Indonesia Memiliki Banyak kebudayaan Yang Menawan dan Penuh kesakraran di dalamnya. Salah Satunya Berasal dari daerah Profinsi Nusa Tenggara Barat. Kearifan local dan kepribadian masyarakatnya menjadi nilai tambah akan indahnya masyarakat disana. Nusa tenggara Barat Terdiri dari Dua pulau yaitu pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. suku sasak, mbojo dan samawa merupakan 3 suku besar yang menempatinya. Suku Mbojo berada di Pulau Sumbawa tepatnya di kota Bima.

Berbicara mengenai tradisi, hubungan antara masa lalu dan masa kini haruslah lebih dekat. Tradisi mencakup kelangsungan masa lalu di masa kini ketimbang sekedar menunjukkan fakta bahwa masa kini berasal dari masa lalu. Kelangsungan masa lalu di masa kini mempunyai dua bentuk yaitu material dan gagasan atau objektif dan subjektif. Menurut Tasikuntan, tradisi berasal dari kata “traditium” pada dasarnya berarti segala sesuatu yang diwarisi dari masa lalu. Tradisi merupakan hasil cipta dan karya manusia objek material, kepercayaan, khayalan, kejadian atau lembaga yang diwariskan dari suatu generasi ke generasi berikutnya, seperti ada istiadat, kesenian dan properti yang digunakan.

Sesuatu yang diwariskan tidak berarti harus diterima, dihargai, diasimilasi atau disimpan sampai mati. Bagi para pewaris setiap apa yang mereka warisi tidak dilihat sebagai “tradisi”. Tradisi yang diterima akan menjadi unsur yang hidup di dalam kehidupan para pendukungnya. Ia menjadi bagian dari masa lalu yang dipertahankan sampai sekarang dan mempunyai kedudukan yang sama dengan inovasi-inovasi baru. Menurut arti yang lengkap, tradisi adalah keseluruhan benda material dan gagasan yang berasal dari lalu namun benar – benar masih ada di masa sekarang ini, belum dihancurkan, dirusak, dibuang  atau dilupakan. Tradisi berarti segala sesuatu yang disalurkan atau diwariskan dari masa lalu ke masa sekarang ini.[1]

Dalam antropologi budaya, dikenal macam-macam suku dan budaya dan berbagai daerah. salah satu dan suku tersebut adalah Dou Mbojo (orang Bima) yang memiliki budaya upacara adat Hanta Ua Pua yang telah digelar secara turun temurun pada masa lalu. Terutama pada masa-masa keemasan dan kejayaan Kesultanan Bima yaitu masa kepemimpinan Sultan Abdul Khair Sirajuddin (1640-1682). Upacara adat yang erat kaitannya dengan sejarah masuknya agama Islam di Tanah Bima ini telah menjadi rutinitas masyarakat Bima sejak tahu 1650 – 1951. Hanta Ua Pua dilaksankan setiap tahun pada bulan Rabiul Awal bertepatan dengan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Hanta Ua Pua dalam bahasa Bima, Hanta yang berarti angkat atau mengangkat, Ua Pua yang berarti sirih puan atau tempat penyimpanan sirih. Jadi Hanta Ua Pua adalah mengangkat seperangkat tempat penyimpanan sirih yang dihiasi dengan satu rumpun tangkai hunga telur berwarna warni dan dimasukkan ke dalam satu wadah segi empat.

Menurut Hasan Ibrahim, seorang tokoh adat Melayu yang semasa hidupnya memegang jabatan Penghulu Melayu dalam lembaga Sara Hukum Majelis Adat Dana Mbojo. Kata Ua Pua berasal dan bahasa Melayu Sirih Puan, Arti Etimologis (Denotasi) kata tersebut adalah wadah untuk menyimpan sirih. Arti terminotogis (konotasi) kata Ua Pua adalah rangkaian upacara adat untuk memeriahkan Hari Maulid Nabi Besar Muhammad SAW, yang dilaksanakan selama sajuma’a (sejuma’at / sepekan) pada Wura Molu (bulan Maulud / Rabiul Awal). Puncak dari upacara Ua Pua ditandai dengan penyerahan Ua Pua yang berisi sebuah Kitab suci Al-Qur’an oleh penghulu Melayu kepada sultan yang berlangsung pada pagi hari tanggal 12 Rabiul Awal bertempat di Istana Bima. Upacara tersebut merupakan simbol kesepakatan ulama dan Sultan bersama seluruh Rakyat untuk menjujung tinggi (mencintai kitab suci Al-Qur’an). D engan kata lain Al-Qur’an akan dijadikan sumber hukum serta pedoman dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat disamping “Sunnah Rasul” dan “ljtihad para Ulama”.[2]

Dalam upacara adat Hanta Ua Pua, daun sirih dijadikan juga sebagai simbol budaya dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam adat istiadat Kesultanan Bima pada masanya. Hal ini tergambar ketika berlangsungnya musyawarah untuk pelaksanaan upacara adat Hanta Ua Pua. Dalam kegiatan musyawarah itu para tamu dan tetua adat di jamu dengan daun sirih.

            Penggunaan sirih dalam budaya Bima bukan hanya dalam upacara Hanta Ua Pua tetapi juga dipakai dalarn upacara menyambut tamu, dan upacara meminang. Makna lain dari daun sirih adalah sebagai simbol penghormatan pada tamu. sebagal simbol perdamaian dan kehangatan sosial, dan sebagai  media komunikasi sosial. Selebihnya dimakan oleh masyarakat yang dipercaya khasiatnya dapat menguatkan gigi.


[1] Piotr Sztompka, Sosiologi Perubahan Sosial (Jakarta: Prenada, 2007), h.69

[2] Ruslan Muhammad atau alan malingi, Upacara adat Hanta Ua Pua, h. 22-23