Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
AR-SA

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:Arial;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Topik:

Musisi Indonesia di Australia Ada Ishs Komentari Soal RUU Permusikan

 

Melbourne

Seorang musisi jazz asal Indonesia Ade Ishs yang tinggal di Melbourne (Australia) mengatakan bahwa Rancangan UU Permusikan yang banyak dibicarakan di Indonesia dianggap tidak perlu dibuat, kalau naskahnya seperti sekarang (duplikat)

Ade Ishs yang sering manggung teratur di berbagai klub jazz di Melbourne mengatakan dia mengikuti cukup seksama mengenai perbincangan soal UU Permusikan tersebut. Sama seperti yang juga sudah disuarakan oleh beberapa kalangan pemusik di Indonesia yang menentang beberapa bagian dalam RUU Permusikan tersebut, Ade Ishs menyoroti hal seperti pasal mengenai pengaruh asing, dan juga perlunya sertitifikasi bagi para pemusik.

“Secara keseluruhan, menurut saya, kalau melihat naskah yang ada sekarang, sebaiknya tidak usah ada saja sekalian.” katanya dalam perbincangan dengan wartawan ABC Sastra Wijaya hari Senin (11/2/2019).


            Hal lain yang diatur di Australia adalah hal seperti bagaimana menjalankan venue musik. “Seperti misalnya mekanisme pembayaran royalti untuk musik yang dimainkan di venue, minuman apa saja yang bisa disediakan, dan jam berapa.” kata Ade Ishs lagi.

Di negara-negara lain termasuk di Inggris dan Amerika Serikat, pengaturan berkenaan dengan musik memang lebih diarahkan kepada perlindungan hak cipta dan bukannya berkenaan dengan apa yang boleh diciptakan atau tidak. Di negeri seperti Australia proses kreatif seperti penciptaan musik yang diatur adalah hal-hal seperti misalnya hak cipta.

Jadi, di dunia islam duplikasi tanpa izin itu dilarang, karna itu mengambil hak cipta orang lain tanpa seizin penciptanya, dan itu juga bisa di kategorikan sebagai pencuri. Ganjaran seorang pencuri di akhirat kelak yaitu kedua tangannya dipotong, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam QS. Al-maidah:38.

Lalu di dunia music, islam sebenarnya melarang tentang hal itu. Tetapi bukan brarti haram, di era modernisasi ini tentunya banyak revolusi-revolusi yang telah terjadi. Jadi islam di tuntut untuk berfikir baik buruk bagi diri dan agamanya. Ust. Abdul Shomad pernah mengatakan “lagu itu seperti omongan, jika lagu itu isinya baik seperti shalawat dll ya tidak masalah, tetapi jika isinya mengandung syahwat atau mengundang dosa baru tidak boleh”.