Plularisme berasal dari dua kata yaitu plural (beragam) dan Isme (paham) yang berarti beragam atas paham.

yang menurut bahasa latin berarti tolerantia yang memiliki makna kelonggaran, kelembutan hati, keringanan dan kesababaran. Dalam bahasa inggris tolerance berarti membiarkan, mengakui dan menghormati keyakinan oranglain, dan dalam bahasa arab toleransi merujuk pada kata tasamuh yang berarti saling mengizinkan atau saling memudahkan. Berdasarkan pengertian toleransi diatas, pengertian toleransi dapat di sederhanakan menjadi sikap saling menghormati dan menghargai antar kelompok maupun individu untuk menjalankan keyakin dan aktivitas lainnya. Toleransi bertujuan membangun hidup damai ditengah perbedaan seperti yang dikatakan Michel Waler.

Di Indonesia, makna toleransi lebih banyak direduksi menjadi isu-isu keagamaan seperti ketika ada ritual peribadatan, maka pemeluk agama lain harus menghargai dengan cara tidak mengganggu atau bahkan membantu berlangsungnya ritual keagamaan tersebut. Ketika hari raya nyepi misalnya, umat beragama selain umat hindu harus membantu berlangsungnya ritual tersebut dengan tidak beraktivitas keluar rumah atau aktivitas yang berlebihan yang mengganggu kekhusyuan umat hindu melaksanakan ritual nyepi tersebut. Saat umat islam menjalankan ibadah shaum maka warung-warung makan dengan sikap toleransinya menutup jendela-jendela mereka dengan tirai agar tidak mengganggu orang yang sedang berpuasa.

Sedangkan ketika berbicara toleransi, banyak hal yang beririsan dalam aktivitas sehari-hari. Ketika di dalam kelas, kita membiarkan rekan yang memiliki keterbatasan penglihatan untuk memilih kursi di barisan paling depan, itu termasuk toleransi tanpa mereduksi makna toleransi itu sendiri. 

Makna yang tereduksi ini membuat umat islam terjebak dalam apology dimana sebagian umat islam mentoleransikan keimananya dengan agama lain dengan alasan toleransi seperti yang terjadi di Bogor seorang muslimah bernama Rami Kinara menyanyikan lagu di sebuah gereja dan dipuji oleh banyak orang. Seperti kita tahu dalam teks perjanjian Fathul Makkah sikap toleran sudah di laksanakan oleh umat islam, namun ketika kaitannya dengan keimanan Rasulullah dengan tegas menyampaikan wahyu  Q.S Al-Kafirun Lakum dinukum waliya din, bagimu agamamu dan bagiku agamaku.

Iman bersifat final artinya keimanan seseorang hanya satu meskipun ada proses perpindahan keyakinan, keyakinan yang di pegang hanya satu tidak bisa dalam satu waktu iman kita kepada apa yang kita yakini, beriman pula pada keyakinan orang lain. Dalam hal keimanan seharusnya tidak ada yang perlu di toleransikan. Namun dewasa ini muncul sekelompok orang bahkan terbit beberapa buku yang mengulas tentang toleransi iman yang mana kata kafir untuk sebutan non muslim tidak lagi relevan karena dianggap sebagai satu kata yang kasar dan dikotomis inferior. Seperti yang dikutip dari buku “islam tuhan islam manusia” karya Haidar Bagir pada sesi wawancara, dalam tulisan itu ketika beliau ditanya tentang status dirinya sebagai sunni atau syiah beliau menjawab bahwa dirinya tidak ada di posisi manapun karena jangankan sunni-syiah, orang non muslim pun yang tidak kafir atau tetap melaksanakan kebaikan akan mendapat tempat di surga kelak. Kemudian dalam buku karya Mohammad Hassan Khalil yang berjudul ”Islam dan Keselamatan Pemeluk Agama Lain” memaparkan toleransi iman yang lebih ekstrem lagi. Menurutnya agama-agama di dunia pada hakikatnya menuju tuhan yang sama, artinya tidak ada istilah agama yang sesat atau menyimpang karena semuanya bermuara pada tuhan yang sama. Ibaratkan roda, poros roda dianalogikannya sebagai tuhan dan jari-jari roda dianggapnya sebagai agama-agama yang berporos pada roda. Intinya tidak ada agama yang salah, kita harus bertoleransi atau makna yang lebih tepatnya pluralis terhadap iman agama lain.¬

Efek domino dari pluralisasi agama adalah pencampuradukan keimanan seseorang seperti yang terjadi pada contoh diatas, terkurasnya rasa percaya terhadap agamanya sendiri dan lebih jauhnya umat islam yang juga melaksanakan ibadah agama lain.

Pluralisasi agama mudah kita jumpai di acara-acara televisi saat ini dan juga buku-buku yang mengkampanyekan pluralisme agama sudah banyak tersedia di toko-toko buku dengan alasan humanisme, kasih sayang dan keadilan, masyarakat digiring untuk bermindset plural. Korban pluralisme agama ini adalah orang-orang yang masih memiliki kekacawan kerangka berfikir atau worldview sehingga sesuatu yang dianggap logis dan terlihat benar akan mudah di percaya dan di ikuti.