Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
AR-SA

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:Arial;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Puluhan tahun lalu Joesdi Ghozali menulis di dalam bukunya “Islam dan Dunia Modern” tentang kekhawatirannya terhadap arus kebudayaan barat. Ini disebabkan karena kebudayaan barat yang menyebar melalui proses globalisasi membawa isme-isme yang banyak bertentangan dengan islam. Misalnya, Sekularism, Liberalism, Permissivenes, dan Hedonism.

Abad yang kita alami saat ini adalah abad yang lebih modern dari apa yang di alami oleh Joesdi Ghozali, jika pada masa dia isme yang berbahaya bagi generasi muda muslim adalah permissiveness. Maka saat ini bukan hanya permissiveness, tetapi ada banyak isme-isme lainnya, seperti yang telah disebutkan diatas.

Dengan kemajuan teknologi modern maka hubungan antar Negara menjadi lebih dekat dan erat, karena adanya alat-alat telekomunikasi canggih dan alat transportasi internasional. Diatas itu adalah salah satu dari sekian banyak dampak globalisasi terhadap dunia islam. Dengan semakin mudanhya koneksi antar belahan dunia, manusia dengan manusia lainnya dapat saling mempengaruhi atau dipengaruhi. Cara hidup dan cara berpikir masyarakat di belahan dunia lain akan mudah ditiru oleh masyarakat dibelahan dunia lainnya. Tanpa memperhatikan dampaknya secara serius.

Dan tampaknya di dalam banyak literatur, seperti di dalam buku “Islam dan Dunia Modern” karya Joesdi Ghozali, atau buku Ja’far Puteh “Dakwah di Era Globalisasi”, dan buku “Sejarah dan Kebudayaan Islam Periode Klasik”, islam adalah korban merugi dari proses globalisasi ini. Dimana terjadi dekadensi moral dan akhlak yang amat tajam. Karena arus new Morality telah merasuk ke dalam kehidupan kaum muda islam. Hal ini telah melanda seluruh dunia terutama Negara berkembang.

Upaya untuk membendung dan menyingkirkan dampak negatif dari globalisasi modern hanya dapat dilakukan dengan cara menerapkkan syari’ah secara sempurna. Di dalam buku Ismail Yusanto “Penerapan Syari’ah Islam di Indonesia: Tantangan dan Agenda”, ia menyatakan bahwa sekularisme yang notabene disebarluaskan melalui proses globalisasi adalah penghambat utama dalam melakukan penerapan syari’ah secara sempurna. Dan di samping itu secara bersamaan islam merupakan solusi kemunduran islam yang disebabkan oleh budaya barat itu.

Perkembangan teknologi membawa perubahan yang fundamental dalam berbagai aspek kehidupan manusia khususnya umat islam, mulai dari cara berpikir, bersikap, sampai cara bernegara.

Upaya untuk meng-oksidentalisme-kan kehidupan diluar barat sangat jelas terlihat. Salah satu contohnya adalah melepas dan memakai pakaian yang sesuai islam di anggap sebagai kebebasan dan hak individu, serta menuntut kesetaraan perempuan dan laki-laki atau contoh yang lebih luas lagi dan urgen adalah system pemerintahan yang berkiblat pada barat. Jika peniruan budaya barat itu tidak bersifat  mendasar, seperti halnya makanan dan mesin, tidak terlalu bermasalah karena tidak bertentangan dengan nilai-nilai islam. Tapi jika sudah menyentuh nilai-nilai islam, maka itulah yang harus di tolak.

Kalau umat islam terus menerus bercermin pada barat. Bagaimana kita akan meraih Izzul Islam Wal Muslimin yang di cita-citakan selama ini?