Oleh: Anja Hawari Fasya

Sebagai pembuka konon katanya seorang filsuf asal Jerman bernama Karl Marx berpekik keras ‘’Religion is the Opium for People’’. Agama adalah candu bagi rakyat. Ia berasumsi bahwa agama hanyalah candu semata di tengah kerumunan masyarakat. Bagi saya Marx itu salah yang jadi candu itu bukan agama tapi “MOBILE LEGEND!” Jadi pengertian Marx harus dirubah dewasa ini menjadi ‘’Mobile Legend is the Opium for People.’’

Ya. Game Mobile Legend ini telah ramai dimainkan orang-orang tanpa tahu apa latar belakang motifnya . Mobile Legend seolah merupakan suatu kumpulan kepercayaan dan praktek yang tidak berubah-ubah yang seringkali bersifat mutlak dan pasti menangkal analisis rasional pemahamannya mudah dan cenderung melestarikan dirinya secara seragam dan pasti dalam pola-pola mental masa pengikutnya yang tidak pernah mempersoalkan kebenarannya, akan tetapi memeluknya secara membuta dan berdasarkan insting semata.

Penulis menyamakan Mobile Legend tak lebih dewasa ini seperti candu baru. Di sudut-sudut desa, di tengah-tengah kota, di dalam busway, di ruang lingkup pendidikan, taman dan warung internet. Game ini sangat gandrung dimainkan oleh sekawanan anak muda hari ini.

Selaku manusia yang berketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab serta kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah dan kebijaksanaan demi tercapainya kesatuan Indonesia. Penulis merasa resah sekalipun akan berdampak rusuh saat tulisan dahsyatnya Mobile Legend ini dipublikasikan. Pasalnya akan banyak mengundang polemik dari penganut ideologi Mobile Legend itu sendiri.

Entah apa itu Mobile Legend, semacam game perang melawan monster yang mengasyikan, ujar kawan saya saat ditanya definisi Mobile Legend. Disadari maupun tidak, dirasa tidak dirasa kehidupan generasi bangsa kita telah dirombak oleh satu game online ini. Pembicaraanya tak lagi soal Via Vallen, Nella Kharisma dan Chelsea Islan, tapi sudah berubah menjadi pembicaraan karakter yang ada di dalam game itu sendiri. Hebatnya si Miya nan amboy memakai panah, Balmond, Alucard  yang cetar bahana di persada Indonesia.

Bicara soal kecantikan artis saja sudah tidak mau apalagi soal kehebatan Founding Father bangsa Indonesia. Benak-benak remaja kita telah disusupi pertanyaan, bagaimana caranya menjadi jagoan tempur berpangkat mythic, bagaimana caranya menjadi seorang killer dengan gelar savage agar kawan-kawan sepahamnya menganggap itu sesuatu yang mengerikan dan dapat diapresiasi penuh layaknya jagoan.

Game ini sungguh benar-benar maha dahsyat membuat lupa diri dan lupa waktu. Persahabatan kerap menjadi renggang, hubungan asmara tak lagi romantis, akibat sibuk mengurusi karakter yang ada di dalam game online ini. Istilah ‘’Main bareng’’ sudah gampang sekali dirubuhkan menjadi kepada duduk melingkar di tengah kabel terminal sambil bilang,‘’serang si Goblin!’’

Omset warung kopi yang menyediakan wifi kini telah laku besar, hp-hp Smartphone yang mempunyai RAM tinggi laku total, apalagi Meme Comic yang lucu tentang Mobile Legend akan segera diupload dijadikan snap WA dan Instagram.

Betul kiranya saat Rena Decartes berkata ‘’Corgito Ergo Sum.’’ Aku berpikir maka aku ada. Kata ‘’ada’’ menunjukan pada sebuah eksistensi aku berada karena aku berpikir. Kini hilang sudah Corgito Ergo Sum dirubah ‘’Aku main Mobile Legend maka aku ada.’’

Eksistensi remaja ditentukan oleh game online semacam ini. Ibarat buih di tengah lautan, remaja kita terombang-ambing oleh sebuah sistem jajahan yang menjengkelkan setelah game Clash of Clan tak laku dan ditinggal, muncullah Ludo King dan Mobile Legend mampu menyihir para remaja di kerumunan masyarakat. Hp-hp mereka seketika menjadi miring dengan raut wajah teramat tegang, mendengar kata menggema ‘’Welcome to the Mobile Legend’’ hati mereka amat gembira seolah ada dendam dan ambisi penuh menguasai dunia.

Sekilas mengulas peristiwa ke belakang silam, mungkin pembaca pernah mendengar akan hewan peliharaan Cybernetik kreasi asal Jepang yang diberi nama Tamagotchi, banyak yang menilai mainan virtual itu dungu dan benar-benar sangat dungu, salahsatunya negara Vietnam dengan bukti melarang impor benda elektronik itu masuk ke negaranya. Tamagotchi dituduh biang keladi kemerosotan belajar para murid di Vietnam, dengan latar belakang ini Vietnam pernah menggaungkan suatu alternatif patirotik ‘’Sungguh mubazir jika seorang anak petani memboroskan uang demi membeli seekor ayam-ayaman virtual, padahal dengan uang itu dia bisa membeli seekor ayam hidup yang dapat dipelihara untuk meningkatkan produktivitas pertenakan nasional !’’

Mudah-mudahan saja pemerintah kita ikut pula meniru gaungan patirotik semisal Vietnam terhadap Mobile Legend. Pasalnya remaja haruslah menyadari bahwa mereka sedang dihadapkan suatu konflik yang serius dalam masyarakat. Bila konflik ini tidak dirasakan, dipahami, ditemukan dan di analisis, di evaluasi secara berani, kita akan menjadi mainan keadaan yang ditentukan semata-mata oleh periode sejarah mendatang. Sebaliknya bila kita berhasil menyadari hakikat konflik dan dampaknya pada eksistensi kita maka kita akan dapat memainkan peranan intelektual yang sebenarnya dalam membentuk dan menentukan nasib kita. Selesai.