(Supel.id,-Lombok) Sejak hari Senin tgl 27 Agustus 2018, Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia (PB PII) mulai melakukan proses pendidikan informal di lingkungan Sekolah SDN & SMPN SATAP 2 kayangan di Desa Pendua, kecamatan Kayangan kab. Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat.

“Alhamdulillah, dengan hadirnya teman-teman relawan PII kami selaku pihak sekolah merasa terbantu. Dengan program pendidikan Belajar sambil bermain yg mengasyikkan tentunya sangat membantu untuk mengurangi trauma yang dialami oleh anak-anak peserta didik. Jelas Muhsan, Kepala Sekolah SDN & SMPN Kayangan.

Kurang lebih 20 hari paska gempa membuat proses pendidikan di Sekolah terhambat, dikarenakan para orang tua sangat khawatir jika anak-anaknya jauh dari posko pengungsi.

“Salah satu tujuan kita (PII) mengalihkan aktivitas proses pendidikan dari posko ke lingkungan sekolah adalah untuk membiasakan anak-anak pergi ke sekolah, walaupun masih ada orang tua yang belum mengizinkan anaknya bersekolah. Ujar Hadi Miftahul Falah, Relawan Pendidikan PB PII.

SDN 1 Pendua siswanya berjumlah 267 orang dan SMPN 1 SATU ATAP berjumlah 101 orang siswa.

Hadi menegaskan “bagaimanapun kondisinya proses kegiatan belajar mengajar harus tetap berlangsung, untuk merawat semangat belajar anak-anak.”

Muhsan mengungkapkan, “Sekarang anak-anak sudah mau dan bisa meyakinkan orangtuanya untuk berangkat ke sekolah. Dalam proses transisi ini hadirnya teman-teman relawan membuat suasana baru dan model pembelajaran yang mengasyikan sehingga anak-anak senang untuk datang kesekolah walaupun pembelajarannya dilakukan di luar ruangan beralaskan terpal.”