Oleh : Hardian Zulfikar

Socrates? Siapa itu? Oke, saya kenalin dulu sebentar, Socrates adalah seorang Filsuf Yunani kelahiran tahun 469 SM dan meninggal 399 SM. Ya sekitar 2300 tahun yang lalu di dunia ini pernah hidup manusia yang bernama Socrates. Ayahnya adalah seorang pemahat batu bernama Sophroniscos dan Ibunya adalah seorang bidan yang bernama Phainarete, ia memiliki istri bernama Xantippe. Socrates terkenal memiliki pribadi yang jujur, berbudi baik dan adil.

Socrates sangat dekat dengan para pemuda di Athena ia menggunakan metode tanya jawab ketika sedang berbicara dan berdiskusi sehingga banyak simpati dari pemuda di negerinya tersebut. Namun ia kurang disenangi oleh orang banyak, ia dituduh merusak moral pemuda dan ia juga dituduh menolak dewa-dewa atau Tuhan-Tuhan yang telah diakui negara. Ya, begitulah Socrates seorang pemberontak ulung 2300 tahun yang lalu yang ia tetap setia dengan keyakinan dan standar kebenaran yang ia yakini sampai akhir hayatnya.

Ia berdiskusi dengan teman-temannya di pasar dan di jalan-jalan pada saat itu pasar bukan sekedar menjadi tempat jual beli saja tetapi juga tempat membicarakan hal apapun dari hal sepele sampai persoalan apa itu kebaikan, kebenaran atau hakikat hidup dan lain-lain dibicarakan. Saat Socrates datang ke pasar ia tidak merasa seperti seorang yang mahabenar kemudian mengajari orang-orang di sana dengan mengeluarkan segala hapalan dan kehebatan pengetahuannya, tapi ia ke sana justru hanya membawa pertanyaan! Pertanyaan-pertanyaan yang radikal dan mendalam tentang banyak hal terutama tentang kebenaran yang sejati. Cara Socrates dalam menggali pengetahuan sering disebut sebagai metode Socrates.

Metode Socrates (Socrates Method) yaitu metode pembelajaran dengan percakapan, debat, diskusi dan dihadapkan dengan berbagai pertanyaan, dari situ diharapkan pelajar mampu menemukan jawabannya, saling membantu dalam menemukan jawaban-jawaban yang sulit.

Metode socrates ini bukanlah cara belajar dengan cara memberi jawaban tetapi dengan cara mengajukan pertanyaan, menunjukan kesalahan logika dari jawaban, serta dengan menanyakan lebih jauh lagi sehingga para pelajar terlatih untuk memperjelas ide-ide mereka sendiri dan dapat mendefinisikan konsep-konsep yang mereka maksud secara rinci.

Perserta dalam metode ini antara satu dengan yang lain memiliki sudut pandang yang berbeda-beda dalam menyikapi sebuah pertanyaan atau topik sehingga menyebabkan adanya kontradiksi dalam diskusi. Peserta yang melakukan metode ini berusaha untuk mempertahankan argumennya masing-masing. Namun, dari beberapa argumen tersebut berdasarkan hasil diskusi nantinya akan ditemukan sebuah jawaban yang benar berdasarkan logika dan fakta.

Socrates berpandangan bahwa setiap anak telah memiliki potensi untuk mengetahui kebenaran, kebaikan serta kesalahan. Misalnya di dalam kelas seorang guru melontarkan pertanyaan kepada para pelajar secara diam-diam tanpa diketahui pelajar sebelumnya sehingga pelajar tersebut dituntut untuk berani, percaya diri, berpartisipasi aktif dan kritis dalam menanggapi topik tersebut.

Tujuan metode socrates ini adalah merangsang pelajar untuk menganalisis masalah dengan sebuah analogi dan berpikir kritis tentang suatu argumen. Metode ini juga membantu pelajar dalam mengembangkan ketrampilan penalaran serta menanamkan pada pelajar kebiasaan ketat dan analisis kritis argumen-argumen yang mereka dengar secara tegas dan persuasif, serta praktek menilai dan merevisi ide-ide mereka sendiri.

Itulah secara umum cara belajar ala Socrates 2300 tahun yang lampau ketika kita semua masih entah di mana telah ada seorang manusia yang memiliki cara belajar yang dipelajari hingga 2300 setelah kematiannya. Sebagaimana Socrates juga menekankan kepada dialektik sehingga metode Socrates pun bisa dikritisi, karena ketika kita mengkritisi metode socrates sejatinya kita sedang menjalankan metode Socrates, melihat kesalahan logika dan argumentasi metode socrates dengan metode socrates! Selamat sore! Have fun!

Lalu gimana prakteknya metode Socrates itu? Nanti aja dibuat terusan tulisannnya. Saya mau ngopi dulu!

Referensi : Dirangkum dari berbagai sumber