Oleh : Setio Budi Harsono (Kadiv Diklat Koorwil Brigade PII  Jateng 2017-2019)

Suatu ketika saya sedang mendapatkan tugas dari Pengurus Wilayah Jawa Tengah (PW PII Jateng)  ke bagian barat wilayah jawa tengah dan melewati salah satu Pengurus Daerah (PD) yang mempunyai 4 komisariat, yang masih tetap eksis hingga saat ini. Saya pun tertarik untuk membuat sebuah artikel ringan ini, sebagai refleksi dan motivasi untuk daerah lainya supaya berlomba-lomba membentuk komisariat di daerahnya masing-masing.

Berbicara komisariat maka tidak pas rasanya kalo kita tidak membedah hal ini dari Sumber Landasan PII itu sendiri yaitu AD ART dan Falsafah Gerak (FG)  serta GBHO PB PII.

Dalam AD ART disebutkan bahwa komisariat adalah sebuah institusi ke 4 PII  setelah Pengurus Daerah (PD)  yang berkedudukan di Kecamatan, Sekolah ataupun di tempat  lain selama masih dibawah lingkup daerah itu sendiri. Pengurusnya pun disebutkan setingkat  SMP dan SMA yang kualifikasinya adalah Basic Training (BATRA).

Lalu dimanakah letak korelasi antara komisariat sebagai stabilisator  daerah? Mari kita bahas satu persatu di bawah ini. Pertama, Dalam logika sederhana seperti yang dijelaskan dalam bagan sistem Ta’dib. (Silahkan lihat bagan sistem ta’dib) Disebutkan bahwa pembinaan di Pelajar  Islam Indoensia (PII) melalui dua jalur: 1)  Jalur training dan 2)  Jalur struktural. Artinya seseorang yang sudah Basic Training (BATRA) dan menjadi Pengurus Komisariat (PK) ketika ia melanjutkan jenjang training ke Intramediate Training (INTRA) maka secara otomatis dia telah memenuhi kualifikasi menjadi seorang Pengurus Daerah (PD), atau kata kasarnya adalah dia sudah waktunya menjadi Pengurus daerah (PD).

Kedua. Perlu diketahui bahwa pengkaderan Pelajar Islam Indonesia (PII)  adalah menggunakan sistem piramida yaitu dengan masukan kader yang besar di Basic Training  (BATRA)  maka akan tersaring menuju jenjang Intramediate Training (INTRA) dan yang terakhir Advanced Training. Disini menunjukan bahwa semakin naik jenjang trainingnya maka jumlah kadernya semakin sedikit. Karena memang dengan naiknya jenjang training semakin berat dan besar tanggung jawab seorang kader dalam mengemban misi dan eksistensi Pelajar Islam Indonesia (PII)  kedepan. Dan hal itu seharusnya merupakan sebuah kesadaran dalam berorganisasi.

Dan ketiga, terakhir. Kita tahu bersama bahwa dalam berstruktur pun kita berjenjang hal itu menunjukan bahwa jika ada kuantitas kader di Pengurus Komisariat (PK) akan mengamankan personil Pengurus Daerah (PD)  kedepan. Atau bisa dikatakan estafet kepengurusan di Pengurus Daerah bisa Stabil dan aman (adm:emha)