Kini televisi bukan lagi kotak ajaib. Ada yang lebih ajaib dari itu : teknologi digital. Teknologi digital memiliki tingkat kecanggihan yang lebih tinggi. Tidak lagi berbasis analog. Produk terpopuler teknologi digital adalah internet.  Dunia mengenal internet sebagai jaringan teknologi canggih yang membuat dunia yang luas menjadi tampak kecil seperti “secuil” village (kampung). Ini karena internet dapat menghubungkan manusia dari dua tempat yang berjarak jauh hanya dalam tempo supersingkat. Dalam genggaman internet, jarak menjadi tidak berarti.

Dari teknologi digital (internet) inilah lahir sebuah alat baru yang digunakan sebagai sarana baru dalam melakukan partisipasi politik. Alat itu bukan hanya satu, tetapi beberapa : website, media sosial, aplikasi digital, dan sebagainya.

Semua itu ternyata bisa digunakan untuk melakukan partisipasi politik. Dan sebagai teknologi yang lebih canggih dari televisi, alat-alat ini menawarkan kelebihan : efektif dan efisien. Media sosial misalnya. Dengabn alat ini, warga Negara bisa melakukan partisispasi politik.

Di Amerika Serikat pada Pemilu 2009, media sosial digunakan oleh pendukung Presiden Barack Obama untuk mengampanyekan calonnya itu. Di facebook dan twitter mereka menyuarakan dukungannya pada Obama.

Mereka juga beramai-ramai membuat poster digital berisi dukungan bagi Obama. “Kampanye Obama merupakan kampanye politik trans-media yang pertama nyata dalam abad ke-21, ketika peran teknologi dua arah yang memikat menjadi sama penting dengan media tradisional,” kata konsultan branding Brian Collins (Don Tapscott: 2009).

Don Tapscott sendiri dalam buku Grown Up Digital (2009), membenarkan besarnya dan pentingnya pengaruh penggunaan media sosial dalam kemenangan Barak Obama. Meskipun begitu, Tapscott tidak melihat ini sebagai fenomena dadakan, tapi sangat terkait dengan sebuah generasi internet (Net Generation) di Amerika Serikat yang sudah tumbuh sejak beberapa puluh tahun yang lalu.

Fenomena yang terjadi di Amerika Serikat ini dengan cepat menyebar ke Negara-negara lain termasuk Indonesia. Pada Pemilu 2014 kita menyaksikan masifnya penggunaan media sosial sebagai sarana partisipasi politik. Media sosial menjadi panggung yang semarak oleh berbagai aksi kampanye, sosialisasi dan dukungan ke berbagai calon presiden.

Media sosial juga digunakan sebagai sarana partisipasi yang lain : protes sosial, protes politik, atau kritik atas kebijakan pemerintah. Ingat fenomena Arab Spring tahun 2011? Musim Semi Arab ini tidak akan sukses tanpa jasa media sosial. Revolusi yang bermula di Tunisia dan menjalar cepat ke Mesir, Libya dan Yaman tersebut digerakkan oleh kekuatan jejaring media sosial : Facebook, Twitter, Skype, You Tube. Kisah revolusi Tunisia berawal dari seorang tukang sayur, Muhammad Bouazizi (26 tahun) yang diperlakukan tidak adil oleh aparatur polisi Tunisia. Gerobak dagangnya disita. Padahal itu satu-satunya tumpuan hidupnya. Bouazizi mencoba menebusnya, tapi tak digubris. Karena frustrasi, Bouazizi nekat melakukan aksi bakar diri. Ia tewas secara tragis.

Nestapa Bouazizi menyulut amarah rakyat Tunisia. Namun, mereka tetap berpikir realistis: jika mereka melakukan protes turun ke jalan, tentu Presiden Zine El Abidine Ben Ali, sang dictator Tunisia yang telah berkuasa selama 23 tahun, akan memberondong mereka dengan pasukan bersenjata.

Rakyat Tunisia tak kehilangan harapan. Media sosial solusi jitu. Tanpa harus turun ke jalan, mereka bisa saling terkoneksi, berinteraksi dan berinteraksi menyuarakan protes politik, menuntut Ben Ali turun tahta. Konsolidasi dari dunia maya kemudian berlanjut ke dunia nyata. Jutaan rakyat Tunisia, terutama anak muda turun ke jalan. Dari sanlah revolusi bermula. Unjuk rasa bertebaran diseluruh antero Tunisia. Dan akhirnya: Ben Ali lengser dari kursi kekuasaan. Inilah revolusi yang digerakkan media sosial pertama dalam sejarah peradaban umat manusia sekaligus mengawali gelombang revolusi arab.