Pendidikan merupakan aset penting bagi kemajuan Indonesia. setiap warga negara Indonesia diwajibkan mengikuti jenjang pendidikan baik jenjang pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, maupun pendidikan tinggi. hak dalam pendidikan setiap warga negara Indonesia telah dijamin undang-undang. Namun fakta dat di menujukan bahwa penyelengaraan pendidikan di Indonesia belum optimal. Misalnya, fakta anak putus sekolah di Indonesia.[[1]] Pendidikan adalah proses mengubah sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan, proses, perbuatan, dan cara mendidik.[[2]]

Menurut Ki Hajar Dewan Tara pendidikan adalah tuntutunan didalam hidup tumbuhnya anak-anak, adapun maksudnya, pendidikan yaitu menuntut segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik mealalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang.[[3]] Pada intinya, konsep pendidikan memuat empat hal pokok, yakni tujuan, Kurikulum, Program, dan Evaluasi pendidikan. Pada tulisan ini akan dipaparkan Tujuan dan Kurikulum pendidikan Berbasis Adab, berbijak pada konsep adab yang dirumuskan oleh Prof. Syed Muhammad Naquid Al-attas.

Meurut Al-attas, ada masalah yang internal yang lebih mendasar, yang harus dipahami dan disadari, agar umat dapat memberikan solusi bagi problematika eksternal tersebut. Hanya dengan menyadari dan mengakui adanya problem internal tersebut, maka umat islam akan menyelesaikan problematika mereka. Penjelasan dari Al-Atsstas itu sangat menarik, sebeb memberikan definisi loss of adab sebagai “hilang disiplin” yakni hilang disiplin badan, pemikiran, dan jiwa. Seorang yang beradap, menurutnya adalah orang yang memaham dan mengakui posisinya yang tepat dengan dirinya sendiri, dengan masyarakat, dan dengan komunitasnya. Ia memahami dan menyikapi dengan betul potensi-potensi fisik, intelektual, dan spiritualnya. Bahwa ilmu pengetahuan dan wujud diatur secara hirarkis.

Ketika manusia tidak paham atau tidak memiliki sikap dan tindakan yang betul terhadap diri dan lingkungannya serta terhadap ilmu pengetahuan dan tatanan wujud, maka manusia itu telah hilang adabnya. “Hilang Adab” ! itulah kerisis yang paling asas yang dialami umat islam. Maka solusinya, tentu saja adalah : “temukan dan terapkan adab dalam kehidupan umat Islam”. Proses penanaman adab dalam diri seseorang itulah yang disebut ta’dib (pendidikan). Jika loss adab itu terjadi pada adab terhadap ilmu akan berdampak serius pada kondisi umat manusia secara keseluruhan. Sebab ilmu, menjadi dasar Naquid Al-Attas menekankan pentingnya memahami tujuan mencari ilmu yang benar.[[4]] Adapun tujuan pendidikan di Indonesia tersendiri adalah berkembangnya potensi Pelajar agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, terampil, kompeten, dan bebudaya untuk kepentingan bangsa.[[5]]  

Masyarakat muslim, memiliki ekspektasi yang sangat besar terhadap keberhasilan dan kemajuan pendidikan islam. Namun, ekspetasi itu belum terealisasi hingga sekarang. Pendidikan Islam telah tertinggal oleh pendidikan Barat sekuler yang telah mempengaruhi hampir semua bentuk pendidikan di dunia ini. Ekspetasi kemajuan pendidikan islam tidak pernah terputus dari mata rantai keinginan masyarakat khususnya para pemikir dan praktis. Namun dalam tataran realitasnya, pendidikan islam belumlah mampu mendiskripsikan ekspetasi yang ideal tersebut karena belum menemukan dan memakai resep atau kunci pembukanya, paling tidak terdapat tiga kunci kemajuan pendidikan Indonesia dengan cara Islam, yaitu:

1.      Epistomologi Pendidikan Islam

Epistomologi adalah teori pengetahuan yaitu membahas tentang bagaimana cara mendapatkan ilmu pengetahuan dari objek yang dipikirkan.[[6]] Adapun Pendapat Dari Abdul Munir, Epistomologi adalah segala macam bentuk aktivitas pemikiran dan pemikiran manusia yang selalu mempertanyakan dari mana asal muasal ilmu pengetahuan itu diperoleh.

2.      Manajemen Pendidikan Islam

Berdasarkan pada wahyu (Al-Quran dan Hadist). Wahyu merupakan ciri utama manajemen pendidikan Islam. Ada banyak pengertian tentang wahyu, akan tetapi yang dimaksudkan disini adalah “kalam Allah” yang disampaikan kepada Nabi Muhammad Saw melalui malaikat Jibril. Kalam tersebut kemudian menjadi Al-Quran dan segala perkataan, perbuatan, dan ketetpan Nabi Muhammad (Hadist). [[7]]

3.      Kesadaran pendidikan

Kesadran akan pendidikan bagi masyarakatnya sendiri. Supaya bisa untuk memajukan perekonomian keluarga dan menjadi suatu aset bagi bangsa Indonesia itu sendiri kedepannya. 

            Ketiga kunci kemajuan pendidikan Islam ini bekerja dan bergerak pada ranah tugasnya masing-masing. Ketiganya berjalan dan berfungsi saling melengkapi. Ketiga kunci ini juga dapat sangat efektif diperaktekkan secara benar dalam kehidupan pendiidkan islam sehari-hari. Pendidikan Islam dapat dibagi tiga: pertama, pendidikan islam yang berbentuk ide-ide, gagasan-gagasan, pemikiran-pemikiran, wawasan-wawasan, konsep dan teori. Kedua, Pendidikan Islam yang berbentuk penyelenggaraan, pelaksanaan atau penerapan secara kelembagaan. Ketiga, pendidikan Islam yang berbentuk perilaku umat Islam dalam meresponsnya. Jika tiga pembagian ini dihubungka dengan tiga kunci yang telah disebutkan tadi, maka akan dapat dilakukan pemetaan sebagai berikut: Epistomologi pendidikan Islam sebagai kunci memajukan ide-ide, gagasan, pemikiran, wawasan, konsep, dan teori, manajemen.[[8]] Maka dengan itu kita sebagai manusia sangat perlu untuk mencapai semua hal itu mengingat akan pentingnya pendidikan.

 

 


[1] Durutol Afifah, Upaya Masyarakat Dalam Menumbuhkan Kesadran Akan Pentingnya Pendidikan Formal 2014

[2] Kamus Besar Bahasa Indonesia

[3] Zonareferensi.para-ahli.com

[4] Dr. Adian Husaini, Pendidikan Islam, Yayasan Pendidikan Islam At-Taqwa Depok 2018

[5] Ibid1

[6] Roziq Syaifudin, Epistomologi Pendidikan Islam Dalam Kacamata Al-Ghazali dan Fazlur Rahman

[7] Ibid21

[8] Prof. Dr. Mujamil Qomar, M.Ag., Strategi Pendidikan Islam, Erlangga 2013