedua organisasi ini; GPII dan PII, nilai keislaman diajukan kembali sebagai alas narasi dari gelombang Indonesia setelah kurang lebih dua puluh tahun sebelumnya (1928), persatuan pada tanah air, bangsa dan bahasa didengungkan sebagai urat nadi dari semangat revolusi. Pada perjalanannya, GPII dan PII kemudian menjadi organisasi yang juga menjaga benteng Indonesia dari rongrongan komunisme dan pengkianatan dari bangsa sendiri. Dalam proses perjalanannya mengawal NKRI inilah, GPII sempat dibubarkan oleh Soekarno di masa senjakala pemerintahannya. Lalu dihidupkan kembali. Sementara PII “survive” hingga hari ini, walaupun juga mendapatkan tekanan yang luar biasa dari rezim ke rezim.

Dalam perbincangan tadi, Fahri Hamzah menyampaikan pesan kepada aktivis GPII dan PII. Pertama, kita harus menemukan kembali kalimatun sawa‘ atau platform bersama (common platform) yang bisa menyatukan keragaman gerakan Islam di Indonesia. Mengambil inspirasi dari kelahiran organisasi gerakan Islam yang diinisiasi oleh tokoh-tokoh lintas gerakan dengan berbagai latar belakang dan pengalaman berbeda, ternyata mereka mampu menemukan agenda besar bersama atas bangsa ini. Dan agenda serta platform bersama itu harus kita rawat serta sebarkan ditengah-tengah ummat.

Kedua, kita sudah harus mulai merintis secara bersama-sama kepemimpinan umat yang lebih solid. Setelah 411 dan 212 atau mobilisasi lanjutan umat Islam lainnya, kesadaran gerakan Islam dan umat pada kepemimpinan nasional bangsa ini semakin tumbuh dengan pesat. Kita semakin menyadari bahwa bangsa ini adalah bangsa besar dengan kontribusi umat Islam yang luar biasa dalam proses kelahiran dan jatuh bangunnya. Kita yang menjaganya. Kita yang menjadi benteng terdepan dari bangsa ini ketika Indonesia menghadapi bahaya yang datang mengancamnya. Dan kepemimpinan yang jauh dari umat benar-benar merugikan kita semua.

Tapi anehnya. Dikembangkan opini yang begitu massif dan terstruktur. Bahwa anak muda dan terutama anak kandung umat Islam ini dianggap tidak mampu memimpin bangsa sendiri. Kalau sudah aktivis Islam, maka langsung ada labelling dan stereotip bahwa kita dianggap tidak komitmen dengan kebhinnekaan, pluralisme dan sebagainya. Padahal kitalah yang menjaga dan merawat Indonesia selama puluhan tahun dengan nilai-nilai itu semua.

Ketiga, kita sedang menghadapi manusia-manusia yang tidak mempunyai ikatan ideologi dan ikatan batin dengan bangsa ini. Mereka datang dan pergi mengeruk seluruh kekayaan bangsa ini. Mereka tidak peduli kita hancur atau binasa. Mereka membayar media dan para pengkhianat-pengkhianat bangsa. Dan dengan sebuah permainan canggih media sosial yang luar biasa banyak orang yang diorbitkan. Tak tahu darimana juntrungnya tapi mereka mau merebut kepemimpinan umat ini. Maka kita harus persiapkan diri kita dengan kemampuan yang sama. Sadarkan rakyat kita.

Keempat, aktivis muda Islam perlu menyiapkan diri atas situasi bangsa ini. Kita harus terus mematangkan ilmu, perbanyak pengalaman lapangan dan tanpa henti untuk konsolidasikan gerakan. Umat dan bangsa ini membutuhkan anak-anak muda gerakan Islam sebagai penopangnya. Kita harus mampu membaca dan menafsirkan pesan Tuhan sehingga umat mengikuti dengan tenang. Kalau para pemimpin tidak bisa baca Qur’an, maka umat akan membaca Qur’an sendiri. Membuat interpretasi sendiri. Lalu mereka melakukan hal-hal yang menyesatkan. Menjadi pion dan dipakai untuk adu domba. Yang pada akhirnya, merusak nama Islam itu sendiri.

Kelima, Pancasila adalah milik umat Islam. Gagasan Pancasila adalah perasan dari nilai keislaman yang pernah disampaikan oleh ulama bangsa ini. Pancasila adalah “Maqashid Asy-Syariah“. Pancasila wajib kita klaim sebagai cara umat Islam mempraktikkan nilai Islam dalam kehidupan bernegara kita. Pancasila bukanlah nilai yang mengandung liberalisme. Pancasila adalah nilai religiusitas dari bangsa ini. Dan umat Islam adalah kontributor utama gagasan itu. Pemilik saham terbesar dari bangsa ini.

Jakarta, 3 Mei 2017

*Staf Ahli Wakil Ketua DPR RI