Bagi sebagian kalangan, da’wah atau yang secara praktis dikenal dengan ‘ceramah’ terkesan seperti suatu kebisingan saja. Mereka juga merasa suara ceramah seperti pangilan yang memekik-mekik. Banyak para penda’wah yang ujung-ujungnya mengharam-haramkan inilah dan itulah. Mereka yang dida’wahi merasa seolah-olah akan dijebloskan ke neraka karena kesalahan-kesalahan mereka oleh para penda’wah, melalui ceramah-ceramahnya.

 

Jika anggapan dari sasaran da’wah kita masih seperti itu terhadap kita, ya sabar! sabar! dan sabar!. Berda’wah memang harus memiliki ilmu sabar seribu lapis.

 

Nabi Muhammad yang menyenangkan dipandang serta santun perangainya saja masih ada yang melempari batu dan kotoran dalam da’wahnya. Namun, tidak sedikitpun Nabi Muhammad membenci kaumnya. Malahan Nabi berintrospeksi diri manakala usahanya masih sedikit. Nabi medo’akan kebaikan bagi kaumnya, sekalipun Allah mengizinkan apabila Nabi menghendaki Allah menimpakan azab bagi mereka.

 

Kita yang parasnya biasa-biasa saja, dan ilmunya sedang-sedang saja, tentu masih harus banyak belajar dalam melakukan da’wah. Pengalaman demi pengalaman juga merupakan guru yang paling penting agar kita memahami lika-liku di dalam jalan da’wah. Onak dan duri yang dihadapi dalam berda’wah mudah-mudahan menjadi jalan yang memuluskan kita ke syurga.

 

Allah memerintahkan kita untuk berda’wah dengan mengutamakan cara-cara hikmah yaitu dengan mengupayakan jalan-jalan yang bijaksana. Dalam situasi yang tepat, tentulah kita meyakini bahwa yang halal dan yang haram harus diucapkan dengan tegas. Keberanian juga merupakan modal penting yang harus dimiliki penda’wah dalam menyatakan kebenaran.

 

Namun, jika pada situasi tertentu kita belum dapat menyatakan kebenaran dengan tegas dikarenakan adanya kendala-kendala yang belum dapat kita kendalikan dan paksakan, hendaknya kita lakukan secara perlahan. Kita jangan pula mudah menyalahkan orang lain apabila kita memandang ia tidak tegas mengharamkan yang dilarang tanpa mengetahui alasannya. Selagi masih ada upaya kebaikan yang dilakukannya, hendaknya kita terus mendukung agar ia meninggalkan kebatilan dan mengerjakan kebaikan secara pelan-pelan.

 

Tugas kita ialah menyeru tanpa berputus asa. Allah melarang kita berputus asa dan bersedih dalam keimanan. Allah berfirman dalam surat ‘Ali Imran:139, “Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang yang beriman.”

 

Rasul mengajarkan kepada kita untuk tidak pernah berhenti berda’wah. Berbagai cobaan telah dilalui Rasul dalam melakukan da’wahnya. Bahkan, jika diberikan bulan dan bintang, Rasul juga menolak untuk berhenti berda’wah.

 

Berda’wah berarti terus mengajak ke arah petunjuk Allah, namun bukan berarti kita dapat memutuskan dan memastikan petunjuk tersebut kepada manusia. Maka upaya kita dalam mengajak orang lain tidak perlu diiringi dengan kekecewaan, kemarahan ataupun kebencian manakala orang yang kita ajak tidak mau mengikuti apa yang kita sampaikan.

 

Bahkan dalam persoalan ketuhanan sendiri, Allah melarang kita mencerca Tuhan yang disembah penganut lainnya. Allah berfirman dalam surat Al-An’am:108, “Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan.”

 

Selain melalui ucapan, da’wah akan mudah tersampaikan dengan baiknya perilaku penda’wah. Apabila penda’wah mengajak kepada hal-hal yang tidak dilakukannya ataupun bertentangan dengan perilakunya, tentu membuat pendengar tidak tertarik dan merasa enteng dengan apa yang disampaikan. Jika pendengar sudah punya pandangan yang berlainan atau pandangan yang buruk terhadap penda’wah, tentu apa yang dida’wahkan lebih besar kemungkinannya untuk tidak diterima.

 

Apabila kita berda’wah tetapi terdapat perilaku kita yang mudah membenci orang lain, maka boleh jadi orang lain mudah pula membenci kita, malahan ia akan membenci juga kebaikan yang kita sampaikan. Begitupula jika kita berkata-kata dengan cercaan, orang akan membalas pula dengan cercaan didepan ataupun dibelakang kita. Sebagaimana tauladan yang diberikan Ali Bin Abi Thalib ketika menghadapi musuhnya di dalam peperangan, ia menjaga dirinya dari ego, kebencian, nafsu dan amarah dalam menegakkan agama.  “Aku diludahi, aku menjadi benci dan marah. Aku tidak ingin membunuhnya karena amarahku. Aku menunggu kemarahanku reda dan membunuhnya karena Allah.” Kata Ali.