Apa yang ada dibenak kita ketika membicarakan kondisi sosial politik di benua Afrika? Afrika identik dengan benua hitam, bumi yang dieksploitasi, nilai mata uang yang rendah, pemerintahan yang otoriter dan kerap terjadinya kudeta yang buat geleng-geleng kepala. Pasca era kolonialisme Eropa di benua Afrika, pemeritahan di negara-negara Afrika yang merdeka mengalami hingga ratusan kali upaya kudeta termasuk yang berhasil maupun yang gagal. Sebut saja Burkina Faso, Libya, Ethiopia, Mauritania, Nigeria, Ghana, Tunisia, Chad, Burundi, Comoros, Sudan dan negara-negara lainnya di Afrika yang berulangkali mengalami upaya kudeta di dalam pemerintahannya.

Untuk kita para Millenial yang sudah terbiasa dibesarkan pada alam demokrasi pasca reformasi di Indonesia, rasanya cukup asing dengan fenomena kudeta atau revolusi rakyat. Terakhir kali terjadinya demonstrasi mahasiswa menuntut mundur Suharto pada Mei 1998 di Indonesia kira-kira pada saat Millenials baru saja lahir, sehingga tentu saja mereka tidak terlibat bahkan sama sekali belum mengerti. Rasanya akan sangat mengerikan sekali kalau peristiwa-peristiwa tersebut terulang kembali di Indonesia.

Millenials Indonesia yang sedang belajar, bekerja atau sekedar sedang memahami negara-negara di Afrika tentu saja harus terbiasa dengan situasi dibawah tekanan politik yang tidak stabil, operasi darurat militer atau kemungkinan kerusuhan-kerusuhan yang mudah terpicu dikalangan rakyat Afrika. Apa yang terjadi di Sudan baru-baru ini juga bukan krisis politik yang mengejutkan kalau di Afrika, kendati hal itu tidak kalah menyengsarakan banyak pihak di dalam negerinya.

19 Desember 2018 lalu, demonstrasi meledak menuntut mundur Presiden Umar Al-Bashir yang telah berkuasa selama 30 tahun secara otoriter. Demonstrasi ini dipicu oleh merosotnya perekonomian dan naiknya harga roti, yang mana pemerintah dianggap tidak mampu mengendalikan perekonomian dan inflasi bahkan berlaku korup.  Situasi semacam ini amat sering kita dengar dan digembar-gemborkan di Afrika.

Hingga kini aksi duduk gelombang massa terus berlangsung meskipun presiden Bashir sudah jatuh. Jenderal Ahmad Awad Ibn Auf mengumumkan jatuhnya kepemimpinan Presiden Bashir pada 11 April 2019 lalu sekaligus mengumumkan dirinya memimpin pemerintahan transisi dan membentuk Dewan Militer Transisi (TMC). Namun, sehari setelahnya Jenderal Ibn Auf mengundurkan diri dan menyerahkan Dewan Militer Transisi kepada Letnan Jenderal Abdul Fattah al-Burhan. Terus melakukakn negosiasi dan turun ke jalan, massa menuntut Dewan Militer Transisi Jenderah Burhan menyerahkan kekuasaan pada kepemimpinan sipil. 

Angin demokrasi tampaknya sampai juga ke Afrika. Tidak hanya kudeta militer yang menghiasi penggulingan kekuasaan di Afrika. Kini demonstrasi rakyat turut pula menggerakkan revolusi menuntut pergantian rezim atau apa yang belakangan disebut sebagai fenomena Arab Spring.  

Arab Spring dimulai dari peristiwa bakar diri Muhammad Bouazizi, seorang pedagang kecil di Tunisia. Bouazizi kecewa terhadap perlakuan pemerintah yang tidak memberikannya izin untuk berdagang sebagaimana hari-hari biasanya, bahkan lalu memerasnya. Aksi Bouazizi ini mengundang kemarahan rakyat Tunisia yang juga sedang mengalami krisis ekonomi sehingga melakukan protes terhadap pemerintahan Ben Ali. Demonstrasi ini berhasil menjatuhkan Ben Ali dari kekuasaannya. Gelombang ini lantas menghantam negara tetangganya Libya, dimana massa berhasil mejatuhkan Muammar Khadafi. Begitupula gelombang demonstran menjatuhkan Husni Mubarak di Mesir. 

Namun, Arab Spring yang digadang-gadang menghembuskan gelombang demokratisasi di Afrika nyatanya bermata ganda bagi kepentingan barat, saat gelombang demokratisasi menguatkan suara mayoritas Islam pada kekuasaan, nyatanya barat mendukung upaya kudeta militer menjatuhkan kekuatan sipil. Mandeknya demokratisasi di Afrika salah satunya ditandai dengan dibubarkannya Front Pemenangan Islam (FIS) oleh Militer dan elit sekuler setelah FIS memenangkan Pemilu multipartai di Aljazair tahun 1990. Prancis mengkhawatirkan menguatnya kelompok Islam di Aljazair dan menghambat akses Perancis di Aljazair. Negara-negara barat juga menolak kemenangan Hamas pada Pemilu Palestina atau mengakui kemenangan Hamas jika Hamas mau mengakui Israel. Begitupula perilaku barat terhadap Mesir dimana barat mendukung kudeta Militer Jenderal Abdul Fattah el-Sisi terhadap Presiden Muhammad Mursi yang terpilih berdasarkan hasil Pemilu rakyat Mesir.

Gambaran negara-negara di Afrika yang terus berada dalam kondisi perekonomian buruk, kenaikan inflasi yang tinggi, kelaparan dan indeks pembangunan manusianya yang teramat rendah di dunia itu sungguh membuat miris. Kemerosotan perekonomian memicu kerusuhan-kerusuhan lain hingga krisis politik yang menambah lemahnya lembaga-lembaga politik di Afrika. Apakah ini persoalan kebodohan bangsa Afrika, atau kemiskinan yang mendarah daging di Afrika, atau akibat rezim otoriter yang berkuasa? semua masih bercokol menjadi tanda tanya menuding apa dan siapa yang salah.

Benua Afrika adalah benua yang dikenal berpenduduk mayoritas Muslim di dunia. Lantas situasi benua  Afrika yang terbelakang, kacau dan penuh huru-hara sukses menunjukkan kelemahan yang dicirikan terhadap Islam. Eropa dengan sengaja berupaya menjatuhkan identitas Islam dengan ramainya kekacauan dan instabilitas politik di Afrika. 

Melihat sejarah awal datangnya Islam ke Afrika, Islam telah berbaur dengan penduduk asli Afrika secara damai. Islam dipeluk oleh raja-raja asli Afrika kemudian tersebar dan diikuti oleh penduduknya. Islam hadir ke Afrika tanpa pertumpahan darah. Bermigrasinya kabilah-kabilah arab datang membawa dakwah Islam dengan kelembutan sehingga membebaskan penduduk Afrika dari keyakinan pagan. 

Ada banyak sekali kerajaan-kerajaan Afrika dimasa lalu yang menjadi kerajaan Islam. Kerajaan-kerajaan ini banyak berjasa menyebarkan Islam kedalam diri penduduk asli Afrika dan mengubah keyakinan awal mereka yaitu paganisme kepada Islam dengan terbuka. Raja Sundiata Keita adalah raja yang banyak menyebarkan Islam di wilayahnya, Kerajaan Mali. Kerajaan-kerajaan lain yang memeluk dan menyebarkan Islam di Afrika diantaranya Kerajaan Songhai disekitar sungai Niger. Kerajaan Hausa di bagian utara Nigeria. Kerajaan Kanem di sekitar Danau Chad pada batas-batas wilayah Chad. Kekuasaan Baguirmi dan Ouddai di Republik Chad sekarang. Kerajaan Funj di Sudan. Kerajaan Adal dan Kerajaan Mogadishu di Somalia. Kerajaan Zanj hingga ke Kongo, Uganda, Kenya dan Tanzania.

Kerajaan-kerajaan Islam di Afrika ini pada umumnya lalu berafiliasi dengan Mesir seperti kerajaan Adal atau Somalia Utara sekarang. Mesir juga menganeksasi Sudan pada era Muhammad Ali seperti wilayah Darfur, Kurdufan dan Bajah. Kerajaan Mogadishu atau Somalia Selatan sekarang juga banyak memperoleh bantuan dari Dinasti Mamluk Mesir dan Dinasti Utsmani Turki. Hubungan kerajaan-kerajaan Islam di Afrika dengan Mesir dan Utsmani ini menambah kekuatan dan penyebaran Islam di Afrika. 

Hanya saja, saat Mesir jatuh ke tangan Inggris serta Utsmani melemah, mulailah kolonialisme Eropa menjajah Afrika. Wilayah-wilayah yang dianeksasi Mesir juga tidak luput menjadi wilayah yang dibagi-bagi untuk dikuasai Eropa antara lain kepada Inggris, Perancis, Jerman, Italia dan Abyssinia Kristen yang didukung Eropa. 

Penjajah Eropa dimanapun juga tidak lain mengejar gold, glory, gospel yaitu harta, kekuasaan dan kristenisasi. Terjadi diskriminasi yang tajam antara kulit putih dengan kulit hitam (Apartheid) di Afrika. Warga kulit putih Eropa memiliki jabatan dan  menguasai sumber daya alam, sedangkan warga kulit hitam Afrika diperbudak oleh Eropa. Mereka menyebarkan kelaparan dan kebodohan di benua Afrika. 

Penjajah Eropa juga melakukan kristenisasi lalu memberikan jabatan serta kekuasaan kepada orang Kristen untuk menindas dan menciptakan kekacauan dengan warga Muslim mayoritas di Afrika. Adu domba penguasa kristen ini selalu berupaya menyulut konflik antara penganut pagan Afrika dengan penduduk Muslim Afrika dan berusaha meminggirkan kaum Muslim. Hingga kini, penjajah Eropa meninggalkan Afrika dalam kondisi terbelakang, buminya yang tereksploitasi, instabilitas politik dan menanam benih perpecahan kepada kaum Muslim.