Sebagai seorang anak bangsa ini pasti merasa kehilangan seorang sosok inspirator bangsa. Tulisan ini saya tulis untuk mengenang sang inspirator bangsa “BJ. Habibie”. Dahulu ketika guru bertanya kepada kita “apa cita-cita besok kalau sudah besar ?”. Spontan teman saya menjawab “ingin menjadi seorang pilot”. Kadang bagi seseorang impian di waktu kecil itu hanya sebatas di bibir saja. Namun, bagi yang lain mungkin menjadi sebuah letupan yang luar biasa sehingga di hari ini mungkin mendapatkan apa yang dia impikan dahulu.

Sepintas ketika berbica tentang pesawat pasti seorang guru kala itu mengenalkan sosok seorang “BJ. Habibie”. Bagi saya yang waktu kecil hidup di desa pasti sangat gumun melihat pesawat terbang kala itu, kadangkala berteriak “pesawat minta uangnya” dengan harapan akan ada koper isi uang yang turun dari langit. Akhirnya seorang BJ. Habibie kita mengenalnya sebagai seorang yang membuat pesawat.

Hal itu seakan BJ. Habibie menumbuhkan sayap-sayap terbang impian kita. Walaupun BJ. Habibie sudah jauh di sana, bagi saya sayap yang beliau bangun terus membawa bangsa ini terbang menuju masa depan yang gemilang. Tentunya masing-masing kita ada kesan tersendiri bagi sosok seorang BJ. Habibie.

Sangat rame bahkan trending di sosial media tentang qoute dari BJ. Habibie. Yang membuat saya menulis ini adalah sebuah pernyataan beliau “ Dulu saya takut sekali mati, tapi sekarang tidak karena yang pertama menemui saya adalah Ainun”. Ketika saya menemukan tulisan itu saya teringat frasa terkenal dari sebuah serial tv “Game of Thrones”. Valar Morghulis dan Valar Dohaeris, frasa tersebut dari bahasa fiktif High Valyrian. Valar Morghulis mempunyai arti “all men must die” yang mempunyai makna semua orang akan mati atau tidak ada yang hidup abadi. Sedangkan Valar Dohaeris mempunyai arti “all men must be serve” yang mempunyai makna mau mengabdi sebagai apa atau mau dikenang sebagai apa.

 

Kedua frasa tersebut seperti kata sapaan di mana seseorang mengucapkan Valar Morghulis maka dijawab dengan Valar Dohaeris. Walaupun dari bahasa fiktif kedua frase tersebut sangat berkaitan dengan kehidupan seorang BJ. Habibie. Pernyataan beliau di atas bukan hanya mengajarkan kita tentang maybe, its true love tapi hal apa saja yang kita lakukan sebelum kita bertemu dengan kematian. Sehingga setelah kematian kita dikenang karena apa yang kita buat. Tentunya harapan kita adalah hal baik yang kita perbuat, bukan banyak hal buruk yang kita lakukan.

Kita tidak ingin seperti Prince Oberyn yang mengatakan “hari ini bukan hari kematianku” di hari kematiannya. Hari kematian kita, kita tidak tahu. Hari ini berbuat baik apa kita bisa lakukan.

Semoga apa yang dilakukan BJ. Habibie menjadi amalan di alam sana dan kita yang masih diberi kesempatan di dunia mengambil teladannya. Lahul fatihah…