Semua penelitian tentang Pelajar Islam Indonesia (PII) pasti semuanya berkaitan dengan jaman Orde Lama dan Orde Baru (penolakan asas tunggal, pergolakan dengan PKI, pergolakan agresi militer Belanda 1947/1948). Bagi para peneliti itu terlihat seksi karena PII cenderung memperlihatkan sikap resistensi. Bagi para alumninya pun sangat kental sekali ketika bercerita tentang PII di kala itu dengan suasana pergerakan di bawah tanah (underground). Hingga akhirnya PII menerima asas tunggal pada tahun 1995, padahal 1998 orde baru tumbang. Terbitlah era reformasi dengan segala keterbukaanya, tumbang pula asas tunggal.

Kala itu PII tahu siapa yang harus dilawan dan mengapa harus melawan.

Ada hal yang mengusik pikiranku…

PII sudah melewati 2 dekade pasca reformasi 1998. Kondisi sosial, budaya, politik dan keadaan pun sangat berbeda dengan era ORLA dan ORBA.

Kalo alumni PII yang mengalami orde lama ataupun orde baru pasti bisa bercerita tentang kondisi PII kala itu dan apa yang mereka alami.

Entah dengan anak-anak PII sekarang bila bercerita kondisi PII dan yang mereka alami.

Saya jadi teringat apa yang dituliskan ust. Salim A. Fillah “aku hidup di zaman Himpunan Mahasiswa Islam dibredel oleh desakanĀ  CGMI dan GMNI, lalu kami anak-anak PII bahkan yang belum baligh turun ke jalan, langkahi dulu mayat kami kalo mau membubarkan HMI !!”

Dan saya juga belum menemukan penelitian PII pasca reformasi atau dua dekade terakhir.

Mungkin PII pasca reformasi tidak terlihat seksi lagi.