Pembinaan dan pemberdayaan sangat erat sekali di dunia organisasi. Bahkan di PII mengaharuskan ada bidang tersendiri yaitu Pembinaan dan Pemberdayaan Organisasi (PPO). Sesungguhnya kalau kita amati ada sistem pendidikan yang dibangun dalam sistem kaderisasi ta’dib, yaitu pendidikan berbasis pembinaan dan pemberdayaan. Dalam sistem pendidikan nasional cenderung peserta didik itu menjadi objek dari pendidikan. Walaupun telah dikembangkan dalam kurikulum pendidikan sekarang harus menjadikan siswa sebagai subjek pendidikan juga. Maka sudah mulai digeser dari teacher centered menjadi student centered, nyatanya ditataran gressroot masih terjadi teacher centered. Guru menjadi pusat segalanya, menjadi sumber belajar utama, dan lebih cenderung menjauhkan pada realita.

Paulo Freire kala itu sangat mengkritisi pendidikan yang diterapkan di negeranya, Brazil. Menurut Paulo Feire pendidikan kala itu seperti bank, peserta didik seperti layaknya celengan (tempat menyimpan uang) yang kosong dan gurulah yang mengisinya. Artinya semuanya bersumber pada guru itu dan akhirnya mengekalkan proses penindasan, bisa dikatakan pendidikan menjadi alat penindasan. Pendidikan haruslah menumbuhkan kesadaran (consciuosness). Hingga akhirnya Paulo Freire mencetuskan pendidikan hadap masalah (problem posing education).

Sebelum lebih jauh tentang pendidikan berbasis pembinaan dan pemberdayaan. Saya kira kita perlu mengetahui kondisi PII hari ini. Jika kita telah melihat kondisi PII hari ini, maka kita harus melihat bagaimana sistem yang dibangun oleh PII. Berikut yang data PII yang dihimpun oleh Departemen Pembinaan dan Pemberdayaan Wilayah dari bulan Maret – Mei 2019 :       

 

 

 

 

 

Sayangnya belum ada data sebelum itu sehingga seharusnya bisa dikomparasikan, apakah mengalami kenaikan atau penurunan. Untuk melihat lebih dalam mengapa PII secara struktural seperti itu kita tidak bisa hanya berpikir secara secara struktural saja, tapi harus berpikir secara sistem, bagaimana sistem yang diterapkan oleh PII. Berbicara sistem, yang bisa kita baca yaitu sistem kaderisasi ta’dib. Begitu juga ketika berbicara tentang ta’dib,  kita harus berpikir holistik berpikir sebagai sistem kaderisasi dan harus berpikir secara proses strukturalnya. Karena sesungguhnya implementasi sistem kaderisasi ta’dib harus ditopang sejalan dengan struktural yang mapan.

Kalau melihat data di atas, yang saya resahkan ternyata hari ini PII lemah dalam pembasisan. Pengurus Komisariat sebagai tataran eselon paling bawah seharusnya menjadi pembasisan yang mengakar. Kalau kita perkirakan dari 192 PK berarti dari 153 PD hanya ada 1 PK yang dimiliki oleh setiap PD, atau bahkan PD hari ini tidak mempunyai PK. Saya berpikir ada hal yang tidak sinkron dengan implementasi sistem kaderisasi ta’dib. Jika hari ini PII tidak mempunyai pembasisan yang mengakar, ada sistem kaderisasi ta’dib yang tidak berjalan. Kita harus jujur bahwa implementasi sistem kaderisasi ta’dib belum secara maksimal.

Mengapa ranah PPO berbicara sistem kaderisasi ? Karena dari data tersebut apa yang dilakukan oleh PPO tidak bisa lepas dari sistem kaderisasi yang dibangun oleh PII. Saya pribadipun berusaha mencari hal apa yang menyebabkan PII hari ini tidak kuat lagi di ranah pembasisan, saya tidak menemukan akarnya, baru ketika berpikir sistem kaderisasi ta’dib ada hal yang tidak berjalan sehingga PII hari ini lemah pembasisan yang mengakar. Kembali ke awal tadi ketika berbica struktural kita harus berbicara sistem kaderisasi ta’dib, begitu pula ketika kita berbica sistem kaderisasi ta’dib kita harus berbicara secara srtuktural. Karena pada dasarnya struktural merupakan suprastruktur untuk menjalankan sistem kaderisasi ta’dib. Jika salah satu suprastruktur tidak ada maka akan ada kepincangan dalam implementasi sistem kaderisasi ta’dib.

Hari ini jika kita berbicara sistem kaderisasi ta’dib pasti kita akan condong berbicara training. Padahal kita harus holistik melihat sistem kaderisasi ta’dib. Tiga perangkat sistem ta’dib (training, ta’lim, dan kursus) itu saling berkesinambungan saling membangun sistem kaderisasi (triangle system). Ketiganya harus saling beriringan dalam implementasinya begitu juga suprastrukturnya harus memadai. Sistem kaderisasi ta’dib membentuk dua jenis kader fungsional, yaitu kader fungsional struktural dan kader fungsional kaderisasi.

Kader fungsional struktural ini berdasarkan jenjang kaderisasinya. Dalam AD dan ART Pengurus Komisariat (PK) adalah anggota muda dan anggota biasa  (kader pra batra dan batra), Pengurus Daerah (PD) adalah anggota biasa yang telah mengikuti Intra, Pengurus Wilayah (PW) adalah anggota biasa yag telah mengikuti Advantra, dan Pengurus Besar (PB) adalah anggota biasa yang telah mengikuti Advantra. Jika melihat jenjang training maka kader PII hanya mempunyai fungsional struktural, artinya mempunyai fungsi menjalankan aktifitas organisasi secara struktural, terhadap sistem kaderisasi ta’dib hanya sebagai penyelenggara. Penyelenggara sistem kaderisasi ta’dib dalam artian menjadi panitia penyelenggara. Dalam bagan implementasi sistem kaderisasi ta’dib, misal : penyelenggaran kursus pra batra diselenggarakan oleh Pengurus Komisariat, Batra diselenggarakan oleh Pengurus Daerah (PD), begitu terus sampai ke atas. Begitu juga dengan implementasi ta’lim yang nootebenya sebagai wadah pembinaan (dalam artian pembinaan di sini lebih ke arah leading), penyelenggaraannya sesuai dengan tingkatannya ( ta’lim awal diselnggarakan oleh PD, ta’lim wustho diselenggarakan oleh PD, ta’lim ali diselenggarakan oleh PW/PB. Penyelenggaraan kursus juga begitu, hal yang perlu digarisbawahi bahwa dalam fase kursus ini merupakan fase mempersiapkan kader menjadi pemberdaya. Bisa dikatakan kursus merupakan fase pemberdayaan (empowerment).

Kader fungsional kaderisasi merupakan suprastruktur sistem kaderisasi ta’dib atau kader yang mempunyai peran menjalankan sistem kaderisasi ta’dib (dalam artian sebagai pengelola). Kader fungsional kaderisasi dalam hal ini merupakan corp mu’adib (pemandu, mu’alim, dan instruktur). Jika dilihat dari jenjang kaderisasi maka kader fungsional merupakan kader yang telah mengikuti kursus. Namun, seorang kader yang telah mengikuti kursus pra batra dan kursus pasca batra belum mempunyai fungsional kaderisasi (baik yang sudah mengikuti ta’lim awal dan kursus pasca batra) dalam hal ini masih dalam fase pembinaan (leading), belum sampai dalam tahapan pemberdayaan (empowerment).

Berfikir Sistem dan Holistik

                Pada akhirnya kita tidak bisa berpikir secara terpisah terkait pembinaan (leading) dan pembinaan (empowerment), sistem kaderisasi ta’dib, maupun pemahaman tentang konstitusi. Semuanya saling menopang membentuk satu kesatuan sistem yang berkesinambungan. Maka kita harus berani bertanya why  (mengapa) untuk mendalami realita yang terjadi, apakah semuanya berjalan sesuai idealita yang seharusnya. Untuk mencari kebocoran sistem, maka kita harus berpikir secara sistem. Dalam pola yang dibangun oleh sistem kaderisasi ta’dib yaitu membentuk pola rantai (chain cycle) atau mirip seperti sistem rantai makanan (chain food) pada makhluk hidup. Jika salah satu mata rantai tidak kuat, maka rantai itu akan putus atau ketika salah satu rantai makanan tidak ada yang terjadi ketidakseimbangan (imbalance). Begitu pula sistem kaderisasi diterapkan untuk membangun keseimbangan (balance) pola pembinaan (leading) dan pemberdayaan (empowerment) sehingga membangun budaya organisasi yang mapan.

Maka sesungguhnya yang harus kita lakukan sebelum reformulasi ta’dib yaitu reimplementasi ta’dib secara terstruktur, sistematis, dan masif. Jika kita ingin mengevaluasi ta’dib, maka yang harus dievaluasi terlebih dahulu adalah implementasinya. Bagaimana intensitas penyelenggaraan tiga perangkat (training, ta’lim, kursus), seberapa memadai suprastruktur ta’dib (corp mu’adib : instruktur, pemandu, & mu’alim), bagaimana output kader yang dihasilkan. Komitmen dibangun dari tataran paling bawah, seperti halnya pohon ditanam dari biji, di situ ada proses menanam, memupuk, mengekalkan, serta mengembangkan. Semoga secarik tulisan ini dapat membangkitkan hal lain yang membangun.

*Salah satu tulisan dalam buku Titik Sempurna “Pelajar Berkeadaban dan Berkeadilan : Saatnya Pelajar Bicara” persembahan HARBA Ke-72 PII