Negara mayoritas katolik ini dulunya adalah negara mayoritas Muslim, namun jumlah pemeluk Muslim menurun secara signifikan sejak datangnya penjajah Spanyol yang melakukan kristenisasi. Bangsamoro adalah Muslim dari 13 suku Austronesia yang berada di Filipina bagian Selatan diantaranya Mindanao, Sulu, Basilan, Tawi-tawi dan lainnya. Istilah moro berasal dari bahasa latin dari kata moor, mauriscor atau Muslim.  Istilah moro identik dengan karakteristik orang Aljazair, Maroko dan Andalusia di Spanyol yang beragama Islam. Bangsamoro menyatakan bahwa identitasnya adalah Islam. Selanjutnya Spanyol menyebut Muslim Sulu dan Mindanao dengan istilah moro.

Filipina menjadi koloni Spanyol pada tahun 1565-1821 dan menjadi provinsi Spanyol pada tahun 1821-1898. Spanyol menjajah Filipina juga mencari kekayaan, kekuasaan dan agama sebagaimana belanda menjajah Indonesia membawa misinya Gold, Glory and Gospel. Hanya saja yang tampaknya paling berhasil adalah penyebaran agama katolik yang dibawa oleh Spanyol ke Filipina. Kristenisasi berhasil dilakukan Spanyol antara lain pada bagian utara dan tengah Filipina dengan memurtadkan Muslim secara paksa, sementara di bagian selatan Filipina, Spanyol memperoleh perlawanan keras dari Muslim Mindanao yang berjuang mempertahankan keyakinan dan wilayahnya. Bahkan Muslim Mindanao beranggapan seluruh Filipina adalah tanah leluhurnya yang dirampas Spanyol dan Amerika Serikat. 

Pada tahun 1989 Filipina diakuisisi oleh Amerika Serikat hingga pada tanggal 4 Juli 1946 Amerika Serikat memberikan kemerdekaan kepada Negara yang dinamakan Filipina, diambil dari nama raja Spanyol, Raja Philip II saat awal mula Spanyol menduduki Filipina. Amerika menggabungkan wilayah Mindanao dan Sulu dengan Luzon dan Visayaz ke dalam pemerintahan Kristen Filipina yang berpusat di Manila. Bangsamoro mengajukan petisi untuk memisahkan diri dari Filipina merdeka kepada Amerika Serikat, namun hal tersebut diabaikan Amerika. 

Pemberontakan bersenjata lantas terus terjadi antara Bangsamoro dengan pemerintahan Filipina. Pada masa pemerintahan Ferdinand Marcos (1965-1986), presiden Filipina semakin bersikap represif dengan melakukan genosida dan pembakaran rumah serta tempat ibadah Bangsamoro. Pemberontakan Bangsamoro melawan pemerintah menjadi separatisme yang lebih terorganisir dan sistematis dengan berdirinya Muslim Independent Movement (MIM) pada tahun 1968 sebagai respon terhadap sikap represif pemerintah. Kelompok ini kemudian digantikan dengan berdirinya Moro Libration Front (MLF). Dari MLF ini lahirlah Moro National Libration Front (MNLF) yang dipimpin oleh Dr. Nur Misuari, dalam perjalanannya pihak yang tidak sepakat dengan sikap MNLF mendirikan Moro Islamic Libration Front (MILF) pada tahun 1984 yang dipimpin oleh Hasyim Selamat. 

Berbeda dengan MNLF yang bersikap menerima opsi Filipina untuk menjadikan Mindanao sebagai daerah otonom khusus di Republik Filipina, MILF memperjuangkan Filipina Selatan menjadi Negara sendiri yang berdasarkan Syariat Islam. Walaupun bercita-cita sama mendirikan Negara merdeka, Abdurazak Janjalani keluar dari MILF dan mendirikan Abu Sayyaf yang bergerak lebih ekstrim serta melakukan terorisme, bahkan mereka memiliki hubungan dengan jaringan ISIS. Pada bulan Mei tahun 2017 lalu, Abu Sayyaf melakukan pengepungan kota Marawi selama 5 bulan dan menewaskan warga sipil

Solusi untuk mengakhiri konflik bersenjata di Filipina ini sudah diupayakan berulang kali dengan melakukan beberapa kali diplomasi untuk mencapai perdamaian. Undang-undang Organik Bangsamoro (BOL) akhirnya diratifikasi pada hari Jum’at, 25 Januari 2019 melalui hasil referendum dengan 1,5 juta orang yang memilih ya untuk wilayah otonom Bangsamoro. BOL memberi kesempatan bangsamoro untuk memerintah sendiri sebagai wilayah  otonomi Bangsamoro dengan otonomi yang lebih luas. Otonomi ini antara lain memberi hak 75 % pajak daerah dan 5 % anggaran dari pendapatan nasional untuk Mindanao selain itu Mindanao dapat memiliki parlemen dan pengadilan syariah serta hak-hak otonomi khusus lainnya. Sebagai imbalannya MILF harus merelakan tujuan mereka untuk merdeka dari Filipina dan harus meletakkan senjata. 

Ratifikasi BOL ini disusul dengan kejadian bom ganda gereja katedral di Pulau Jolo Filipina Selatan yang memakan korban jiwa serta korban luka-luka. Peristiwa pengeboman ini belakangan diklaim oleh ISIS sebagai pelaku serangan tersebut. Aksi teror yang diduga dilakukan oleh ISIS dan Abu Sayyaf ini belum dipastikan motifnya apakah berhubungan dengan referendum BOL. Referendum kedua BOL akan diselenggarakan pada tanggal 6 Februaru mendatang di Lanao del Norte, Cotabato dan sekitarnya untuk memilih bergabung dalam wilayah otonom.  Semoga semua pihak memperoleh hak-haknya dengan adil dan dapat mencapai perdamaian ya!