Assalamu’alaikum wr.wb.

Bismillah,

Pernah suatu ketika, saya berangkat dari rumah menuju tempat dilaksanakan Try Out PT yang saya inginkan. Waktu itu, pagi pukul 07.00 WIB saya sudah sampai di lokasi dan selanjutnya mengikuti TO dengan berjalan lancar. Saat selesai TO, semua peserta berkumpul di sebuah Gedung Aula untuk mengikuti kegiatan Bedah Kampus. Nah selesai acara ini, ada Bimbel yang mensponsori kegiatan ini membuka pendaftaran untuk 100 orang pertama yang datang ke tempat Bimbel dengan membawa tiket kegiatan ini dan beberapa persyaratan seperti pas foto dan biodata akan diberi les gratis selama 12 kali pertemuan. Pendaftaran 100 orang pertama ini dibuka keesokan harinya, Senin dari jam 08.00 WIB sampai 14.00 WIB. Saya sangat semangat untuk itu, dan juga mengingat bimbelnya terkenal bagus dan mahal sekali biaya untuk les disana. Selesai acara saya langsung pulang ke rumah untuk mempersiapkan persyaratan yang diminta, namun ketika saya cek di tas tiket nya hilang, saya coba cari di sela-sela kertas/buku benar-benar tidak ada, saya coba ingat-ingat dimana saya meletakkan nya namun hasilnya nihil. Saya benar-benar lupa. Sampai disini saya masih terus berusaha mengingat dan berdoa kalaulah itu rezeki saya pasti akan saya dapatkan, tapi jika tidak ya tidak apa-apa berarti bukan rezeki saya. Keesokan harinya saya dan teman-teman yang sudah menyiapkan tiketnya izin ke guru piket untuk pergi mendaftar, kenapa saya berangkat juga? Karena saya tetap mau mendatangi tempat les itu dan menemui pihak bimbelnya untuk menanyakan apa ada jalan lain untuk saya bisa mendapatkan les gratis itu dan benar saja masih ada jalan, pihak bimbel menjelaskan bahwa saya bisa menggunakan tiket siapa saja, mungkin dari teman saya ada yang tidak mau atau tidak bisa ikut, nah saya boleh memakai tiketnya asalkan ada tiketnya, itu saja. Saat itu juga, semua teman di sekolah saya yang ikut Try Out dan masih ada tiketnya langsung mendaftar, dan yang tiketnya hilang memutuskan untuk membiarkan saja. Dan saya coba hubungi teman-teman saya yang ikut Try Out dari sekolah lain, yang saya ingat dari sekitar 1000 an peserta hanya sekitar 10-15 orang teman saya yang saya kenali dan lihat langsung di tempat itu, karena itu Try Out se-Provinsi dan yang saya punya kontak nya hanya sekitar 6-7 orang. Ternyata itu pun ada yang tidak bisa dihubungi, yang bisa dihubungi juga malah ada yang hilang tiketnya, ada yang sudah dibuang, dan ada yang dipakai oleh dia sendiri. Sudah tengah hari, teman sekolah saya yang bernama Meta yang juga sedari tadi menemani saya, sudah tidak bisa membantu karena dia harus kembali ke sekolah dan menyampaikan pesan saya ke guru piket untuk memberikan saya tambahan waktu izin. Selama dijalan saya berdoa, saya sudah terus mencoba mengingat tapi tak kunjung ingat, saya coba sisiri jalan dari tempat TO ke rumah, siapa tahu jatuh ternyata juga tidak ada, kebetulan jarak rumah ke tempat TO hanya 0,5 KM. Akhirnya terbesit di pikiran saya untuk mendatangi lagi tempat saya TO, di gedung O di SMKN 1. Saya coba hubungi sahabat saya yang sekolah disana dan beruntungnya dia bisa dihubungi, saya minta dia temui saya yang sudah menunggu didepan gerbang sekolahnya dan dia pun langsung keluar dan menemui saya. Dia menemani saya dan meminta izin ke guru piket sekolahnya untuk membolehkan saya masuk ke area tempat sampah. Sontak saja guru piket itu tertawa mendengar alasan saya, dan bilang bahwa tidak mungkin ada lagi dan sampah nya juga pasti sudah dibakar tapi saya mencoba meyakinkan ibu itu untuk memberi saya izin bahwa apapun nanti hasilnya yang penting saya sudah berusaha semaksimal mungkin. Dan guru piket itu mengizinkan saya, sebenarnya ada banyak siswa/i di sana yang memperhatikan saya yang mengarah ke tempat sampah di belakang sekolah, tapi saya sama sekali tidak memperdulikan dan menganggap hal itu wajar saja. Sampai di Belakang sekolah ternyata sampah itu memang sudah dibakar. Tidak sampai disana, saya minta ke sahabat saya untuk menemani saya menuju ruang kelas dimana kelas itu tempat saya melaksanakan TO, saya tidak tahu itu kelas berapa tapi saya ingat kelasnya berlokasi dimana, sampai didepan pintu kelas, saya masuk ke dalam ruangan, berhubung sedang tidak ada guru yang mengajar jadi saya menemui dan minta izin ketua kelas untuk membolehkan saya masuk. Ketua kelas mengizinkan dan saya coba langsung mengecek meja yang saya gunakan pada waktu itu, ternyata tidak ada . Seketika saya sangat pasrah kepada Allah dan saat itu juga ada seorang siswi berteriak, “maaf kak, nama kakak Julia Hartanti ya?” saya langsung menoleh ke samping kiri, dan melihat dia menunjukkan tiket itu, betapa saya sangat merasa bersyukur kepada Allah. Disana satu ruangan mengucapkan Alhamdulillah, padahal kami jelas belum saling mengenal dan saya ber-terimakasih kepada adik-adik kelas 10 di ruangan itu,  dan langsung pamit. Tak lupa saya ber-terimakasih ke guru piket sekolah itu dan kepada sahabat saya yang sudah dengan sigap membantu saya, namanya Sri. Saya langsung menuju tempat bimbel dan Alhamdulillah masih ada kuota sehingga saya masih dapat menjadi bagian dari 100 orang itu. Ini memang sangat sederhana, tapi saya menemui banyak pelajaran, Saya benar-benar merasakan makna dari “usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil” dan tentang “siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan mendapatkannya” saya juga belajar tentang semangat, kesabaran, ketidakputusasaan, mau berusaha, berdoa dan tawakkal. Saya kira ini bisa disebut sebagai miniatur dari contoh perjuangan hidup yang sebenarnya. Semua keberanian itu saya asah dari Organisasi Kepramukaan dan dari Pelajar Islam Indonesia tentunya. Semoga Pelajaran Hidup Pribadi ini bisa bermanfaat bagi siapa saja yang membaca. Terimakasih atas Perhatian anda,Wassalamu’alaikum wr.wb.