Sedikit sulit memang apabila kita mencari konsep pendidikan lingkar tiga, yang kita temukan hanya tentang teori tentang lingkaran itu sendiri. Kecuali kita menggantinya dengan The third circle of education maka kita akan menemukan jurnal internasional yang membahas tentang itu, salah satunya adalah jurnal karangan jerry farber seorang Department of English and Comparative Literature, San Diego State University, San Diego dengan judul THE THIRD CIRCLE: on Education and Distance Learning.

Pendidikan lingkar ketiga memang sebuah istilah baru dalam dunia pendidikan di Indonesia yang mulai di gaungkan oleh Kemendikbud beberapa tahun lalu. Namun sayangnya konsep ini kurang lah tersosialisasi dengan cukup baik, sehingga masih sedikit terdengar asing bagi masyarakat Indonesia. Pendidikan ini mencoba menggabungkan antara pendidikan formal, informal dan non formal, atau selama ini lebih dikenal denga jalur pendidikan.

Pendidikan formal adalah pendidikan yang ditempuh di sekolah seperti SD, SMP dan SMA serta kampus. Pendidikan non formal adalah pendidikan  yang di selenggarakan oleh lingkungan seperti majlis ta’lim, les, privat dsb. Pendidikan informal adalah pendidikan lingkungan yang tidak ada sistematika yang baku seperti tempat, waktu, biaya dsb. Ketiga bentuk pendidikan ini lah yang coba di padukan oleh kemendikbud dengan harapan agar terdapat perubahan kualitas pelajar di Indonesia.

Kita tidak bisa hanya mengandalkan sekolah dan keluarga saja untuk menjaga para pelajar ini, karena justru peran lingkungan sekitar lah yang banyak mempengaruhi sikap dari para pelajar ini. Jika lingkungan yang diciptakan oleh masyarakat mendukung untuk para pelajar menjadi pribadi yang baik, maka pelajar ini akan menjadi baik akan tetapi sebaliknya jika lingkungannya kurang baik, maka kemungkinan pelajar tersebut menjadi anak-anak yang kurang baik terbuka cukup lebar.

Pelajar Islam Indonesia sebagai organisasi yang fokus pada pendidikan dan kebudayaan, memiliki peran penting dalam menjalankan konsep pendidikan lingkar tiga. Dimanakah peran itu? Peran itu bisa di lihat bahwasanya PII setidaknya mengisi dua ruang yaitu di pendidikan non formal dan pendidikan informal. PII sebagai wadah pelajar menjadi sebuah lembaga yang memerankan peran pendidikan non formal dengan cara training dan kepengurusan. Dari sisi pendidikan informal PII melalui para kadernya mencoba menjadi juru dakwah pelajar di lingkungannya masing-masing, nilai-nilai yang di tanamkan di PII nyatanya mampu menjaga para anggotanya untuk tidak melakukan hal-hal yang melawan hukum seperti tawuran, narkoba dsb.

Pengaplikasian pendidikan lingkar ketiga menjadi salah satu solusi yang ditawarkan oleh PII terkait permasalahan-permasalahan pelajar saat ini. Selama ini pelajar hanya terjaga ketika ia berada di sekolah dan juga di rumah, namun kurang bisa terjaga ketika ia berada pada di luar dari dua buah institusi tersebut.  Ini lah yang membuat banyak pelajar terkesan bebas hingga kebablasan dalam bergaul, karena tidak ada yang menjaga ini. Peran organisasi pelajar seperti PII menjadi penting sehingga harus di rangkul dalam upaya mensukseskan konsep pendidikan lingkar ketiga tersebut. Meskipun demikian juga jangan sembarangan memilih organisasi atau kelompok belajar dalam rangka hal tersebut. Sebagai organisasi Pelajar tertua yang di Indonesia, PII secara nyata telah memberikan sumbangsihnya dalam mencetak para pemimpin bangsa ini, sebut saja Muhadjir Effendi yang saat ini menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Sehingga sudah semestinya tidak menjadi sebuah pertanyaan dan keraguan kembali ketika memang peran pendidikan non formal dan informal ini di ambil oleh PII.

PII sebagai sebuah wadah pelajar juga harus terus membenahi dirinya agar menjadi wadah yang bisa menampung tugas berat ini. Perubahan-perubahan yang signifikan harus terus dilakukan agar tugas berat ini bisa di laksanakan dengan baik oleh seluruh kader PII. Jikalau PII bertahan hanya pada hal yang itu-itu saja dan tidak mau melakukan perubahan, tugas berat sebagai salah satu komponen penting dalam konsep pendidikan lingkar ketiga ini nampaknya hanya menambah permasalah dan bukan menjadi solusi dari permasalahan pelajar.

Sudah bukan waktunya kita saling mengandalkan satu sama lain, jika memang kita ingin pendidikan di Indonesia berkembang seperti di finlandia. Indonesia memang tidak bisa meniru Finlandia secara keseluruhan, namun Indonesia bisa menjadi negara yang mengalahkan Finlandia jika segenap masyarakatnya saling membantu dalam bidang pendidikan.