Judul Buku                  : Islam dan Tata Negara; Ajaran, Sejarah dan Pemikiran

Penulis                         : H. Munawir Sjadzali, M.A.

Penerbit                       : Universitas Indonesia  (UI-Press)

Edisi/Tahun Terbit      : 5/ 2008

Jumlah Halaman          : Xii, 240 hlm

Buku ini adalah referensi dasar bagi mahasiswa, intelektual maupun siapa saja yang ingin memulai tangga pemahaman yang lebih tinggi dalam bidang pemikiran politik Islam. Jika anda memiliki pertanyaan seputar bagaimana pemikiran tetang pemerintahan Islam, negara Islam, kepemimpinan dan kekuasaan dalam Islam serta musyawarah, buku ini sangatlah tepat. Ia merupakan buku pegangan dasar yang tidak akan lekang oleh waktu.

 

Ditulis oleh H. Munawir Sjadzali, M.A., seorang pengajar di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta khususnya pada mata kuliah Al- Fiqh al-Siasi. Beliau juga seorang praktisi yang kenyang pengalaman sebagai diplomat untuk Amerika, London dan negara-negara Timur Tengah. Adapun pengabdian beliau untuk negara, kita kenang pula sebagai Menteri Agama pada Kabinet Pembangunan IV (1983-1988) dan Kabinet Pembangunan V (1988-1993). Mari kita bacakan Al-Fatihah untuk beliau yang telah berpulang pada 23 Juli 2004 lampau.

 

Munawir Sjadzali menawarkan pembahasan yang sistematis bagi pembaca buku ini. Hal ini sangat membantu untuk memahami alur pemikiran ketatanegaraan Islam secara runtut dan tidak ahistoris. Awalnya ia mencantumkan dalil-dalil Qur’an yang memuat keterangan tentang kepemimpinan, persamaan dan musyawarah. Dilanjutkan dengan pembahasan mengenai pola ketatanegaraan yang dibangun pada masa Rasulullah di madinah, selanjutnya pada masa khulafaurrasyidin dan masa pasca Khulafaurrasyidin.

 

Pemikiran politik Islam selanjutnya dibagi dalam tiga bagian, yaitu pada zaman klasik, pertengahan dan kontemporer. Pemikiran politik Islam zaman klasik dan pertengahan berkembang ditengah masa-masa ekspansi Islam ke berbagai belahan dunia. Pada perkembangannya, kekuasaan Islam berhasil membentuk kemapanan yang ditandai dengan berdirinya dinasti-dinasti Islam.

 

Dinasti-dinasti Islam silih berganti mengalami kehancuran dan kebangkitan. Disamping dinamika yang terjadi pada perkembangan dinasti-dinasti Islam tersebut, banyak sekali keberhasilan-keberhasilan Islam yang telah dicapai dan patut diapresiasi. Ajaran Islam mengalami kemajuan diantaranya tidak hanya dalam bentuk implementasi ajarannya yang meluas, namun juga kemajuan konsep-konsep teologi, fiqh maupun ketatanegaraan yang kian beragam.

 

Pada masa ini mulai terjadi pengayaan khazanah pandangan ketatanegaraan Islam yang digagas oleh para pemikir muslim. Pemikir Muslim zaman ini,  selain memiliki pemahaman yang dalam mengenai ilmu al-Qur’an dan  Syariat juga telah dipengaruhi oleh filsafat yunani dan sistem pemerintahan romawi. Bersinggungannya kekuasaan dominan waktu itu antara lain Islam, Romawi dan Persia memberi pengaruh bagi cara berfikir pemikir Muslim.

 

Karya-karya besar peradaban masa lalu seperti yunani, romawi, persia diterjemahkan kedalam bahasa arab. Kemajuan ilmu pengetahuan mencapai puncak keemasan. Dinasti Islam berhasil melahirkan filusuf dan ilmuan muslim yang memiliki karya-karya besar dalam bidang filsafat, politik, sosiologi serta berbagai cabang ilmu pengetahuan lainnya. Pemikir politik pada zaman klasik dan pertengahan diantaranya Ibnu Abi Rabi’, Farabi, Mawardi, Ghazali, Ibnu Taimiyah, Ibnu Khaldun.

 

Pemikiran politik Islam di era kontemporer ditandai dengan melemahnya pengaruh kekuasaan Islam. Kolonialisme barat lantas masuk hingga ke negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim yang diantaranya pernah mencapai kemapanan kekuasaan dan masa keemasan peradaban sebelumnya. Dunia Islam menyadari hadirnya sejumlah permasalahan yang menyerang sendi-sendi kehidupan sosial politik ummat Islam. Dunia Islam dihantam oleh kemajuan barat dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, industri, organisasi. Masalahnya adalah kemajuan barat yang berambisi untuk didistribusikan ke berbagai negara ini, notabenenya ialah berdasarkan pada sekularisme.

 

Kolonialisme barat menyerang sendi-sendi politik dan ketatanegaraan negeri-negeri Muslim. Misalnya yang paling jelas ialah dinasti Utsmaniyah di Turki akhirnya jatuh sebagai dinasti Islam terakhir. Berkembangnya pandangan nasionalisme di Arab mendorong negara-negara Arab untuk melepaskan diri dari kekuasaan Turki Utsmani. Perubahan yang demikian mencolok bagi Turki yaitu berbaliknya Turki yang semula menjadi lambang kekhalifahan Islam, menjadi negara sekuler secara konstitusional.

 

Baik tokoh-tokoh pemimpin maupun ilmuan Muslim akhirnya harus merespon ancaman kolonialisme barat. Kondisi ini melahirkan sejumlah pilihan bagi ummat Islam. Pilihannya ialah apakah menerima kemajuan barat seutuhnya atau sebaliknya menolak kemajuan barat seutuhnya atau apakah dapat dilakukan kompromi-kompromi untuk menemukan jalan tengah?.

 

Pemikiran politik Islam kontemporer umumnya terbagi menjadi tiga aliran. Aliran Pertama;  Islam merupakan agama yang universal, Islam telah mengatur sistem ketatanegaraan dan politik dan tidak perlu mengikuti barat. Aliran Kedua; Islam adalah agama, yang tidak ada kaitannya dengan sistem politik dan ketatanegaraan. Aliran Ketiga; Islam bukan agama yang serba lengkap dalam mengatur ketatanegaraan tetapi bukan pula agama yang sama sekali tidak mengatur ketatanegaraan, terdapat nilai etika di dalam Islam dalam rangka kehidupan bernegara. Tokoh-tokoh pemikir politik Islam kontemporer diantaranya yaitu Afghani, Abduh, Ridha, Ali Abd Al-Rasiq, Maududi, Husain Haikal.

 

Selanjutnya, tidak hanya penjelasan dari tokoh-tokoh pemikir politik beraliran Sunni yang dijabarkan oleh Munawir Sjadzali dalam buku ini. Ia juga menjelaskan pandangan ketatanegaraan dari golongan Syi’ah, Khawarij dan Mu’tazilah. Selain itu, beliau juga melengkapi uraian beliau dengan memaparkan sistem politik di negara-negara Islam. Beberapa yang beliu uraikan antara lain Arab Saudi, Maroko, Jordania, Mesir,Turki dan Pakistan.