Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
AR-SA

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:Arial;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Islam membekalkan kepada manusia  tidak hanya persoalan tata cara peribadatan tetapi juga pandangan-pandangan (Views) dasar. Islamic Wordview ialah sebuah pandangan yang dijadikan paradigma oleh setiap umat muslim dalam melihat dan menilai persoalan yang ada.  Sebelum kita sampai pada pembahasan inti mengenai Isamic worldview maka kita mesti mengetahui definisi dari Islamic Worldview itu sendiri.  Abdul a’la Al-Maududi mendefinisikan Worldview sebagai Islam Nazariyat, bahwa pandangan hidup itu di mulai dari ke-Esa-an Tuhan/Tauhid, yang berimplikasi pada seluruh kegiatan kehidupan manusia. Sebab Tauhid merupakan pernyataan moral yang mendorong manusia untuk menjalankanya  dalam kehidupan nyata.[1]

Berbeda dengan Syeikh Atif Al-zayn, beliau menggunakan istilah mabda’ al-Islami untuk menyatakan Islamic Worldview, meskipun demikian maknanya tidak jauh berbeda dengan al-Maududi, yaitu kepercayaan yang berlandaskan pada akal atau cara berpikir, yang dari padanya lahir peraturan atau sistem (nizham). Ini berati bahwa keberimanan dalam islam adalah sesuatu yang telah melalui proses berpikir, dan memang seharusnya seperti itu.

Namun disini Syeikh Naquib al-Attas mengartikan Islamic Worldview sebagai cara pandang atas realitas atau wujud. Secara definitif maknanya adalah pandangan alam tentang realitas dan kebenaran yang nampak oleh mata hati kita.

Dari pengertian diatas yang pada intinya adalah setiap muslim harus menjadikan islam sebagai  dasar dalam mengambil keputusan dan memandang sesuatu. Islam harus menjadi tolok ukur, karena islam sendiri adalah agama yang kaffah yang mengatur segala urusan umat manusia.

Islamic worldview itu sendiri mencakup antara lain ialah aqidah, syariat, akhlak, dan mua’malah. Ke-empat ini adalah dasar dalam berkehidupan bagi umat islam. Agar tidak terjerumus pada kesalahan berkehidupan. 

Di samping islam sebagai agama yang kaffah mengatur seluruh seluk-beluk kehidupan umat manusia. Ada tantangan tersendiri dalam proses penerapan syariah islam secara kaffah itu, yaitu isme-isme barat sekularisme, liberalisme, dan kapitalisme.

Joesdi Ghozali dalam bukunya “Islam dan Dunia Modern” telah menulis kekhawatirannya atas kebudayaan barat ini. Karena dampak yang di timbul dari kebudayaan barat ini adalah dekadensi moral dan akhlak. Ini berbanding terbalik dengan dengan islam, islam mengutamakan moralitas dan akhlak dalam menjalani kehidupan.


[1] Dedy Irawan, “Worldview Islam dan Barat: Studi Komparatif”, http://nurulhuda.uns.ac.id/wp-content/uploads/2018/01/Dedi-Irawan.pdf